
Justin keluar dari ruang kerja dengan tubuh yang sangat lelah, mata nya melihat ke arah Audiya dan Harry sedang berpelukan. Ia tidak masalah akan hal itu, abang nya memang tidak bisa tidur jika tidak berpelukan. Justin naik ke atas kasur dan bergabung dengan mereka berdua.
Hari demi hari berlalu, hubungan Audiya dan Harry semakin renggang. Apalagi Harry sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah karena menjalankan bisnis bersama dengan Verrel. Audiya hanya berdua di rumah bersama dengan Justin yang membuat hubungan mereka berdua semakin erat saja.
Esok adalah final keputusan Audiya, Audiya harus memilih dari suami nya. Sudah pasti jika di minta Audiya memilih Harry tetapi seperti nya tidak bisa seperti itu. Audiya harus melakukan apa yang Harry minta dan ia juga menghargai perasaan Justin.
"Halo kalian kapan pulang," tanya Justin.
"Kami masih lama pulang nya, hahaha kau bersama dengan Audiya saja di rumah."
"Hahaha jangan berbohong," kata Justin.
"Iya besok kami akan pulang, kapan Harry selesai dengan bisnis nya," tanya Kevin.
"Nanti malam dia akan pulang," jawab Justin.
"Oh ya sudah, sampai berjumpa besok, kami ingin bersenang-senang dulu," kata Kevin
"Kalian mau kemana, kalian bisa bersenang-senang tanpa ku," tanya Justin.
"Hahaha kami ingin menghibur Liam, dia sedang sangat bersedih," jawab Kevin.
__ADS_1
"Ya sudah pergi lah. Jangan membuat masalah lagi."
"Hahaha siapa kau mengatakan hal itu pada ku," kata Liam.
Justin menutup telepon itu. Ia menatap ke arah Audiya yang sedang berada di samping nya.
"Kenapa sayang," tanya Justin.
"Hmmm kapan Harry pulang," tanya Audiya.
"Malam ini, ada apa?"
"Kalau pulang aku akan memasak banyak," kata Audiya.
"Tidak papa, kamu pulang malam," tanya Audiya.
"Ya aku akan pulang malam, sebenarnya aku ingin mengajak mu tapi abang nanti siapa yang menyambut nya. Yang memasakkan nya siapa, pasti dia sangat lelah."
"Kamu sangat perhatian pada Harry," kata Audiya.
"Dia jauh lebih perhatian dari ku," ucap Justin.
__ADS_1
Seperti yang di katakan Justin, sebelum makam ia sudah pergi meninggalkan rumah. Ia pergi bersama teman-teman nya menghadiri sebuah acara. Justin pergi Audiya memasak, ia memasak dengan sangat enak untuk Harry. Di lubuk hati nya yang paling dalam Audiya benar-benar sangat merindukan Harry.
Setelah selesai masak Audiya langsung mandi. Ia tidak mungkin menyambut Harry dengan tubuh beraroma dapur. Saat Audiya berada di dalam kamar mandi, Harry sudah sampai. Ia langsung masuk ke dalam karena Harry mempunyai kunci rumah itu.
"Dimana semua orang, wah wangi sekali." Mata Harry berbinar melihat masakan yang banyak dan menyegarkan mata nya.
Harry masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya. Tanpa di duga Audiya masuk ke dalam dengan memakai handuk saja.
"Harry... Audiya..." Mereka berdua sama sama terdiam sesaat..
Audiya mendekati Harry dan langsung memeluk Harry dengan sangat erat. Handuk yang menempel di tubuh nya sampai jatuh ke bawah. Harry yang sedang bertelanjang dada langsung merasakan benda besar yang menempel di dada nya.
"Aku sangat merindukan mu."
"Begitu juga dengan ku." Harry membalas pelukan itu sambil mengecup dahi Audiya.
"Kenapa kamu pergi dengan sangat lama? aku sangat merindukanmu," tanya Audiya.
"Aku ada proyek yang kakek percaya kan pada ku, lusa aku akan kembali pergi, untuk selama nya. Tidak bukan selama nya, beberapa bulan," jawab Harry.
"Jangan pergi Harry. Hiks.. hiks.. hikss jika aku tidak bisa bersama mu, izinkan aku terus melihat mu, itu sudah lebih dari cukup untuk ku."
__ADS_1
"Aku mencintai orang yang salah, begitu juga dengan mu, Audiya percaya dengan Takdir Kita pasti akan bertemu pada waktunya jika kita berjodoh," kata Harry.