
Kinan terjaga dari tidur nya, perut nya terasa sangat lapar.
Kinan menuju dapur lalu ia melihat lemari pendingin, saat Kinan membuka nya hanya ada beberapa bungkus mie instan.
"Haa kulkas sebesar ini hanya berisi Mie instan."
Kinan mengambil nya lalu di masak untuk mengganjal perut. Saat melihat jam menunjukkan pukul 05:35 subuh.
"Aku ada uang dari maskawin Tuan Bian, nanti ku belanjakan saja keperluan ku."
Kinan mengedarkan pandangan nya ke arah penjuru ruangan.
"Sebaiknya aku berberes, sangat banyak debu disini."
Kinan akhirnya beberes, mulai dari menyapu ruang depan, ruang televisi, dapur, hingga ruang laundry.
"Beres juga."
Kinan tersenyum melihat Apartemen yang lebih rapih dan bersih dari sebelum nya.
Kinan melihat jam dinding sudah pukul 07:30.
"Aku akan turun berbelanja kebutuhan ku, Tuan Bian tidak akan marah Jika hanya pergi sebentar."
Kinan membersihkan diri lalu membuka beberapa kantong berisi pakaian dari Bian.
"Kenapa semuanya dress pendek."
kinan berkaca dengan dress di atas lutut pemberian Bian, setelah di rasa siap ia keluar dari unit untuk berbelanja.
Kinan menuju sebuah market yang terdapat di Apartemen.
Semua yang tidak ada di Apartemen di beli oleh Kinan.
Kinan menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat belanjaan nya.
"Bagaimana caranya aku bawa ke atas."
Kinan mengumpulkan tenaganya lalu mengangkat belanjaan nya.
"Aduhhh.. berat nya."
Kinan mengibas-ngibaskan tangan yang sakit.
Tanpa Kinan sadari seseorang memperhatikan nya.
"Boleh saya bantu."
"Eh tidak usah, terimakasih." Tolak Kinan dengan sopan.
Orang itu mengulurkan tangan nya.
"Frans.."
Dengan sedikit ragu Kinan menyambut uluran tangan Frans.
"Kinan.."
"Biar ku bantu kamu bawa ke atas Kinan."
Kinan berfikir sejenak.
"Kalau tidak merepotkan boleh deh."
Frans langsung membawa belanjaan Kinan.
"Lantai berapa ?" Tanya Frans
"Lantai 13."
Frans tersenyum lebar.
"Wah unit kita satu lantai Nan."
"Oh ya." Kinan tersenyum.
"Terimakasih..."
Ucap Kinan saat mereka sudah sampai di depan pintu.
"Ini unit mu, bersama siapa kamu tinggal disini."
"Saya tinggal dengan majikan, kemarin hari pertama saya tinggal disini."
"Oh majikan." Frans mengangguk.
__ADS_1
"Aku permisi masuk Frans."
"Oke, bye nan." Frans melambaikan tangan nya.
🍃🍃🍃
Bian baru saja selesai sarapan, lalu memutuskan kembali ke Apartemen untuk melihat Kinan.
Saat akan masuk dalam mobil Bian melihat Adik nya sedang mengurus koleksi ikan-ikan nya.
"Wisnu, gimana perusahaan."
Wisnu melirik Bian sekilas.
"Bagus."
Wisnu menjawab dengan ketus.
Bian menggeleng. Lalu kembali untuk melakukan mobil nya menuju Apartemen.
Saat sampai di Apartemen Bian melihat Kinan sedang menata Kamar.
"Kinan..."
Kinan yang kaget tiba-tiba Bian datang langsung berbalik.
"Tuan... maaf kapan datang."
"Baru saja."
Bian memperhatikan pakaian yang di pakai Kinan, setelan pakaian wanita lengan pendek, Bian tidak merasa membelikan nya untuk Kinan.
"Kinan.. itu pakaian dari mana."
Kinan melirik sekilas pakaian nya.
"Saya beli sendiri Tuan, saya kurang nyaman memakai dress. Maaf Tuan saya tadi pergi keluar untuk berbelanja."
"Tidak apa-apa asal tidak kabur dan macam-macam."
Kinan tersenyum kecut mendengar ucapan Bian.
Bian merebahkan badannya di atas ranjang empuk nya.
Kinan yang hendak keluar kamar namun Bian menahan nya.
"Saya mau keluar Tuan."
"Suami pulang malah mau pergi, kesini."
