Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 29


__ADS_3

Hellen kembali menghampiri Wisnu.


"lo nggak makan ?"


"Udah Len."


Jawab Wisnu ramah.


"Jangan sampe telat makan lo, nanti lambung lo kambuh, makan nya juga jangan pedes-pedes inti nya jaga kesehatan terus."


Hellen mengoceh sembari menikmati hidangan yang menggugah selera di piring nya.


"Iya, thanks udah perduli."


"No problem, eh ngomong-ngomong Suaminya Mbak Anggun ganteng ya hihihi..."


Wisnu menggeleng.


"Lo ya Hellen, jelalatan muluk mata nya."


Hellen menatap Wisnu.


"Gue kagak buta kali beb, emang nyata nya ntu penganten ganteng, idih lo iri ya pingin gue puji juga."


"Iyain aja lah."


Wisnu mengalah agar perdebatan mereka segera berakhir.


Hellen Ardina adalah mantan kekasih Wisnu yang berdarah Betawi-Sunda, mereka berpacaran saat masih duduk di bangku SMA.


Entahlah bagaimana dulu Wisnu bisa menyukai Hellen, hubungan mereka bertahan cukup lama, kurang lebih 1 tahun lamanya, mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena Wisnu ingin fokus pada cita-cita nya dan Hellen menyetujui nya.


Hellen gadis yang bisa di bilang centil, namun hati nya lembut dan tulus, ia tidak sombong dan sangat suka menolong orang-orang kalangan bawah.


Orang tua nya adalah pemilik warung makan betawi dan memiliki berbagai cabang.


Wisnu yang memang tidak memilih-milih dalam berteman kini bersahabat dengan Hellen.


"Lo kapan kawin beb, kan Mbak lo udah nikah, bebas dong kalo lo ngelangkahin Abang lo yang angkuh itu."


Hellen sangat tidak menyukai Bian karena menurutnya Bian sombong.


"Dia udah kawin kali Len."


"Uhuk...uhuk... Hahh... Serius sama pacar nya itu."


Wisnu bingung menjawab nya.


"Emm.. Gimana ya jawab nya, nanti deh gue ceritain."


Hellen memberi kode 👌🏻, karena mulut nya penuh.


"Rakus lo sumpah."


"Ini rezeky, gue ngamplop gede buat makanan sepiring ini."


"Gue ganti nanti, ngamplop berapa lo."


"50 rebu." Jawab Hellen santai.

__ADS_1


"Wah gede banget ya."


Hellen merapatkan gigi nya.


"Gimana nih karir lo ?"


Tanya Wisnu karena tiba-tiba teringat cita-cita Hellen yang sangat ingin menjadi Dokter Anak.


"Doain aja beb insya Allah selangkah lagi, cuma hidup gue sepi nih, kagak ada doi, cariin dong beb."


"Wah pas banget nih, ada temen gue yang jomblo, nanti gue temuin sama lo."


"Alhamdulillah semoga jodoh."


Wisnu menggeleng, jika sudah bertemu dengan Hellen rasanya tidak ada henti nya obrolan di antara mereka.


Hellen memutuskan pamit karena ada urusan mendadak.


Wisnu tetap duduk di tempat nya semula, tanpa sengaja mata nya menangkap sekumpulan remaja yang seperti nya masih duduk di bangku SMP.


"Aku jadi inget Anak Papah, mungkin udah sebesar mereka, antara usia 12-13 tahun, di mana dia sekarang."


Saat papah nya meninggal Wisnu berumur 12 tahun, ia juga ingat betul Istri kedua Papah nya begitu terpukul, di saat perut nya sudah besar bahkan mungkin waktu nya melahirkan Papah nya meninggal kan mereka.


"Tapi di mana Tante itu sekarang, Tante siapa ya namanya. Kenapa nggak pernah dateng nuntut hak Anak nya." Gumam Wisnu.


🍃🍃🍃


Sudah 2 hari berlalu pernikahan Anggun dan Alfat, Sanak saudara pun sudah beraktifitas normal kembali, termasuk Wisnu dan Bian.


Kemarin Bian datang ke rumah sakit tempat Kinan di rawat namun perawat mengatakan bahwa Kinan sudah tidak ada di saat hari pertama di rawat, Bian bingung harus mencari Kinan kemana, namun ia yakin Kinan baik-baik saja di bawah pengawasan Mamah nya.


