
Hari demi hari berlalu, Harry dan Audiya sudah semakin dekat saja. Kedekatan mereka berdua hanya saat mereka berdua sedang berdua saja. jika ada yang lainnya mereka berdua seperti tidak seperti sepasang suami-istri. Harry benar-benar berbeda dari pria yang lainnya.
Ini Harry ke 25 Harry di rawat dan ia sudah du perbolehkan pulang ke rumah. Tangan nya masih dalam proses pemuliaan tetapi Harry sudah mulai bisa menggerakkan nya. Untuk perban di kepala nya sudah di buka juga, ada beberapa luka bekas jahitan yang akan tertutup jika rambut Harry sudah kembali tumbuh. Meskipun begitu tidak sedikit pun mengurangi ketampanan seorang Harry. Harry tetap tampan tanpa tandingan.
"Semua nya sudah sangat baik, luka sudah kering semua," kata Dokter.
"Akhirnya." Harry benar-benar sudah merasa bebas sekarang, ia bisa tidur ke sana sini karena tidak ada luka yang menghalangi nya lagi.
"Kamu sudah punya istri kan," tanya Dokter.
"Sudah, ini istri ku," jawab Harry.
"Nah saya tau menahan begitu lama itu tidak enak. Kamu bisa melakukan nya setelah pulang tapi dengan hati hati, bisa minta di istri kamu memimpin," kata Dokter yang membuat semua orang melihat ke arah Harry.
"Kenapa kalian melihat ku," tanya Harry.
"Apa benar kau sudah tidak tahan," tanya Kevin.
"Iya apa benar? ah kau melangkahi kami," saut Jack.
"Tidak ada jawaban," ucap Harry dengan wajah merah menahan malu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Harry begitu senang karena ia kembali pulang ke rumah awal nya. Rumah tempat ia tumbuh sampai sebesar sekarang.
"Kau senang bang," tanya Justin.
"Kau seperti nya lebih senang," ucap Harry.
"Kau tau aku sudah punya pacar baru," kata Harry.
"What, kau sudah mendapatkan pacar? bagaimana bisa?"
"Aku Justin, hati ku tidak bisa kosong, tapi aku belum jadian dengan nya. Aku sedang mengejar nya," ucap Justin.
"Semangat adik abang, abang yakin kau pasti bisa," kata Harry.
"Ha bagaimana bisa?"
"Ya bisa, tapi tetap satu ruangan yang sama, biasa tempat tidur berdua," kata Justin.
"Ya sudah aku ke kamar dulu, istri ku pasti sudah menunggu ku," ucap Harry.
Di dalam kamar Audiya sudah menyiapkan perlengkapan mandi suaminya. Harry sudah berpesan jika ia ingin langsung mandi jika sampai rumah.
__ADS_1
"Audiya sudah siap," tanya Harry.
Audiya membalik tubuh nya, ia memeluk Harry dengan erat. Jika tidak sedang berdua seperti ini, ia sangat sulit mendapatkan pelukan dari Harry.
"Kapan kamu memanggil ku dengan sebutan sayang," tanya Audiya.
"Sayang." Harry mencium wajah Audiya.
"Iya sayang, begitu dong, aku ingin selalu mendengar nya," kata Audiya.
"Akan aku usaha kan, sekarang kita mandi dulu yuk," ucap Harry.
"Iya, aku bantu kamu mandi," kata Audiya.
Justin duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia merasa seperti nya ia tidak bisa berada di rumah ini. Ia masih mencintai Audiya apa yang ia katakan tadi pada Harry hanya sebuah kebohongan.
"Kau kenapa Justin," tanya Verrel.
"Kakek, kan abang sedang sakit, tidak bisa melanjutkan tugas nya, nah aku saja ya yang pergi," ucap Justin.
"Hhmmm apa kau mau, lama loh di sana," tanya Verrel.
__ADS_1
"Iya kek aku mau, aku ingin pergi bersama mu," jawab Justin dengan semangat.