Bian mengkode agar Kinan duduk di sebelah nya. Lalu membuka dompet mengeluarkan sebuah kartu ATM.
"Pakai ini untuk kebutuhan mu. Pin nya tanggal lahir ku."
"Berapa ?" Tanya Kinan.
"26-11-94. Berapa usia mu Kinan."
"19 Tahun Tuan."
Bian langsung melihat Kinan.
"Pantas badan mu kecil, rupanya kamu memang Anak kecil. Oh ya kamu boleh panggil saya Mas atau apalah yang pantas, jangan Tuan karena kamu bukan Karyawan saya."
"Iya Mas." Ucap Kinan dengan ragu.
Sejenak mereka diam.
Bian kembali merebahkan tubuh nya lalu memainkan ponsel nya.
Kinan melihat Bian, ia ragu akan menyampaikan keinginan nya atau tidak.
Kinan menarik nafas lalu membuang nya.
"Mas..."
"Apa."
Bian menjawab tanpa melihat Kinan.
"Aku ingin Sajadah, Mukena, dan Al-Qur'an. Di dekat sini tidak ada toko yang menyediakan."
"Kamu tinggal pesan online kan bisa." Jawab Bian santai.
"Dengan apa aku memesan nya. ponsel ku di ambil Ibu."
__ADS_1
"Ya Beli saja, kan sudah saya beri uang." Jawab Bian dengan nada cuek.
Kinan menggigit bibir nya lalu beranjak dari ranjang menuju balkon yang kini menjadi tempat favorit nya.
Kinan duduk sembari memeluk kaki nya. menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi.
"Nasywa...." Air Kinan menetes
"Di mana kamu...."
Kinan berdiri hendak masuk tapi.
Brukk....
Kinan bertubrukan dengan tubuh tinggi Bian. Mata Kinan dan Bian saling bertemu, nafas Bian berderu.
"lagi-lagi kamu menggodaku."
Bisik Bian pada Kinan, membuat tubuh Kinan merinding.
Bian menarik tangan Kinan menuju kamar, dan terjadilah pergelutan panas tanpa cinta sepasang Anak Manusia.
Setelah puas menikmati surga dunia bersama Kinan Bian tertidur dengan pulas nya.
Kinan menggeleng saat melihat Bian yang tertidur, badan Kinan serasa remuk saat ini.
Ting..Tong..Ting..tong...
Kinan mendengar bel berbunyi bergegas membuka pintu.
Seorang wanita cantik berdiri di depan pintu.
"Kamu siapa?" Tanya wanita itu
"ART Tuan Bian, Nona cari siapa."
"Oh pembantu, saya cari Bian."
"Silahkan masuk dulu Nona."
Tasya melenggangkan kaki nya dan langsung masuk dalam kamar Bian.
Senyum Tasya merekah saat melihat Bian tidur pulas.
"Bi..." Tasya mengguncang pelan tubuh Bian.
Bian membuka matanya khas bangun tidur.
"Sya... kenapa kamu disini."
"Aku kangen sama kamu Bi."
"Aku tadi udah bilang kita ketemu besok."
Tasya yang melihat Bian bertelanjang dada naik ke atas ranjang lalu menimpah tubuh Bian.
Bian kaget dengan yang Tasya lakukan.
"Sya.. apa yang kamu lakukan."
"Kenapa Bi, sebelum nya kamu selalu menggoda aku untuk bercinta sama kamu, sekarang ayo kita lakukan."
Bian menggeleng.
"Menyingkir sya!!"
Tasya malah menjadi-jadi.
"Stop Sya... "
🍃🍃🍃
Sedangkan Kinan.
"Baru saja dia melakukan nya dengan aku, sekarang dengan pacar nya."
"Jangan bodoh kamu Kinan, Mas Bian sudah bilang dari awal jika kamu harus sadar diri."
Kinan berdebat dengan dirinya sendiri.
"Tiga ratus juta bukan uang yang sedikit, untung-untung Mas Bian mau menebus kamu dari Wanita itu."
"Hahh... baru tiga hari aku bersamanya saja sudah begini, Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya nya, tapi aku istri nya, yang kami lakukan bukan dosa."
"Aku bukan wanita buta, Mas Bian Pria yang nyaris sempurna, bagaimana mungkin aku tidak menaruh perasaan saat melihat nya."
__ADS_1
Kinan menenggelamkan wajah nya pada telapak tangan nya, bimbang dengan perasaan nya.
Sedangkan dalam kamar....