Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 44


__ADS_3

Di tempat lain Wisnu yang sedang berada di pulau Sumatra menerima kabar bahwa Kinan sedang di rawat intensif di Rumah Sakit dari laki-laki yang dulu mengaku telah bersaing dengan nya untuk mendapatkan Kinan.


Wisnu yang sedang menjalankan kewajiban dari perkejaan nya itu tidak bisa menyembunyikan rasa cemas atas apa yang menimpa Kinan, Wisnu duduk di depan Markas Kepolisian daerah, melalui Vidio Call Wisnu meminta Frans menunjukkan kondisi Kinan saat ini.


"Sekarang udah siuman Bang, tenang aja, gua pasti jaga Kinan sama suster yang gua percaya." Frans sudah menunjukkan raut wajah lebih tenang dari pada semalam saat ia menghubungi Wisnu pertama kali.


"Tolong, sekali aja, bentar lagi gua berangkat Frans, kalo misi lancar Insya Allah nanti gua langsung terbang pulang."


Walau Wisnu berbicara dengan datar, tapi Frans tau betapa khawatir nya Wisnu terhadap Kinan, akhirnya Frans mengangguk dan mulai melangkah menuju ruangan Kinan.


Di ruangan nya Kinan yang mulai merasa tubuh nya lebih baik dari kemarin terus saja memikirkan anak nya, betapa rindu nya Kinan saat ini dengan putra kecil nya itu, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan muncul Frans dari balik pintu.


"Gua tinggal ya."


Ucap Frans sembari menaruh sesuatu di dekat tangan Kinan, lalu pergi menuju luar ruangan, Kinan menyipitkan matanya memperhatikan apa yang baru saja Frans beri untuk nya, ternyata Handphone.


"Kinan, gimana keadaan kamu."


"Astaghfirullah." Pekik Kinan, ternyata ada seseorang yang berbicara di Handphone itu.


"Wisnu." Kini Tatapan Wisnu dan Kinan bertemu walau hanya lewat Vidio Call.


"Gimana keadaan kamu." Tanya Wisnu lagi karena belum mendapat jawaban dari Kinan.


"Alhamdulillah aku mulai baik Nu, masih pening sedikit kepala nya."


Wisnu memberi senyum kecil untuk Kinan.


"Maaf ya aku nggak bisa nemenin, semoga kamu cepet pulih, nanti kalo urusan ku udah selesai aku langsung pulang, langsung nemuin kamu juga."


"Istirahat aja dulu jangan repot-repot."


"Nggak, aku mau denger jawaban kamu, atau kamu udah ada jawaban nya sekarang?"


Kinan membulatkan mata nya.


"Ak...aku...aku...."


"Yaudah, nanti kalo aku pulang harus ada jawaban nya."


Kinan mengerutkan kening nya.

__ADS_1


"Emm...Insya Allah." Jawab Kinan singkat, Wisnu tidak menjawab lagi, hanya senyum tipis yang kini terukir di wajah Wisnu.


Tatapan mereka kembali bertemu, Wajah tampan dan teduh Wisnu membuat Kinan terbius, seorang Brigadir muda yang hampir tak pernah memakai seragam kepolisian nya karena tugas yang harus ia emban untuk memberantas kejahatan di masyarakat.


********


Kinan baru saja di periksa oleh Dokter, Dokter yang tak lain adalah Frans mengatakan jika Kinan sudah boleh pulang setelah mereka memberikan vitamin Khusus yang di pesan Mamah untuk Kinan dari Luar Negri, setidak nya siang hari vitamin itu sudah sampai.


Tadi Mamah juga menitip pesan bahwa Kafeel sedikit rewel jadi dia belum bisa menjenguk Kinan, Kinan sama sekali tidak keberatan, ia justru merasa tidak enak sudah merepotkan Mamah terus-menerus.


Kinan menatap cahaya di jendela yang sedikit menyilaukan mata nya, sembari merasakan kehangatan mentari pagi, Kinan kembali memikirkan jawaban untuk Wisnu nanti, Kinan menghela nafas panjang.


"Pantas kah??" Gumam Kinan, hati nya kini menjadi gundah.


