Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 41


__ADS_3

"Frans!."


Kinan bertegak pinggang karena Frans hanya melamun sedari tadi, lalu Kinan melirik Wisnu dengan bingung.


"Dia kenapa Nu."


Bukannya menjawab Wisnu malah melangkah menuju rak piring lalu mengambil mangkuk dan di isi dengan air.


Byur....


Sukses saja air dalam mangkuk itu mendarat sempurna di wajah Frans, Frans tersentak kaget lalu menatap bingung Kinan dan Wisnu.


"Kenapa gua di siram!!"


Kinan menutup mulut menahan tawa nya.


"Abis nya diem aja, kesambet apa lo." Wisnu terkikik geli.


"Siapa yang ngelamun coba."


Elak Frans sembari mengusap-ngusap kemeja nya yang sudah basah kuyup.


"Kamu diem aja aku panggilin Frans, basah deh baju nya di siram Wisnu."


Kinan terus tertawa mengingat kejadian lucu tadi.


"Wisnu pinjemin Frans baju ya, kasian tu basah semua." Ujar Kinan.


"Nggak ada, gede semua, liat tuh badan dia kecil kurang gizi, sedangkan badan ku sixpack gini." Tunjuk Wisnu pada Frans.


"Wahh, Body shaming lo!!"


"Eh...Jangan ribut, yaudah Frans pinjem baju aku aja ya, aku ada baju kaos belum pernah di pake."


Kinan hendak melangkah menuju kamar nya, namun dengan cepat di cegah oleh Wisnu.


"Eh Nan, aku ada kok, pake baju aku aja."


Frans mengerjitkan kening nya.


"Kenapa sih, tadi kagak boleh." Sinis Frans.


"Gua cuma bercanda."


Ucap Wisnu lalu cepat-cepat pergi menuju lantai atas di mana kamar nya berada.


"Enak aja mau pake baju Kinan."


Batin Wisnu sembari memilih baju kaos yang di kira cocok untuk Frans.


Sedangkan Frans dan Kinan sudah duduk di pendopo sembari menikmati beberapa macam jajanan pasar yang rasa nya sangat menggugah selera.


Wisnu menatap Frans dengan sinis.


"Cih... Orang itu, ambil kesempatan rupanya, belum tau dia siapa Wisnu."


Wisnu menghampiri mereka.


"Nih baju nya."


Wisnu melempar dengan kasar hingga mengenai wajah Frans.


"Thanks." Ucap Frans singkat, padat dan jelas, Kinan hanya menggeleng.


"Kenapa jadi kayak kucing sama tikus, kayak nya kemaren-kemaren akur-akur aja." Heran Kinan.


Wisnu duduk sembari memegangi kepala nya.


"Kenapa ya kepala ku."


"Kenapa Nu?" Tanya Kinan cemas.


"Tiba-tiba rada sakit."


"Kok bisa, aku ambilin obat ya."


Wisnu menggeleng.


"Ngak usah Nan, nanti di pijitin aja sembuh kok."

__ADS_1


"Yaudah aku pijitin ya."


"Nggak usah." Tolak Wisnu lembut.


"Udah nggak apa-apa sini."


Kinan memijit kepala Wisnu, tanpa Kinan sadari Wisnu tersenyum devils kepada Frans sembari menunjukkan jempol ke bawah tanda kalah.


Frans memutar bola mata nya malas, ia bangkit memutuskan untuk pamit pulang, rambut nya hampir rontok melihat pemandangan panas di depan nya.


"Nan aku pamit ya."


"Loh kok buru-buru Frans."


"Ngak apa-apa Nan, gua pamit Nu."


Wisnu mengangguk, saat Frans melewati ruang tamu ia melihat Mamah berbincang dengan Bian dengan serius.


Frans memberanikan diri menghampiri mereka lalu menyalami Mamah dan melewati Bian.


Sedangkan Wisnu yang sudah melihat Frans pergi langsung meminta Kinan menghentikan pijitan nya tidak lupa mengucapkan terimakasih.


"Udah sembuh?"


"Udah."


"Cepet banget ya."


Kinan baru sadar bahwa ini hanya akal-akalan Wisnu.


"Kue nya enak kamu beli di mana?"


Wisnu mengalihkan pembicaraan, baru saja akan menjawab tiba-tiba Fina datang.


"Mbak Kinan dan Tuan Wisnu di panggil Nyonya."


Kinan dan Wisnu saling menatap.


"Iya." Jawab Wisnu.


Fina membereskan sisa makanan yang ada Kinan dan Wisnu langsung menghampiri Mamah.


Ia duduk bersandingan dengan Frans, hati nya sangat gelisah saat ini. Mamah mengkode Bian dengan lirik mata.


Bian melangkah menuju tempat Kinan duduk lalu bersimpuh di kaki Kinan, Kinan yang kaget segera menghindar.


"Aku minta maaf Nan, aku bodoh udah nyia-nyiain kamu dan anak kita, aku mohon maafin aku, beri aku kesempatan untuk kita mengulang kembali semua nya dari awal."


Wisnu hendak bangkit dan menghampiri Bian namun Mamah menggeleng.