Bian menjadi teringat kandungan Kinan yang harus nya jadwal periksa 4 hari lalu, Bian sampai lupa karena terlalu sibuk.


"Lagi pula Kinan kan kabur, biarlah itu juga salah dia." Fikir Bian santai.


Bian mengantar Tasya pulang lalu lanjut menuju kantor nya, Bian langsung di hadapkan dengan meeting selama 2 jam lamanya.


Saat Bian selesai meeting tiba-tiba salah satu pegawai nya memberikan paket berupa sebuah map coklat.


Bian membawa nya masuk lalu membuka nya, Bian membaca nya dengan seksama, Mata Bian merah dan nafas nya berderu.


"Kinan !!!"


Teriak Bian frustasi, Bian menelfon Rafa. Rafa mendatangi ruangan Bian dengan buru-buru.


"Ada apa Tuan?" Tanya Rafa.


Bian melempar map coklat itu lalu duduk meremas rambut nya, Rafa membuka map itu lalu membaca selembar surat sembari sesekali melirik Bian.


"PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN


SURAT GUGATAN CERAI."


"Apa-apaan Kinan!" Bian menggebrak meja nya.


"Mamah pasti tau sesuatu, apa salah saya Fa, sampai Kinan minta cerai."


Rafa diam namun hatinya mengoceh tidak ada henti.

__ADS_1


"Aduh Tuan, masih tanya apa salah anda, anda ini bodoh sekali Tuan, di beri makan apa anda oleh Tasya sampai bisa bodoh nya minta ampun."


Pekik Rafa dalam hati.


"Saya tidak ingin cerai Fa, saya harus cari pengacara terbaik !!"


"Terserah anda Tuan tapi bukti perselingkuhan anda sudah kuat di tangan Kinan, baru 1 bulan punya buku nikah sudah cerai."


Rafa menyeringi tipis.


"Mamah pasti tau sesuatu."


Bian beranjak dari tempat duduk nya.


"Maaf Tuan sudah berhari-hari anda tidak masuk kantor, pekerjaan anda menumpuk untuk saat ini, jika seluruh nya saya dan Safia yang mengerjakan kami sedikit lelah karena selalu lembur Tuan."


Bian kembali duduk saat mendengar protes Rafa.


"Carikan pengacara terbaik Fa, usahakan saya dan Kinan tidak akan cerai."


"Baik Tuan saya undur diri."


Rafa meninggalkan ruangan Bian.


"Mau pengacara sekelas Hotman Paris juga anda akan tetap kalah Tuan."


Gumam Rafa sembari menuju ruangan nya.


Sementara Bian.


"Di Mana Mamah sembuyiin Kinan, sial !!"


"Gue harus ketemu sama Kinan se-enak-enak nya minta cerai."


Mulut Bian tidak berhenti mengoceh.


🍃🍃🍃


Kinan sedang berbincang dengan Anggun, Alfat dan Mertua nya di sebuah Cafe.


"Nanti di sidang pertama ada proses mediasi, siapa tau kamu berubah fikiran." Nasihat Alfat.


"Saya udah bener-bener nggak kuat Mas, Mas Bian itu nggak bisa menghargai Wanita, nggak bisa menghargai kesakralan pernikahan, pernikahan kami di buat main-main, aku juga di sepelekan, aku juga nggak mau ini terjadi, aku nggak mau cerai tapi secara tidak langsung ini adalah keinginan Mas Bian sendiri."


Dengan suara bergetar Kinan menahan tangis nya.


"Siapa sih yang mau rumah tangga nya kandas di tengah jalan, jika boleh jujur dari hati ku yang paling dalam aku nggak mau pisah sama Mas Bian Ayah dari Anak ku, tapi......"


Kinan tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, kini ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan mertua nya.


"Yang sabar Kinan."


Mamah mengusap punggung Kinan, di rasakan nya kini tubuh Kinan sudah mulai ringkih, semakin kurus karena menanggung beban yang begitu berat di pundak nya seorang diri.


Anggun sangat iba melihat keadaan Kinan, kenapa Adik nya begitu bodoh dalam urusan percintaan.


"Astagfirullah Bian..." Anggun mengusap dada nya yang ikut nyeri merasakan kepedihan Kinan.


Alfat mendekap Anggun, tentu ia tahu betapa kecewa nya Istri dan mertua nya kepada Adik ipar nya, Bian.

__ADS_1


__ADS_2