Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 32


__ADS_3

"Mah..."


Wisnu mengusap punggung Mamah nya, Mamah menatap Wisnu.


"Ada apa Nak ?"


"Dokter minta kita kasih nama ke baby boy, untuk kelengkapan data, berat nya baru 1,7 kilo gram, sampai berat nya mencukupi baby nya akan tetap di rawat disini Mah."


"Kinan tidak pernah cerita ke Mamah nama apa yang akan dia beri untuk Anak nya, Mamah tunggu Kinan sadar saja, kita tanya ke Kinan."


"Kinan pasti belum mikirin siapa nama Anak nya Mah, bahkan perlengkapan baby boy satu pun belum ada. Kinan terlalu sibuk melupakan Bian."


"Ya kamu benar Nak, sekarang kamu fikirkan nama untuk Cucu Mamah yang tampan itu."


"Ya Mah, nanti Wisnu fikirkan."


Mamah mengangguk kan kepala nya lalu kembali melihat Kinan.


🍃🍃🍃


"Kafeel Rezky Artama, Laki-laki bertanggung jawab, memiliki risky yang bagus dan Artama menandakan jika dia adalah keturunan keluarga Artama."


Mamah tersenyum.


"Bagus Nak, semoga Cucu Mamah menjadi Anak sholeh yang penuh tanggung jawab."


"Amin... semoga Kinan cepet sadar Mah."


"Kamu perduli sekali dengan Kinan Nak."


Mamah tersenyum manis.


"Iya dong Mah, kan Kinan udah beri kita malaikat kecil pembawa kebahagiaan."


"Iya kamu benar sekali, cepat sadar Nak, malaikat mu menunggu."


Bisik Mamah lembut di telinga Kinan.


"Mamah mau liat CCTV kejadian tadi pagi."


Mamah menggeleng.


"Mamah tidak sanggup." Ucap Mamah lirih.


"Sebentar lagi dia mendekam di jeruji besi."


"Dia harus dapat balasan setimpal, cari keadilan untuk Kinan."


"Pasti Mah."


Tidak lama pintu terbuka lalu Dokter masuk untuk memeriksa keadaan Kinan.


"Ibu Kinan belum sadar karena pengaruh bius ya Bu, jadi tidak perlu khawatir."


"Iya terimakasih Dok."


🍃🍃🍃


Ibu Tasya tergopoh-gopoh membuka pintu karena mendengar suara bel terus berbunyi.


"Cari siapa ya Pak."


"Selamat siang Bu, apakah benar ini kediaman Bapak Bian ?"


"Iya Pak, benar, Bian menantu saya."


"Apakah beliau berada di rumah."

__ADS_1


"Ada Pak, tapi ada apa Bapak-bapak polisi ini mencari menantu saya."


"Panggil kan saja dulu menantu Ibu, nanti akan kami jelaskan maksud kedatangan kami."


"Baiklah."


Ibu Tasya segera memanggil Bian yang berada di ruang televisi bersama Tasya.


"Bian... itu ada yang cari di depan."


Bian mengernyitkan kening nya.


"Siapa Bu ?"


"Itu, em...."


Melihat mertua nya ragu untuk menjawab Bian segera menghampiri seseorang yang mencari nya, sampai di ambang pintu Bian mengerutkan kening nya.


"Polisi." Batin Bian


"Ada apa ya Pak?"


"Selamat siang Pak, kami mebawa surat perintah penangkapan saudara Bian Reza Artama atas tuduhan penganiyaan kepada Ibu Kinanti."


"Saya tidak menganiyaya siapapun Pak, saya hanya memberi Wanita itu pelajaran karena sudah bermain api di belakang saya."


"Silahkan Bapak jelaskan di kantor, sekarang mari Bapak ikut kami."


Tiba-tiba Tasya dan Ibunya datang.


"Jadi tadi kamu pergi mendatangi mantan Istri kamu Nak, kenapa kamu tega menganiaya Wanita yang sedang berjuang mengandung darah daging kamu."


"Wanita itu tidak mengandung Anak Bian Buk."


Ibu Tasya menggeleng lemas.


"Besok juga aku bebas Sya, kamu tenang aja, karena aku memang nggak salah."


Bian sangat menganggap remeh dengan masalah yang di hadapi nya sekarang.


"Ayo ikut kami !!"


Bian di gelandang menuju kantor polisi, Tasya memijit kening nya.


"Aduh.... Kenapa jadi Bian masuk penjara, ini di luar rencana."


Ibu Tasya menatap Tasya lalu mengelus dada nya.


