Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 18


__ADS_3

"Kamu tau ini."


Wisnu menyerahkan beberapa lembar foto Kinan. Kini dia sudah berada di kantor polisi untuk bertemu dengan Nasywa.


"Iya, ini Kakak Nasywa, Kak Kinan."


Wisnu tersenyum Kemenangan.


"Nasywa mau ikut Mas Wisnu nanti Mas Wisnu bawa ke tempat Kakak Kinan."


Mata Nasywa berbinar.


"Benarkah, iya Nasywa mau."


Wisnu melihat ke arah orang tua angkat Nasywa.


"Biarkan kami merawat nya Pak."


Mama angkat Nasywa kini sudah berlinangan air mata.


Sementara Papa angkat Nasywa mengelus-elus pundak nya mencoba menenangkan.


"Saya sebagai perwakilan Kinan Kakak kandung Nasywa tidak bisa mengabulkan, Maaf dari pendidikan Agama pun sudah berbeda. Kami seorang Muslim.


Kalian juga tidak mengangkat Nasywa menjadi Anak secara hukum, jika saya mau saya bisa mempidanakan kalian."


"Silahkan bawa Nasywa. tapi izinkan kami tetap berkomunikasi dan menemui nya."


"Papa !!"


Mama angkat Nasywa menangis histeris mendengar pernyataan suaminya.


"Kita bisa mengunjungi jika rindu."


Papa angkat Nasywa meyakinkan.


Mama angkat Nasywa melangkah menuju Nasywa dan memeluk nya dengan erat.


"Mama sayang Nasywa."


Mata Nasywa ikut berkaca-kaca melihat Mama nya menangis.


"Kan Mama dan Papa ikut juga sama Nasywa, nanti Nasywa beritahu kakak nya Nasywa yang sama Papa dan Mama."


"Nasywa Mama dan Papa tidak bisa ikut."


"Kenapa Ma, kalo gitu Nasywa juga disini aja." Nasywa mulai menangis.


"Iya nanti Papa dan Mama antar, tapi jangan menangis Anak Papa.


Wisnu segera menghubungi Kinan memberi tahu kabar bahagia ini.


Mendengar Adik nya akan segera pulang Kinan menangis haru.


"Makasih ya nu aku berhutang budi sama kamu."


"Nasywa juga Adik ku, sebentar lagi kami terbang ke jakarta, tunggu kami di rumah."


Wisnu mematikan telpon itu lalu segera bersiap terbang ke jakarta. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 16:00. Lama perjalanan sekitar 2 jam.


🍃🍃🍃


Kinan menatap haru Mertua nya.


"Sebentar lagi Nasywa datang Mah, kita tunda ke Bandung ya Mah."


"Iya Nak, tersenyumlah terus mulai sekarang."


"Alhamdulilah ya Allah."


Kinan tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT.


Sementara Bian.


"Masa aku harus pulang ke rumah Tasya, tapi jika tidak Ibu nya Tasya marah."


Dengan terpaksa Bian melajukan mobil nya memasuki halaman rumah Tasya.


Ternyata Ibu nya Tasya sedang menyapu teras.


"Assalamualaikum Bu."


Bian menyalami Mamah mertua nya.


"Wa'alaikum salam Nak.. Sudah pulang ya, silahkan masuk, tapi Tasya tidak ada di rumah, katanya ada teman lama yang ajak bertemu."

__ADS_1


Dari raut wajah Ibu Tasya sepertinya beliau merasa tidak enak pada Bian.


"Oh iya Bu, tidak apa-apa, Bian masuk ya Bu."


Bian melangkah kan kaki nya menuju masuk dalam rumah.


Bian mengabsen rumah Tasya, rumah yang sederhana, Tasya di besarkan di keluarga yang berekonomi sedang, mungkin karna hal ini yang ada di fikiran Tasya hanya harta.


"Apa bedanya jika dia benar-benar setia pada ku, bisa saja aku angkat derajat orang tua nya, tapi sekarang yang aku lakukan hanya demi Anak ku."


Bian merebahkan diri nya di ranjang Tasya yang cukup besar jika untuk berdua.


"Kinan lagi apa ya, ah jadi kangen."


Bian menelfon Kinan melalui panggilan vidio.


"Hallo Asalamualaikum sayang."


"Waalaikum salam Mas, udah sampe di luar kota."


"Udah, Kamu lagi apa."


"Aku lagi nunggu Nasywa sampai Mas."


"Nasywa Adik kamu ?"


Kinan mengngangguk.


"Syukurlah, Kamu jangan lupa Makan sayang."


"Iya Mas, emm.. Mas minep di hotel."


"Iya..."


"Kenapa kayak kamar pribadi hotel nya."


Bian gelagapan.


"Ini memang konsep hotel nya yank."


Kinan membulatkan mulut nya lalu mengangguk.


Setelah puas berbincang-bincang dengan Kinan Bian memutuskan membersihkan diri lalu istirahat.


