
Mereka berdua kembali melakukan nya lagi, tetapi kali ini hanya Harry dan Audiya saja tanpa Justin yang pergi sejak tadi. Harry benar-benar melakukan nya dengan lembut, dari ciuman nya sampai memperlakukan Audiya seperti kakasih yang benar-benar ia cintai.
"Sayang." Audiya sudah beberapa kali sampai ke puncak nya. Tetapi Harry tidak kunjung melakuan nya. Harry benar-benar fokus pada dada nya yang sudah terasa menegang.
"Kamu sudah tidak disakit," tanya Harry sambil mencium kuping Audiya.
"Tidak," jawab Audiya.
Harry menaikan Audiya ke atas meja makan, sebelum nya Audiya turun karena tidak tahan dengan permainan yang Harry berikan. Kepala Audiya menegak ke atas saat merasakan benda besar kembali masuk ke dalam intinya. Setiap kali Harry melakukan nya benar-benar terasa sangat sakit, tapi Audiya sangat ikhlas karena Harry pria yang ada di dalam hati nya.
"Harry sakit, perlahan." Audiya mencengkram punggung Harry.
Harry mencium kembali bibir Audiya untuk mengalihkan perhatian Audiya. Saat sudah terasa nyaman untuk mereka berdua baru lah Harry mulai bergerak. Pergerakan yang Harry lakukan membuat meja makan yang kokoh itu ikut bergerak sesuai dengan irama.
"Sakit Harry, punggung ku sakit."
"Maaf." Harry menggendong Audiya tanpa melepaskan tautan itu. Ia membawa Audiya ke ranjang agar lebih nyaman untuk mereka.
Pergulatan ini berlangsung sangat lama. Harry yang memiliki pola hidup sehat dan sering berolahraga membuat nya memiliki stamina yang sangat tinggi. Satu ronde untuk Harry tetapi sudah beberapa ronde untuk Audiya, rasa nya Audiya sudah tidak kuat lagi. Begitu juga dengan Harry yang langsung memuntahkan benih nya ke dalam rahim Audiya.
__ADS_1
"Terimakasih." Harry turun dari tubuh Audiya dan memeluk nya dengan erat.
"Aku memilih mu."
"Aku tidak bisa Audiya, pilih Justin." Harry memeluk Audiya sambil mengusap wajah Audiya. Ini perhatian pertama yang Audiya dapatkan langsung dari Harry.
"Kita tetap menjalin hubungan," kata Audiya.
"Kalau begitu bagaimana kamu bisa melupakan ku, dan aku bisa melupakan mu."
"Untuk apa saling melupakan, kami cinta pertama ku, jangan begini Harry, kenapa kamu jahat sekali padaku Hiks hiks hiks," Audiya memeluk Harry sambil menangis.
"Ssssttt sudah diam jangan menangis seperti ini, ya kita tetap menjalin hubungan, tapi sebagai teman. Audiya aku tidak bisa janji pada mu. Setelah perpisahan ini, mungkin aku akan di kirim daddy keluar negeri bersama Kevin, aku harus banyak belajar. Berbahagialah bersama Justin."
"Jadi mau bagaimana lagi, sudah Audiya, tidak ada aku, Ada Justin, Justin pasti membahagiakan mu."
"Sekarang kita mandi saja, nanti Justin pulang aku tidak enak pada nya."
Harry membawa Audiya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka berdua terlihat bahagia bersama sama.
__ADS_1
"Daddy." Ternyata Justin kembali pulang ke rumah nya.
"Hey kau di sini, bagaimana dengan istri mu sayang," tanya Kenzo.
"Dia sudah baik baik saja," jawab Justin.
"Ada apa kamu datang sayang," tanya Kenzo.
"Daddy memberikan pilihan pada Audiya?"
"Hahaha iya sayang, Audiya memilih siapa, apa kamu?"
"Aku suka pada nya dad," jawab Justin.
"Hahaha ya sudah berarti dengan mu saja lah," kata Kenzo.
"Seperti nya begitu dad, aku mau pesta pernikahan yang besar dad, abang Harry juga setuju aku dengan Audiya."
"Kau yakin abang mu tidak ada perasaan pada nya," tanya Kenzo.
__ADS_1
"Yakin dong dad, abang saja sudah mengatakan nya pada ku."
"Oke kalau begitu, nanti aku akan mempersiapkan pesta yang luar biasa untuk mu."