"Jadi ini perbuatan kamu Nak, kamu yang menempel foto-foto itu?"


"Ibuk bisa diem nggak sih, bukan nya ngasih solusi malah interogasi!!"


"Ya Allah Tasya, kasihan sekali mantan Istri Bian, dia menderita karena perbuatan kamu, setelah kamu rebut Suami nya sekarang kamu buat dia tersiksa."


"Kenapa malah tambah berisik sih Buk, sekarang mending Ibuk masak, aku laper !!"


"Astagfirullah halazim...."


🍃🍃🍃


Bian kini sudah duduk di ruang introgasi, bahkan setelah di tunjukkan CCTV dia tetap merasa berbuat hal yang pantas terhadap Kinan.


Pintu ruangan terbuka ternyata Frans dan Wisnu yang datang, Bian menatap sinis Frans.


"Dia selingkuhan mantan Istri saya Pak."


Bian menunjuk Frans.

__ADS_1


"Saudara Frans apakah benar anda mempunyai hubungan khusus dengan Saudari Kinanti."


Lalu Frans menjelaskan kronologi kejadian tanpa terlewat satu hal pun.


"Bahkan Wanita itu tidak menganggap saya Pak, Pria ini pernah datang langsung kepada saya untuk melamar mantan Istri saya, pasti itu hanya sandiwara mereka berdua !!"


"Karena saat itu Kinan hanya simpanan Kakak saya." Ucap Wisnu tegas.


"Dari mana Saudara tahu jika Saudari Kinan simpanan Kakak anda."


"Dia yang menceritakan sendiri."


Kurang lebih 6 jam lamanya interogasi itu terjadi, kini waktu menunjukkan pukul 19:00, Bian menatap tajam Wisnu dan Frans.


"Jangan kira kalian akan menang, saya akan cari pengacara terbaik untuk membebaskan saya !!"


"Kita liat saja di sidang nanti."


Frans dan Wisnu pergi dengan santai.


"Bang**t, Kenapa Rafa belum dateng !!" Umpat Bian.


"Mari ikut kami." Polisi menggiring Bian menuju ruang tahanan.


Bian malam ini terpaksa tidur di balik jeruji besi.


Sedangkan Wisnu memutuskan kembali menuju rumah sakit, karena ia mendapat kabar bahwa Kinan sudah siuman, Frans juga ikut dengan Wisnu untuk menjenguk Kinan.


Sepanjang perjalanan Wisnu melihat handphone nya yang di penuhi notifikasi berita tentang Wisnu dan Kinan.


"Rupanya sudah tercium wartawan Frans."


"Itu positif bro, viral."


Ada juga dukungan untuk Kinan dengan tagar #Save_Kinan dari para netizen yang prihatin dengan penganiayaan Kinan.


"Biarkan saja lah, publik pasti bisa menilai mana yang salah dan mana yang benar, proses hukum juga akan cepat dengan ada nya dukungan dari publik."


Wisnu mengangguk setuju, Frans dan Wisnu kini sudah sampai di depan ruangan Kinan.


"Keluarga gue." Gumam Frans.


"Ayo masuk." Ajak Wisnu.


Frans mencoba mencari celah untuk melihat Kinan, ia melihat Kinan yang hanya tersenyum sesekali kepada keluarga nya yang menjenguk.


"Pasti sekarang jiwa nya terguncang, kasian kamu Nan, Suami mu terlalu bodoh, dia rela membuang berlian demi memungut kerikil."


Ingin sekali Frans menggenggam tangan Kinan, menghibur nya dan membuat nya tertawa.


"Andai dulu aku yang pertama bertemu kamu, pasti akan aku buat kamu bahagia, akan ku buat kamu jadi ratu Nan."


Frans terus memandang Kinan.


"Mbak nggak nyangka kamu kenal sama Kinan Frans."


Lamunan Frans buyar saat Kakak perempuan nya menepuk punggung nya.


"Iya Mbak, Frans juga yang buat Kinan jadi seperti ini, andai hari ini Frans nggak datang nemuin Bian, semua ini nggak akan terjadi."


"Ini takdir Frans, ini bukan salah kamu."


Kinan bersuara, ia jadi merasa tidak enak karena Frans menyalahkan diri nya.


"Sudah-sudah apa yang sudah terjadi kita lupakan saja, jika bisa kita buat Kinan cepat melupakan nya."


Ucap Mamah berharap tidak ada lagi yang akan membahas masalah itu, karena Dokter mengatakan bahwa Kinan mengalami trauma, walau tidak serius tapi akan teringat di memory nya cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2