
"Bukan aku dad," kata Harry.
"Hahaha mana tau kan kau, semua bisa plot twist," ucap Kenzo.
"Bagaimana Audiya?"
"Aku pilih Justin," ucap Audiya.
"Hahaha sudah kami duga, memang itu jawaban mu," ujar Kevin.
Sakit tapi tidak berdarah, itu lah yang saat ini Harry rasakan. Rasa sakit itu diri nya sendiri lah yang membuat nya, melihat Justin tersenyum bahagia membuat Harry sedikit mengobati rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Sudah kan, Lusa akan kami atur perceraian kalian," kata Kenzo.
"Oh iya aku juga ingin memberikan pengumuman Lusa aku juga akan pergi bersama kakek, mungkin tiga sampai enam bulan," ucap Harry.
"Abang kenapa pergi si, aku bagaimana?"
"Hahaha kau sudah punya istri, jangan manja seperti ini pada ku," kata Harry.
"Sudah biarkan dia pergi, kalau mau kau gantikan dia," saut Kenzo.
"Hahaha tidak dad, aku kan sudah punya istri," kata Justin.
"Jadi kami pindah ke rumah lama dad, kan sudah selesai semua nya. Di sana ada kamar di dalam kamar untuk Justin dan Audiya," ucap Jack.
"Untuk sementara iya, kalian kan pasti akan mempunyai istri masing-masing, daddy sedang membuat rumah untuk kalian berlima. Kalian tunggu saja ya," kata Kenzo.
"Siap dad," ucap mereka semua.
__ADS_1
Audiya hanya tersenyum kecil. Mata nya tidak bisa mengelak dari wajah Harry, terkadang tatapan mereka berdua bertemu. Mereka berdua sama sama merasakan rasa sakit di hati mereka.
"Aku ingin keluar," kata Harry.
"Kemana bang ikut," ucap Justin.
"Aku ingin sendiri." Harry pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa dengan nya," tanya Andy.
"Dia mungkin sedang memikirkan kepergian nya lusa, dia tidak pernah pergi lama dan jauh dari kita," jawab Jack.
"Mungkin saja," kata Kevin.
Harry tidak tau harus kemana, ia membawa mobil nya keliling kota, sampai akhirnya mobil Harry terhenti di sebuah cafe tempat mereka berlima biasanya berkumpul. Harry memesan semua makanan manis, dengan harapan hati nya bisa manis seperti makanan yang ia makan.
"Iya," kata Harry.
"Ingin bernyanyi hari ini sedang kosong," ucap Vegas.
"Hmmm boleh, hanya satu lagu ya," kata Harry.
Suara Harry tidak begitu bagus, tetapi bisa di katakan Harry cukup bisa bernyanyi. Bernyanyi di sebuah cafe tidak terlalu memerlukan suara yang begitu bagus. Percaya diri saja sudah lebih dari cukup.
Harry mengambil gitar dan mulai mengambil posisi nya. Ia ingin menyanyikan satu lagu yang terlintas sepintas di otak nya.
Lirik.
Semua yang ku mau, hanya sedikit waktumu, untukku
__ADS_1
Hanya satu pesan singkat, Sedang apa dirimu?
Awal pertemuan kau sangat peka padaku, dan itu dulu
Rasa yang terlanjur dalam, kau buatku semakin bodoh
Oh mengapa harus kulihat kau dengan dirinya
Terluka tapi tak berdarah.
Ajarkan aku cara tuk melupakanmu
Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu
Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya
Sebelum aku trauma mencintai sosok yang baru lagi
Sebelum lagu nya selesai Harry sudah turun dari atas panggung dan pergi meninggalkan tempat itu. Hal itu membuat semua orang heran.
"Ahh kenapa aku jadi seperti ini, ini keputusan yang aku buat." Harry memukul stir mobil nya, ia sangat kesal pada diri nya sendiri.
Sebelum malam Harry sudah kembali pulang ke rumah. Mood jelek nya berusaha ia tinggalkan du luar sana. Ia tidak mungkin memasang wajah kesal di depan semua orang.
"Justin apa takdir itu ada?"
"Jelas ada lah, aku dan kamu di takdirkan bersama."
"Kalau kita tidak di takdirkan bersama bagaimana?
__ADS_1