Permaisuri Yang Dingin Tetapi Sangat Kucintai

Permaisuri Yang Dingin Tetapi Sangat Kucintai
Part 22 Berjalan-jalan Di Pantai Sendirian.


__ADS_3

Kaisar James sudah tidur terlelap dengan Ariana dalam pelukannya. Ariana untuk pertama kalinya, merasakan hati dan pikirannya tidak bekerja sama di saat melaksanakan kewajibannya sebagai Kaisar James. Pikirannya membenci Kaisar James yang berwajah mirip David, dan Ariana selalu memejamkan mata setiap kali mereka berdua melakukannya. Tetapi belakangan ini Ariana mulai menikmati perlakuan Kaisar James kepadanya. Ariana bingung dengan perasaannya kepada Kaisar James. Ariana perlahan-lahan melepaskan tangan Kaisar James yang sedang memeluknya, dan Ariana pun duduk di pinggir ranjang memandangi wajah Kaisar James, suaminya yang sedang terlelap. Wajah tampan itu mirip sekali dengan David dan melihat wajah tampan Kaisar James, membuat Ariana selalu teringat pengkhianatan David yang menoreh luka yang sangat dalam di hatinya.


"Hatiku sakit setiap melihat wajahmu, pilu tetapi setiap hari aku harus selalu berinteraksi denganmu, James," batin Ariana di dalam hatinya.


"Anehnya, belakangan ini perasaanku campur aduk kepadamu. Aku membencimu tetapi kelembutan sikapmu terhadapmu membuat aku mulai menikmati hubungan kita," batin Ariana lagi di dalam hatinya.


Ah," ******* Ariana terdengar di saat Ariana menghela napas karena dadanya terasa sesak oleh rasa sakit. Untuk menghilangkan rasa sedih dan sakit yang dirasakan olehnya, Ariana memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai.


Ariana mengenakan jubahnya dan berjalan keluar kamar dan perlahan-lahan menutup pintu kamar agar Kaisar James tidak terbangun. Ariana memperhatikan sekelilingnya sepi dan memutuskan lewat pintu yang khusus diperuntukkan bagi para pelayan untuk keluar masuk, dan pastinya tidak ada pengawal yang berjaga di pintu tersebut. Ariana terus saja berjalan ke pintu khusus keluar masuk pelayan, dan benar saja tidak ada yang berjaga di pintu tersebut. Ariana dengan gampang keluar meninggalkan villa dan berjalan ke arah pantai. Walaupun sudah malam, di pantai masih ada cahaya obor yang memang sengaja ditempatkan di pantai, sehingga pantai tidak sepenuhnya gelap gulita. Ariana berjalan-jalan perlahan-lahan dan akhirnya sampai di tepi pantai. Ariana berdiri di tepi pantai tersebut dan memandang laut dan ombak yang datang memecah tepi pantai. Sudah empat Minggu Kaisar James dan dirinya berbulan madu di villa ini. Suasana villa ini berada di tepi pantai sehingga keromantisan selalu tercipta ketika Kaisar James mengajak istrinya, Ariana berjalan di tepi pantai pada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Di pantai Kaisar James selalu memeluknya dengan mesra dan bahkan pernah bercinta dengannya.


Ariana yang menatap deburan ombak dan memandang langit malam merasakan kesunyian yang amat besar di hatinya. Rasa sakit akibat dikhianati oleh David selalu membayanginya dan membuat hatinya sakit dan sedih setiap melihat Kaisar James. Malam ini Ariana merasa rindu yang teramat sangat kepada kedua orang tuanya. Sudah lama Ariana tidak bertemu dengan mereka.

__ADS_1


'Bagaimana kabar Ibu dan ayah?" batin Ariana di dalam hatinya.


"Mereka pasti sangat sedih dengan keadaanku, dan tidak bisa bertemu denganku," ujar Ariana.


Ariana yang kuat itu merasa hatinya sangat sedih dan entah kenapa air mata Ariana jatuh begitu saja dan jatuh menetes di pipinya. Ariana merasa kesepian di negara ini, merasa asing dan sangat rindu dengan orang tuanya. Ariana walaupun sudah menjadi permaisuri di negara ini dan mempunyai seorang suami, penguasa negeri ini tetap saja merasa sangat kesepian. Kaisar James teramat baik kepadanya, memperlakukannya dengan lembut bahkan sangat mencintainya. Tetapi tetap saja, Ariana merasa kesulitan untuk mencintai James, rasa sakit di hatinya selalu menyiksanya setiap menatap wajah Kaisar James. Sungguh kedua wajah itu serupa yang membedakannya hanya warna rambut dan warna mata. Ariana sungguh sedih bisa berada di tempat ini di abad 18, dan menjadi istri dari seorang Kaisar yang wajahnya serupa David.


Ariana berteriak kencang di tepi pantai itu, melampiaskan segala rasa yang ada di hatinya. Ariana berteriak sekencangnya sampai suaranya menjadi serak. Ariana terduduk di pasir dan melamun sambil memandangi laut dengan air mata yang masih berjatuhan.


"Aku membencimu David," Ariana menjerit lagi sekencangnya. Teriakan Ariana mewarnai malam yang sunyi ini. Di saat Ariana sedang menangis dan berteriak tiba-tiba Ariana merasa perutnya kram dan rasanya sangat menyakitkan.


"Sakit," ujar Ariana sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


Ariana terduduk sambil memegangi perutnya, kram. Air mata kesedihan dan air mata kesakitan Ariana jatuh menetes di pipi Ariana. Ariana hendak kembali ke villa dan meminta pertolongan pada Kaisar James, suaminya tetapi Ariana yang kesakitan tidak kuat menggerakkan kakinya untuk melangkah. Rasa sakit itu bahkan lebih kuat dari sakit ketika menstruasi biasanya setiap menstruasi Ariana merasa perutnya kram tetapi tidak pernah sesakit ini. Ariana terus memegangi perutnya dan secercah kesadaran menyelinap di benak Ariana bahwa bulan ini Ariana belum mendapat menstruasi dan Ariana sudah terlambat lima hari dari jadwal menstruasi Ariana.


"Mengapa sakit seperti ini?' tanya Ariana sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


"James," Ariana merintih sakit sambil memegangi perutnya. Rasa sakit itu perlahan-lahan membuat kesadaran Ariana menghilang. Ariana merasa pandangan matanya mulai kabur dan Ariana yang sedang berjongkok sambil memegangi perutnya, perlahan-lahan terjatuh ke pasir dan tidak bergerak lagi. Ariana pingsan karena rasa sakit di perutnya yang sangat menyakitkan.


Sementara itu, di kamar yang dingin di atas ranjang yang berukuran besar itu, Kajsar James yang sedang tidur nyenyak, bermimpi buruk, Permaisuri Ariana yang sangat dicintainya sedang berdiri di pantai menghadap laut lepas, air mata bercucuran di pipi Ariana. Ariana menangis dan berteriak-teriak di pantai, meneriaki namanya dan menjeritkan kata-kata yang berisikan kebencian Ariana kepada dirinya.


"Aku sangat membenci dirimu James. Sampai kapanpun aku tidak akan mencintaimu," jerit Ariana sambil bercucuran air mata.


"Ariana, tidak," jerit Kaisar James yang akhirnya terbangun dengan keringat bercucuran di dahinya.

__ADS_1


Kaisar James memegangi dadanya yang terasa sesak, karena ketakutan kehilangan istrinya, Ariana.


__ADS_2