
Akhirnya Kinan dan Nasywa benar-benar keluar dari rumah besar itu, Kinan memilih kontrakan kecil di dekat rumah sakit tempat Kafeel di rawat agar tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi untuk bolak balik menghantarkan ASI untuk Kafeel.
Di kontrakan dengan 1 kamar tidur, dan ruang tamu kecil dan kamar mandi serta dapur mini yang lebih dari cukup untuk nya, Nasywa dan Kafeel nanti jika sudah pulang dari rumah sakit, dan hanya berjarak 15 menit menuju sekolah Nasywa.
"Kak, kenapa kita pergi lagi dari rumah Mamah."
Tangan Kinan yang sedang memasukkan baju-baju mereka menuju lemari terhenti seketika.
"Nasywa, nanti kamu tau kalo sudah besar ya, jangan tanya-tanya terus, anak kecil belum boleh tau." Kinan mencubit kecil hidung adik nya.
"Iya Kak, kalo gitu aku mau kerjain PR ya."
"Iya." Jawab Kinan, lalu Nasywa membuka tas sekolah nya dan menempatkan di atas badcover yang cukup luas sebagai pengganti meja belajar nya.
"Semoga dengan pergi nya aku, keluarga kalian menjadi utuh seperti dahulu."
...****************...
1 bulan sudah Kinan tinggal terpisah dengan Mamah, 3 minggu yang lalu Kafeel juga sudah di perbolehkan pulang, saat ini bayi itu sudah terlihat sangat berisi, dan menggemaskan.
Mamah cukup sering menjenguk mereka, begitupun dengan Frans, laki-laki yang sudah Kinan anggap Sahabat karib nya, Kinan cukup tahu bahwa Frans menyukai dirinya, namun ia tidak boleh
Dan Bian, jika ia datang menjenguk Kafeel selalu saja Kinan menghindar, walau sekedar berkumpul dengan para tetangga nya, Bian dan Tasya masih dalam proses perceraian, Bian juga sedang menunggu hari lahir buah hati nya dengan Tasya.
namun tidak dengan Wisnu, entah kenapa laki-laki itu menjadi sedikit menjaga jarak dengan Kinan, selama Kinan pindah hanya 1 kali Wisnu datang, dan setelah nya tidak lagi sampai saat ini.
Setiap hari nya Kinan harus bangun pukul 04:00 dini hari untuk mencuci baju, memasak untuk sarapan dan bekal Nasywa, agar jika Kafeel sudah bangun Kinan lebih leluasa merawat anak nya tanpa harus memikirkan mengurus rumah, seperti nya bukan rumah tapi kamar kos kecil itu lagi.
Pagi ini setelah pergi nya Nasywa menuju sekolah dengan tukang ojek yang sudah di bayar perbulan oleh Kinan, Kinan akan mengecek saldo ATM nya, 1 bulan hanya diam tanpa bekerja membuat uang Kinan terus terkuras perlahan tanpa pemasukan apapun.
Kafeel, bayi tampan itu sudah siap untuk di bawa sang Bunda menuju ATM, begitupun dengan Kinan, dengan gamis simpel dan pasmina sederhana sudah membuat nya terlihat sangat anggun dan ayu, paras cantik alami Kinan membuat sebagian orang memuji-muji nya.
Kinan membentangkan payung yang baru ia beli kemarin sore.
"Kita sudah siap sayang, ayo kita berangkat."
Ujar Kinan lalu mulai melangkah menuju depan gang, sepanjang perjalanan Kinan selalu menyapa setiap orang yang ia temui, 1 bulan ini warga sekitar sudah cukup bisa menilai pribadi Kinan yang baik dan ramah.
Kini Kinan dan Kafeel sudah berada di jalan raya, tepat nya di ujung zebra cross cuaca terasa semakin terik, netra Kinan menatap nanar Kafeel yang tidur nyenyak di gendongan nya, lalu bergantian menatap payung yang cukup membantu melindungi mereka berdua dari terik matahari.
"Sebentar lagi sampai Nak, kita menyebrang, tunggu lampu merah dulu."
Saat lampu merah menyala Kinan dan Kafeel langsung menyebrang, dan akhir nya mereka sampai di ATM, Kinan memeriksa saldo.
"Alhamdulillah masih lumayan banyak, aku harus lebih hemat, sekarang kita beli baju untuk Kafeel ya, sudah mulai kekecilan baju-baju Kafeel, baju yang di beliin Unc...." Kinan menghentikan ucapan nya.
"Emmh....Dady Wisnu." Bisik Kinan pada Kafeel.
Kinan menarik uang tunai, dan kembali berjalan kaki mencari toko baju, peluh Kinan sudah mulai membasahi pasmina nya, namun Baby Kafeel masih tetap tidur nyenyak.
