Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 17


__ADS_3

Bian mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia memukul stir untuk melampiaskan kekesalan nya.


"Sial!!."


Bian berteriak meluapkan emosi nya.


Bian memasuki kantor dengan wajah merah padam nya, ia duduk di kursi kebesaran nya lalu menghubungi Rafa agar Rafa menemui nya.


Rafa datang dan duduk di depan Bian.


"Ada apa Tuan?". Tanya Rafa.


"Hancur sudah Fa." Ucap Bian sembari bergetar.


"Ada apa sebenarnya Tuan, ceritakanlah dulu, jika begini bagaimana saya bisa membantu. Ada apa dengan Kinan ?"


Bian menggeleng.


"Bukan Kinan."


"Lalu..."


Bian menarik nafas nya panjang lalu membuang nya secara perlahan.


Flash back on


Bian dan Tasya sampai di rumah Tasya.


"Kenapa ramai Sya."


Tanya Bian bingung karna rumah Tasya sudah cukup ramai seperti sedang kumpul keluarga.


Tiba-tiba....


"Ini Pria itu Buk."


Tasya menghampiri Ibu nya sembari menangis sesegukan, Bian yang tidak mengerti hanya diam menyimak mencoba mengerti akan situasi ini.


Tiba-tiba seorang pria berpawakan tinggi menghampiri Bian.


"Nikahi keponakan ku, atau akan ku habisi kau, jika berani berbuat harus berani bertanggung jawab !!"


"Maksud nya apa ini, saya tidak mengerti."


"Aku hamil anak kamu Bi, kamu harus bertanggung jawab."


"HAMIL !!"


Bian membelalakkan mata nya.


"Mana mungkin." Sangkal Bian.


"Mana mungkin apa nya."


Ucap pria yang mengaku Paman dari Tasya.


"Begini saja kita bicarakan ini baik-baik duduk lah dulu dan dingin kan hati."


Seorang Pria paruh baya yang sepertinya Ustadz itu memberi pendapat.


Akhirnya mereka duduk dan membicarakan masalah ini secara kekeluargaan.


Dan lagi-lagi Bian menyangkal.


"Bisa jadi itu bukan Anak ku karena saat aku ...."


"Karena apa Bi, tega kamu tidak mengakui anak kamu sendiri."


Ucapan Bian di potong oleh Tasya.


"Sekarang saya tanya kepada Saudara Bian. Apakah kalian berdua benar-benar telah melakukan perbuatan itu." Tanya Ustadz itu.


"Iya itu memang benar Ustadz tapi Tasya ini..."


"Sekarang juga nikah kan mereka Ustadz."


Ibu Tasya yang hanya menangis akhir nya bersuara.

__ADS_1


Bian meremas rambut nya.


Kini Tasya dan Bian sudah duduk bersanding di hadapan Paman Tasya dan Ustadz yang akan menikahkan mereka.


Saat Bian akan mengucapkan ijab kabul.


"Saya terima nikah nya Kinanti Azania."


Tasya langsung menyikut perut Bian.


"Kenapa Kinanti ... ". Protes Tasya.


"Siapa Kinanti itu." Tanya Ustadz.


Bian menunduk lalu mengingat wajah Kinan.


"Istri saya Ustadz."


Orang-orang yang menyaksikan pernikahan itu kaget atas pengakuan Bian.


"Astaugfirullah haladzim...."


Ustadz itu menggeleng.


Setelah 2 kali gagal ijab kabul dan untuk ke tiga kali nya berhasil karena di bantu teks.


Keluarga Tasya bertubi-tubi menasihati Bian untuk mengesahkan pernikahan mereka. Namun Bian hanya diam.


Setelah Keluarga Tasya berpamitan untuk kembali Bian menarik Tasya menjauh dari Ibu Tasya.


"Kamu menjebak ku Sya, apa maksud kamu !!"


Bian tak kuasa Menahan amarah nya.


Tasya menyilangakn tangan nya di dada sembari tersenyum sinis.


"Apa itu benar-benar Anak ku."


Bian tak kalah sinis.


Bian mengusap kasar wajah nya karena memang saat berhubungan dengan Tasya Bian tidak memakai alat kontrosepsi apapun.


"Aku tau kamu udah mulai jatuh cinta sama istri pungut mu itu, jadi aku bertindak lebih cepat."


"Apa mau mu."


Tasya menghadap Bian.


"Harta, kalo anak ini udah lahir Silahkan ambil dan rawat, tapi dengan syarat 30% kekayaan mu."


"Gila kamu Sya !!"


Bian mencengkram tangan Tasya.


"Cuma harta yang ada dalam fikiran kamu, aku fikir kamu bener-bener udah berubah."


