
"Kenapa kamu mengatakan itu kepada nya," tanya Audiya.
"Maksud mu?" Harry menaikan satu alisnya.
"Yang kamu katakan pada Justin tadi, aku tidak suka pada nya," ucap Audiya.
Saat ini mereka berdua hanya berada di rumah berdua. Justin sudah pergi bersama teman-teman nya beberapa menit lalu.
"Apa itu salah, Justin menyukai mu, aku ingin melihat adik ku bahagia," kata Harry.
"Tapi apakah kamu bahagia?"
"Kebahagiaan ku tidak penting, yang terpenting kebahagiaan Justin, aku sangat menyayanginya."
"Jangan egois, kamu membohongi perasaan mu sendiri," ucap Audiya.
Saat sedang berbicara berdua tiba-tiba handphone Audiya berbunyi. Terlihat panggilan dari Kenzo ayah mertuanya.
"Halo yah," ucap Audiya.
"Halo Audiya, kamu sudah baik baik saja kan?"
"Sudah yah, ada apa ya," tanya Audiya.
__ADS_1
"Begini, ayah sudah berbicara dengan ayah mu, kamu berdua memutuskan untuk memberikan mu kebebasan, kamu boleh memilih satu dari ke-lima suami mu. Terserah siapa yang kamu cintai dan siapa yang kamu mau, kalau mereka berdua tidak akan ada penolakan."
"Begitu yah, terimakasih yah."
"Iya Audiya, ya sudah kamu pikir baik baik. Minggu depan kamu putus kan. Ya sudah kalau begitu."
"Iya yah, terimakasih." Audiya menutup telepon itu
Harry yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam pada Audiya, ia yakin Audiya pasti memilih nya, dari apa yang mereka bicarakan tadi seperti nya memang audiya memiliki perasaan pada nya.
"Jangan memilih ku, pilih Justin."
"Aki tidak mau, aku memilih mu," kata Audiya.
"Jangan memilih ku Audiya, aku tidak suka pada mu, jika kau memilih ku aku tidak akan berbicara pada mu."
Audiya mendekati wajah Harry agar mata mereka berdua saling menatap. Mereka berdua sudah bersama kurang lebih satu bulan lama nya. Yang mengambil kesucian Audiya juga Harry, Audiya tidak yakin Harry tidak merasakan apa yang ia rasakan.
Mata indah Harry tidak bisa berbohong, ia tidak bisa mengatakan hal itu sambil menatap Audiya, ia tidak bisa membohongi diri nya sendiri. Memang di hati nya terselip rasa suka pada Audiya.
"Katakan." Audiya semakin menatap tajam mata Harry.
Jangan kan untuk mengatakan nya menatap mata Audiya saja Harry terlihat ragu ragu. Ntah apa yang Harry pikirkan saat ini, ia malah menarik wajah Audiya dan mencium bibir Audiya dengan sangat kasar.
__ADS_1
Hal itu membuktikan jika Harry memang memiliki perasaan lebih pada Audiya, tetapi seperti yang sudah ia katakan perasaan nya memang tidak penting untuk nya. Kebahagiaan Justin yang paling ia utamakan. Ia bisa bersikap dewasa saat Audiya tidak memilih nya tetapi bagaimana dengan Justin, Justin pasti akan hancur. Justin masih memiliki pemikiran yang jauh di bawa nya. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada adik tersayang nya.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, karena Audiya membalas nya, dengan ciuman ini Audiya mendapatkan jawaban jika Harry juga mencintai nya. Ciuman Harry malah turun ke leher Audiya, mereka berdua sudah terbawa dalam permainan panas itu. Saat Harry membuka kancing baju Audiya Harry menghentikan nya.
"Kenapa," tanya Audiya.
"Kau datang bulan," jawab Harry.
"Tidak," kata Audiya.
"Tadi kata Justin," ucap Harry.
"Itu hanya noda saus, dan aku tidak benar-benar datang bulan. Aku berbohong karena aku tidak mencintai Justin, aku mencintaimu Harry."
"Kubur dalam dalam perasaan mu, seperti aku mengubur perasaan ku. Ingat Audiya kau harus memilih Justin."
"Hiks.. hiks.. hiks.. kenapa kau jahat sekali pada ku Harry." Audiya menangis sambil menutup mata nya.
"Aku tidak jahat pada mu, aku....
"Ahkkk kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini," Harry menarik Audiya ke dalam pelukan nya
Tak lama mereka berdua kembali berciuman, ntah apa yang terjadi sampai Harry menaikan Audiya ke meja makan.
__ADS_1
"Lakukan apa yang kamu mau, tubuh ku milik pria yang aku cintai," kata Audiya.
Harry membuka satu persatu kancing baju Audiya, ia benar-benar sudah kehilangan akal saat ini.