__ADS_1
Sekiranya Kinan sudah melangkah 200 meter dari ATM, namun belum menemukan toko baju untuk Kafeel, kini malah rasa haus menghampiri Kinan, saat Kinan melirik cafe yang ia lalui tubuh nya tiba-tiba mematung melibat seseorang yang sangat di kenal nya.
Seorang Pria dan Wanita yang sedang tertawa lepas, seperti tidak ada beban dan ingatan lain di fikiran mereka, sudut bibir Kinan tertarik.
"Alhamdulillah kalau memang ini alasan nya, semoga kalian bahagia."
Lirih Kinan, namun entah kenapa, rasanya kaki Kinan sangat berat untuk melangkah pergi menjauh dari pemandangan itu.
"Wisnu....." Lirih Kinan lagi.
Pria yang di perhatikan Kinan kini sadar jika Kinan sedang memperhatikan nya, senyum nya mengembang sempurna.
"Kinan." Ujar Wisnu membuat Hellen ikut menoleh.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba." Gumam Hellen.
"Gih samperin, mau ke mana dia." Lanjut Hellen lagi.
Di luar cafe berdinding kaca tebal itu Kinan tersadar jika Wisnu dan Hellen melihat dirinya, Kinan memutuskan kembali melangkah menjauh dari cafe. Entah lah, rasanya perasaan nya saat ini menjadi tidak karu-karuan.
"Kinan." Terdengar Suara Wisnu memanggil Kinan.
Kinan bingung antara harus berhenti atau terus berjalan.
"Kinan!!" Tangan Kinan berhasil di cekal oleh Wisnu.
"Jalan-jalan aja." Jawab nya singkat.
Wisnu juga tersenyum kecil, lalu meminta Kafeel untuk di pindahkan menuju gendongan nya, Kinan pasrah, dengan hati-hati Wisnu menggendong keponakan, yang sudah ia anggap anak nya itu.
"Masya Allah sudah gendut sekali kamu Nak." Wisnu sangat kagum melihat pertumbuhan Kafeel yang cukup pesat.
"Kalian mau ke mana sih??" Tanya Wisnu lagi penasaran.
"Mau cari baju untuk Kafeel, baju nya udah sempit semua Nu." Akhirnya Kinan menjawab jujur.
"Kalo gitu biar sama aku aja, ayo mau cari di mana?"
"Aku kurang faham daerah sini."
"Yaudah ayo ikut aku aja, ayo kita ke mobil."
"Tapi Nu..itu...." Kinan ragu melanjutkan ucapan nya.
Wisnu mengerutkan kening nya.
"Kenapa??"
"Itu Hellen."
__ADS_1
"Dia sama pacarnya, biarin aja, ayo...." Ujar Wisnu santai lalu melangkah meninggalkan Kinan yang bengong.
"Hah pacar."
Wisnu berpamitan kepada Hellen dan kekasih nya sebelum pergi dengan Kinan, di dalam mobil mereka cukup lama saling diam, sesungguh nya ada yang ingin sekali Kinan tanyakan kepada Wisnu, tapi entah kenapa sangat kelu sekali lidah nya untuk mulai bertanya.
"Ehm...kok diem aja." Wisnu melirik Kinan.
"Da...dari mana aja." Akhir nya pertanyaan itu keluar dari mulut Kinan.
"Sibuk Nan, ada beberapa tugas dari atasan, ini aja sebenernya belum tuntas." Nada bicara Wisnu menunjukkan jika dirinya cukup lelah.
"Tugas apa?"
"Bandar Narkoba." Jawab Wisnu singkat.
Kinan sedikit kaget.
"Hah....hati-hati."
Senyum Wisnu kembali tercetak.
"Makasih Nan."
Setelah sampai di tempat tujuan mereka sama-sama memilih baju-baju gemas untuk Kafeel, mereka terlihat seperti keluarga kecil bahagia, selesai membayar semua belanjaan Wisnu mengajak Kinan untuk makan namun Kinan menolak.
Kini mereka sudah kembali menuju kos milik Kinan.
"Kinan, apa udah ada jawaban untuk aku??"
Kinan hanya diam.
"Nan....please..." Lirih Wisnu.
"Masih banyak gadis di luaran sana, mereka cantik berpendidikan dan setara sama kamu Nu, aku cuma janda." Suasana hati Kinan kembali bergemuruh.
"Aku mau nya kamu Nan, dan jangan rendahin diri kamu sendiri."
"Kamu cinta sama Frans?"
Kinan menggeleng.
"Sekedar sahabat."
"Kamu cinta sama aku??"
Kinan kembali diam.
"Nanti aku kembali tugas, aku harap sepulang nya aku tugas kamu bisa jawab."
__ADS_1