"Hahaha terserah lah, sana pulang temui Istri pungut mu itu, jangan bilang-bilang kalo udah nikah lagi, nanti anak kamu satu lagi bisa...."


Tasya mengkode sayatan di leher nya.


"Gila kamu perempuan jahanam. Pergi lah jauh dari hidup ku."


"Baiklah gampang tapi ku bu*uh Anak mu ini"


Tasya menunjuk perut nya.


Flash back off


"Apa !! Anda sudah menikah dengan nona Tasya Tuan."


"Saya bisa apa Fa, bisa-bisa aku mati di keroyok jika menolak, dan yang saya takut kan jika berkepanjangan akan sampai di telinga Mamah atau Wisnu, yang paling saya takutkan akan di dengar Kinan, kandungan nya lemah karena Kinan terlalu stres, dia terlihat baik-baik saja tapi ternyata dia yang paling rapuh." Air mata Bian sudah tergenang dan hampir jatuh.


"Bukankah dia ingin harta saja, berikan saja sekarang Tuan."


"Tidak segampang itu Fa, bagaimana Anak saya, dia perempuan iblis, tidak mungkin dia membiarkan janin kecil itu tetap hidup."


"Ikuti alur nya saja Tuan, bukankah cukup dengan Kinan tidak mengetahui nya."

__ADS_1


"Saya mencintai nya Fa, sejak saya menikahi ja*lang itu saya mulai sadar jika saya mencintai nya."


"Tentu saja Tuan kalian bersama setiap hari hingga akan menghasilkan sebuah bayi kecil, apa itu bukan cinta, anda saja yang gengsi mengakui nya hehh." Rafa menyeringai tipis.


"Owh, sekarang kau Berani ya Fa."


"Tidak Tuan." Jawab Rafa datar.


🍃🍃🍃


"Alhamdulilah akhir nya kamu pulang juga Nan."


Mamah dan Kinan baru saja memasuki rumah.


"Iya mah, makasih udah jemput Kinan."


"Sama-sama Nak, dengarkan Mamah mulai sekarang jika ada apa-apa cerita sama Mamah, kasian Anak kamu di dalam perut, dia lah yang paling tersiksa."


Kinan menunduk merasa bersalah.


"Maafin Kinan Mah."


Mamah tersenyum.


"Sekarang kamu siap-siap Mamah mau ajak kamu senang-senang hari ini biar kamu makin fres."


"Senang-senang gimana Mah?"


"Udah nurut aja ayo siap-siap, malem ini Bian ke luar kota kan."


"Iya Mah."


"Kita juga ke luar kota, kita ke Bandung."


"Ke tempat Mbak Anggun Mah.


Mamah mengangguk, lalu Kinan refleks memeluk mertua nya itu.


Mamah dan Kinan kini berada di salon kecantikan, Kinan yang baru pertama kali memanjakan diri di salon kecantikan sangat menikmati pelayanan-pelayanan nya.


Karena Kinan memang sudah cantik alami Mamah meminta Kinan untuk belajar memoleskan make-up di wajah nya agar terlihat lebih cantik.


Selanjutnya Mamah membelikan Kinan pakaian-pakaian muslim kekinian agar Kinan terlihat lebih modis.


Mamah Memandang kagum kinan saat melihat Kinan sudah memakai pakaian pilihan nya dengan polesan make-up di wajah Kinan.


"Cantik sekali kamu Nak."


"Makasih Mah, ini berkat Mamah."


"Mulai sekarang kamu harus pintar-pintar dandan biar Bian tambah cinta."


Wajah Kinan kini sudah mengeluarkan semburat merah.


"Mamah...." Ucap Kinan malu.


Setelah asik memanjakan diri dan membeli pakaian Mamah dan Kinan merasa lapar, akhir nya mereka memutuskan untuk memanjakan perut terlebih dahulu sebelum menuju Bandung.


Mamah dan Kinan kini sedang menunggu makanan yang mereka pesan.


"Mah, apa Wisnu udah ngasih kabar."


Mamah mengecek ponsel nya.


"Belum Nan. Sabar mungkin sebentar lagi."


"Mah menurut Mamah sampai kapan Kinan mampu bertahan."


Ucap Kinan sendu.


Mamah menggenggam tangan Kinan.


"Yakinlah Nak, apa yang di rencanakan Allah lebih indah dari yang kita bayangkan. Jangan berprasangka buruk pada takdir mu sendiri."


"Terkadang Kinan pengen nyerah Mah, tapi rasa cinta Kinan mampu melawan langkah mundur itu jadi semakin maju."


😁😁

__ADS_1


__ADS_2