🍃🍃🍃


Kinan berteriak histeris saat melihat Adik nya kini nyata di hadapan nya.


"Kakak kangen dek, kemana Ibu bawa kamu pergi..."


"Nasywa di kasih sama Papa dan Mama baru Nasywa Kak."


Ucap Nasywa polos sembari menunjuk orang tua angkat nya.


Kinan segera menyalami Orang tua angkat Nasywa.


"Terimakasih sudah menjaga Adik saya."


"Sudah tugas kami."


Jawab Mama angkat Nasywa sembari tersenyum ramah.


"Sudah sekarang kita duduk dulu pasti lelah di pesawat 2 jam ."


Mamah mempersilahkan.


Setelah mereka duduk Kinan menatap Orang tua angkat Nasywa.


"Apa Ibu ningsih menjual Nasywa."


Tanya Kinan bergetar.


"Tidak dia hanya memberikan Nasywa untuk menjadi Anak angkat kami."


"Kemana Ibu pergi setelah memberikan Nasywa."


"Kami juga tidak tau." Jawab mereka jujur.


Mereka pun saling bercerita kenapa mereka sampai berpisah hingga saat ini.


Setelah banyak perhitungan akhir nya Kinan besok akan membuat laporan kepada pihak berwajib atas perlakuan Ibu tirinya yang menjual dirinya, sengaja membuat Ayah nya meninggal terkecuali Nasywa yang di berikan nya kepada orang asing.


"Kami tidak tahu jika sepedih itu hidup Putri angkat ku ini."


Papa angkat Nasywa membelai sayang rambut Nasywa.

__ADS_1


"Begitupun dengan Saya Bli, begitu banyak kepedihan dalam perjalanan hidup menantu saya ini."


"Kinan, izin kan kami tetap merawat Nasywa, dan kami akan mendidik dia sesuai Agama yang kamu ajarkan."


Mama angkat Nasywa kini memohon pada Kinan.


"Saya belum bisa memutuskan, saya akan tanya suami saya dulu tante." Jawab Kinan


Mereka langsung menatap Wisnu meminta jawaban.


"Bukan saya, saya Adik dari suami Kinan."


"Wah saya kira anda suaminya, Maaf."


"Iya tidak apa-apa."


Kinan tersenyum.


"Suami saya sedang tugas di luar kota, mungkin besok sudah pulang."


"Ya kami akan menunggu sampai besok."


Ucap mereka yakin.


"Kalau begitu kami permisi, kami sudah cek-in hotel di dekat sini."


"Kenapa tidak minap disini saja, ada banyak kamar kosong." Mama menawarkan.


"Terimakasih banyak, tapi kami terlanjur cek-in."


"Yasudah.... Besok datang lah lagi kemari."


"Baiklah, Nasywa Papa dan Mama pergi dulu ya, besok kami kesini lagi."


Ucap mereka pada Nasywa.


"Nasywa ikut Papa saja."


"Nasywa disini sama Kak Kinan." Kinan meyakinkan.


Namun Nasywa justru berkaca-kaca, lalu menggeleng perlahan.


"Nasywa sama Kakak, ini Kakak nya Nasywa Loh."


Kinan mulai khawatir karena Adik nya tak mau lagi bersama nya.


Mamah mengusap lengan Kinan lalu menggeleng.


Kinan Mengatur nafas nya.


"Yasudah ikut lah dengan Mama, Papa Nasywa." Ucap Kinan berat.


Nasywa tersenyum lalu mereka segera berpamitan.


"Adik ku sekarang jadi milik orang, kenapa semua yang aku punya di ambil orang."


Hati Kinan perih karena Adik nya tidak mau lagi bersama nya.


Kinan pamit menuju kamar lalu menangis sejadi-jadi nya.


Di saat seperti ini Kinan butuh Bian, namun Bian justru harus ke luar kota (yang kinan tahu).


🍃🍃🍃


Berbeda dengan Bian yang menunggu Tasya tak kunjung kembali akhir nya Bian memutuskan mencari nya.


Dan benar saja dugaan Bian Tasya sedang mabuk-mabukan bersama Teman-teman nya di salah satu club yang sering mereka kunjungi.


Dengan dada naik turun Bian menarik tangan Tasya menuju mobil, lalu melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah Bian yang sudah tidak tahan melayangkan tamparan keras di pipi Tasya.


"Perempuan iblis !! Tidak kah ku pikirkan Anak mu di dalam perut !!"


Tasya kini sudah meringis memegangi pipi nya.


"Kamu mengkhawatirkan ku Bi."


"Cih... Jangan harap, aku mengkhawatirkan Anak ku bukan kamu. Di dalam otak mu hanya harta, fikiran dan hatimu sudah tertutupi oleh harta !!"


Bian melangkah kan kaki nya masuk.


"Maaf Bu, urus lah Tasya, aku sangat lelah."


Pinta Bian kepada mertua nya yang duduk melamun, Bian yakin mertua nya sudah mendengar semua nya.

__ADS_1


__ADS_2