
"Apa bagaimana bisa? aku tidak pernah melakukan apapun pada mu, kita berpacaran normal seperti biasanya, kenapa kau bisa hamil," tanya Jack.
"Dengan pria lain, tapi pria itu pergi meninggalkan aku, aku mohon sayang bantu aku."
"Kau gila, kau selingkuh dari ku, dan sekarang kau meminta ku untuk membantu mu. Kau tau Audrey jika orang tua ku tau kau hamil meskipun itu bukan anak ku mereka pasti marah besar pada ku. Bukan hanya pada ku tapi pada mu, kau tau kan kekuasaan keluarga kami. Jadi untuk mengindari hal yang tida dinginkan jangan temui aku kembali, jangan usik singa yang sedang menahan lapar." Jack pergi begitu saja meninggalkan Audrey, mau bagaimana pun ia tidak mungkin bertanggung jawab atas kehamilan Audrey, jangan kan membuat nya hamil, melihat tubuh mulus nya saja Jack tidak pernah.
Di perusahaan sudah waktunya makan siang. Justin datang kembali dengan membawa berbagai macam makanan lezat. Ia tau jika abang dan istri nya pasti sedang kelaparan, sebagai adik dan suami yang baik Justin memilih membelikan mereka makanan yang sangat komplit.
"Sudah makan dulu, jangan bekerja terlalu keras," ucap Justin.
"Hahaha bagus, kau tau saja apa yang sedang aku rasakan." Harry menyambut Justin dengan senyuman, karena memang ia sudah sangat lapar.
"Audiya ayo makan." Justin mendekati Audiya yang sedang sangat fokus bekerja.
"Iya tunggu sebentar."
"Kau mau makan atau mau aku cium lagi," kata Justin.
"Sebentar Justin, aku sedang sangat fokus," ucap Audiya.
"Oh kau menantang ku ya." Justin mendekati wajah Audiya dan berniat melancarkan serangan tetapi dengan cepat Harry menarik nya.
"Abang," teriak Justin.
"Jangan rewel, masih bocah asik mencium saja,'' kata Harry.
__ADS_1
"Kau juga mau mencium nya, cium saja kau kan juga suami nya," ucap Justin.
Harry menarik Justin, dan menjepit nya dengan bantal sofa, anak itu semakin lama semakin menyebalkan untuk nya.
"Abang aku mau mati," teriak Justin.
"Bodoh amat," ucap Harry sambil melepaskan Justin.
"Aku susah membawakan mu makanan, tapi kau malah seperti itu," kata Justin.
"Kau yang membuat ku kesal," ucap Harry.
Audiya sedikit tersenyum mendengar pertengkaran mereka berdua, terkadang mereka berdua terlihat saling perhatian, terkadang juga mereka berdua seperti anjing dan kucing, yang tidak pernah akur.
"Ayo Audiya makan, jangan kau pikirkan dia," kata Justin.
"Justin, apa ada paman di ruangan nya," tanya Harry.
"Tidak ada bang. Abang tau permasalahan paman dan tante hampir masuk ke meja hijau. Zyan saja sampai kabur dari rumah karena tidak tahan dengan semua nya," jawab Justin.
"Bagaimana bisa, bukan nya daddy sudah berbicara dengan paman."
"Aku tidak tau, tapi yang aku tau tante mengungkit masa lalu karena paman pernah selingkuh, dan tante juga seperti nya sudah mulai memiliki pengantin paman."
"Apa!!! jadi perusahaan mereka bagaimana?"
__ADS_1
"Ya pasti jatuh ke tangan Zyan, kan Zyan anak mereka," kata Justin.
"Tidak bisa begitu, bukan nya perusahaan itu milik tante Karla, pasti sebelum jatuh ke tangan Zyan perusahaan itu kembali ke tangan tante," ucap Harry.
"Itu lah semua nya sangat sulit, perpisahan antar seseorang yang sudah memiliki nama besar pasti akan sulit. Aku tau paman sangat buaya, tapi aku tak yakin paman selingkuh lagi, dan kalau benar-benar tante Karla sudah memiliki pengganti dengan mudah paman akan mudah mendapatkan pengganti."
"Sama seperti mu buaya, bagaimana pacar mu, sudah bosan dengan mu?"
"Tidak mungkin, aku tampan kaya raya, uang tak pernah habis, mana mungkin mereka bosan dengan ku."
"Audiya kamu punya perusahaan kan," tanya Justin.
"Tidak, itu punya keluarga ku," jawab Audiya.
"Tapi kau sangat hebat, tidak hanya cantik kau juga pintar, memang tampang tidak bisa memberikan kita uang."
"Justin, jika kau terus banyak berbicara, aku sumpal tangan mu dengan tisu," kata Harry.
"Hahaha maaf bang, aku tidak menyindir mu, aku memperhatikan mu dengan baik dan benar kok."
Setelah selesai makan, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka berdua, berbeda dengan Justin yang malah ketiduran di sofa. Ia tidak melakukan apapun karena memang Justin tidak memiliki kemampuan untuk mengurus kantor.
Harry sadar jika adik nya itu kedinginan, AC di ruangan ini memang sangat rendah. Ia mendekati Justin dan membawa nya ke ruang tidur yang terdapat di ruangan tersebut.
"Terimakasih, kau sangat baik." Justin sedikit membuka mata nya dan kembali tertidur.
__ADS_1
"Dia memang sangat perhatian dengan orang sekitar nya, apa mungkin dia juga memperhatikan ku?"