"Aku nggak bisa!" Jawab Kinan tegas.


"Aku mohon Kinan, kita ulang semua nya dari awal, kita hidup bahagia dengan keluarga kecil kita, Kafeel butuh orang tua nya yang utuh Nan."


"Kafeel nggak akan butuh seorang Ayah yang nggak nganggep dia sebagai Anak nya."


"Aku nyesel Kinan, semua ini karena Tasya, dia penyebab hancur nya rumah tangga kita !"


"Ini semua karena kamu mas !! karena kamu terlalu ..... "


Kinan tak sanggup melanjutkan ucapan nya.


"Bodoh kan, iya aku memang bodoh Nan."


"Cukup Mas, aku nggak apa-apa kamu sakitin, tapi Kafeel Mas, aku nggak bisa ngebayangin sesakit apa dia kalau tau Ayah nya sendiri nggak ngakuin dia !"


"Kita cukup simpan rapat-rapat rahasia ini."


Jawab Bian dengan enteng nya.


"Jejak digital ngak akan mati Mas."


"Aku cukup bayar orang untuk hilangin semua itu."


"Lagi-lagi uang yang kamu andalin Mas, aku permisi."


Kinan bangkit hendak menuju lantai atas, namun Bian ikut bangkit lalu mencegah Kinan.


"Mulai hari ini aku tinggal disini, aku akan perbaiki semua ini."

__ADS_1


Kinan memutar balik badan nya.


"Kalo gitu aku yang pergi!"


"Ngak bisa gitu Nan." Ucap Wisnu.


"Maaf Mah, Wisnu Kinan dan Nasywa pamit, ayo Nas."


Kinan menarik tangan Nasywa menuju kamar, Kinan langsung memasukkan baju-baju mereka dalam koper.


Mamah bingung karena Kinan memutuskan pergi, bukan seperti ini mau Mamah.


"Mamah kenapa ngizinin dia minta maaf sama Kinan, Mamah nggak mikirin perasaan Wisnu, Mamah tau sendiri Wisnu gimana sama Kinan, sekarang Kinan mau pergi, kacau semua nya, dan lo pecundang liat !! semua kacau gara-gara lo !!"


"Bukan seperti ini maksud Mamah Nak, Mamah nggak menyangka Kinan nekat."


"Mamah kan tau sendiri Kinan gimana, sekarang kita harus apa, untuk cegah Kinan kita nggak ada hak Mah."


Mamah terduduk lemas, sementara Bian mencoba menghampiri Kinan.


"Mau kemana lo !!"


"Cegah Kinan."


"Jangan buat suasana makin kacau."


Wisnu duduk sembari *******-***** jari nya, Kinan turun sembari menarik 1 buah koper dan menggandeng Nasywa, Wisnu segera menghampiri Kinan.


"Kamu fikirin lagi ya Nan, aku mohon, liat Nasywa dia bingung Nan, dia nggak ngerti apa-apa."


"Aku nggak bisa Nu, memang udah saat nya juga aku pergi, dulu aku udah janji kan aku tinggal disini sampai lahiran, aku berterimakasih Mamah dan kamu udah mau dampingi aku sampai saat ini, tanpa kalian mungkin aku, Nasywa dan Kafeel ngak tau nasib nya seperti apa sekarang ini."


"Bukan ini maksud Mamah Nak, kamu tetap disini ya."


Kinan menggenggam tangan mantan ibu mertua nya itu.


"Kinan ngerti Mah, tapi memang saat nya Kinan pergi dari sini, Mamah jaga kesehatan."


Kinan sudah berlinangan air mata, Nasywa pun sudah ikut menangis.


"Kamu juga jaga kesehatan."


Ucap Kinan kepada Wisnu.


"Aku mau ngomong sama kamu sebelum kamu pergi, sebentar aja."


Kinan mengangguk, mereka melangkah menuju taman samping rumah.


Kini mereka berdua sudah berhadap-hadapan.


"Kamu mau pergi kemana."


Wisnu menatap mata Kinan dengan dalam sangat terlihat kegelisahan di sana.


"Ada banyak kontrakan kan, makasih atas semua yang udah kamu kasih buat aku sama Kafeel."


Kinan berusaha bersikap setenang dan setegar mungkin.


"Kamu di anter supir ya, kamu tinggal di rumah yang di pinggir kota."


"Nggak, aku mau mandiri, udah kamu nggak usah mikirin aku, aku udah terbiasa hidup mandiri dan apa adanya, kami pasti baik-baik aja."


"Apa belum bisa kamu terima aku Nan."


Kinan menggeleng.


"Kamu berhak dapet yang lebih baik, aku cuma kerikil, masih banyak wanita sempurna yang Allah persiapkan untuk kamu."


"Kamu sempurna dan aku mau kamu bukan mereka."


"Aku nggak bisa."


"Kamu nggak cinta sama aku."


"Untuk saat ini aku masih lupa apa dan gimana rasa jatuh cinta, aku masih mau fokus ke Kafeel."


"Aku tunggu kamu mencintai aku."


Kinan semakin menunduk kan kepala nya menahan sedih mendengar perkataan Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2