Ceklek. Pintu terbuka dan seseorang masuk dengan senyuman tipis khas nya.


"Selamat pagi Bunda nya Kafeel." Ujar pria itu dengan sedikit membungkuk, Kinan rasanya ingin tertawa melihat tingkah nya.


"Secepat ini?." Tanya Kinan heran.


Pria yang tak lain adalah Wisnu itu duduk di kursi tepat di samping ranjang Rumah sakit yang Kinan tempati.


Kinan kembali menatap ke arah jendela, baru saja ia memikirkan nya, dan sekarang harus menjawab.


"Aku nggak pantes, maaf."


Senyum Wisnu hilang seketika mendengar itu.


"Kenapa?" Tanya Wisnu dengan datar, netra mata nya menatap netra Kinan dengan tajam namun sangat jelas, kesedihan menumpuk di sana, bukan kebencian.


Tak berani melihat netra Wisnu, Kinan kembali melihat ke arah jendela lalu memejamkan mata nya.


"Di luar sana ada banyak gadis Nu, meraka berpendidikan, cantik, lebih segala nya dari aku, coba kamu fikirin apa tanggapan keluarga kamu dan publik kalau kamu menikahi aku, aku nggak mau reputasi kamu dan Mamah hancur, cuma Karena aku."


"Yang jalanin kita bukan mereka, dan mereka belum tentu sebaik kamu."


"Aku ini Jan......" Tangan Wisnu kini berasa di atas bibir Kinan, membuat Kinan tidak biasa melanjutkan kata-kata nya.


"Aku cinta sama kamu." Ujar Wisnu lirih.


"Kamu juga kan?" Mata Wisnu kini sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Kinan menyingkirkan tangan Wisnu dari bibir nya, Lalu menggeleng pelan.


"Bohong!!"


Wisnu bangkit, lalu duduk di atas ranjang bersanding dengan Kinan, mendekap Kinan dengan satu tangan nya, dan satu tangan lagi menggenggam tangan Kinan.


"1 Minggu lagi kita Nikah, titik."


Kinan membelalakkan mata nya, menatap tak percaya kepada Wisnu.


"Maksud nya apa, ini bukan main-main!"


"Aku tau." Jawab Wisnu santai.


"Aku nggak bisa." Ujar Kinan dengan sedikit mendorong tubuh Wisnu agar turun dari ranjang.


"Jawab iya atau aku bener-bener pergi, bukan sehari dua hari kita kenal, aku yakin apa yang aku rasain itu yang kamu rasain juga kan, kita udah sama-sama dewasa, tolong jangan main-main lagi Nan, kita bentuk keluarga yang sempurna untuk Kafeel, buat dia tumbuh dalam kasih sayang utuh."


"Kamu mau kan Nikah sama aku?" Tanya Wisnu lagi.


"Apa kamu bisa janji bisa buat aku dan Kafeel bahagia."


"Pasti!! Pasti aku akan buat kalian bahagia." Yakin Wisnu kepada Kinan.


"Buktiin janji kamu." Ucap Kinan pelan.


Wisnu tersenyum bahagia, sembari mengangguk yakin.


...****************...


......................


Beberapa hari setelah kepulangan Kinan, Wisnu meminta keluarga nya berkumpul untuk membahas soal hubungan nya dan Kinan, tak lupa secara khusus Bian juga hadir di sana, Wisnu berlutut, meminta maaf atas segala kesalahan nya kepada Bian dan meminta restu kepada Kakak nya.


Melihat air mata ketulusan adik nya, Bian mulai tersadar, jika memang cinta dan ketulusan Wisnu lebih besar dari yang ia miliki.


"Sebelumnya maafin aku, Wisnu, Mamah, dan semuanya, maafin semua ulah aku, dan sekarang aku sadar, kalau semua yang aku lakuin semua ini konyol, Wisnu, menikahlah dengan Kinan, Mas titip Kinan sama Kafeel ya, jadi Ayah yang jauh lebih baik lagi untuk dia, janji untuk Mas."


Wisnu menatap Bian dengan haru, spontan saja Wisnu memeluk Bian.


"Wisnu janji Mas."

__ADS_1


__ADS_2