
Anne mengambil cangkir teh yang ada di rak kemudian mengambil teko dan seorang pelayan yang bekerja di dapur membantu Anne menghidupkan kompot dan menuangkan secukupnya air bersih ke dalam teko tersebut lalu kemudian mendidihkan air tersebut. Anne menuangkan teh secukupnya ke dalam cangkir dan kemudian mengambil sebuah toples kaca yang terletak di atas rak dan menuangkan sedikit gula ke dalam.cangkir teh tersebut. Anne kemudian menuangkan air panas secukupnya ke dalam cangkir tersebut dan kemudian mengaduk gula pasir yang berada dalam cangkir tersebut hingga larut. Cangkir itu cukup besar. Anne membuat teh hangat itu dengan tangan Anne sendiri untuk suaminya, Menteri Kenzo.
"Dimana botol yang berisi minyak eucalyptus ditaruh?" tanya Anne kepada pelayan yang ada di sampingnya.
Anne jarang memakai minyak eucalyptus sehingga tidak mengetahui dimana botol yang berisikan minyak eucalyptus disimpan.
"Ada di lemari kaca di dapur, sebentar akan Saya ambilkan," ucap pelayan tersebut dan kemudian berjalan ke lemari kaca yang terletak di dapur dan mengambil botol minyak eucalyptus yang ada di lemari kaca tersebut. Pelayan tersebut kemudian berjalan menghampiri Nyonya Anne yang berdiri di dekat kompor dan kemudian menyerahkan botol kaca tersebut kepada Nyonya Anne.
Anne menerima botol yang berisikan minyak eucalyptus tersebut dan kemudian meminta tolong diambilkan sebuah nampak yang cukup tinggi sehingga cangkir teh dan botol yang berisikan minyak eucalyptus tidak akan terjatuh pada saat dibawa.
Anne kemudian membawa nampan dengan cangkir teh dan botol eucalyptus berjalan ke kamar. Sesampainya di kamar Anne melangkah menuju ke tempat tidur dan meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil yang terletak di sisi tempat tidur.
"Kenzo," ucap Anne sambil mengguncang pelan bahu Menteri Kenzo yang berbaring memunggungi Anne.
Menteri Kenzo yang sedang berbaring merasa ada yang mengguncang bahunya dengan pelan, dan perlahan-lahan Menteri Kenzo membuka matanya dan kemudian membalikkan punggungnya ke arah Anne. Menteri Kenzo kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang, dan Anne memberikan cangkir yang berisikan teh hangat itu kepada Menteri Kenzo.
"Minumlah," ucap Anne dengan lembut kepada Kenzo.
Menteri Kenzo mengambil cangkir dari tangan Anne dan perlahan-lahan meminum teh hangat itu sampai habis, dan setelah itu mengembalikan cangkir kepada Anne. Anne menerima cangkir teh itu dan kemudian menaruh cangkir teh itu di atas meja kecil yang terdapat di samping tempat tidur.
"Aku bantu oleskan minyak eucalyptus ya," ucap Anne sambil mengoleskan minyak eucalyptus ke punggung, dada, dan leher Menteri Kenzo. Anne mengoleskan minyak eucalyptus secara merata di punggung, dada, dan leher Menteri Kenzo.
__ADS_1
"Sudah selesai, Kenzo," ucap Anne setelah mengoleskan minyak eucalyptus tersebut di dada, punggung, dan ke leher Menteri Kenzo.
"Iya, terima kasih Anne," ucap Menteri Kenzo sambil tersenyum.
"Aku tidur dulu," ucap Menteri Kenzo.
"Iya," ucap Anne.
Anne memperhatikan Menteri Kenzo yang kemudian kembali berbaring dan memejamkan mata. Tidak lama kemudian Menteri Kenzo sudah tertidur. Kecurigaan mulai muncul di pikiran Anne karena Menteri Kenzo mengeluh pernapasannya terganggu. Hidung Menteri Kenzo tersumbat seperti akan mengalami flu. Anne teringat akan racun yang dimasukkan oleh Anne ke dalam roti Croissant. Racun yang dipergunakan oleh Anne untuk membunuh Permaisuri Ariana dan supaya tidak menimbulkan kecurigaan Anne memasukkan racun tersebut ke dalam roti Croissant.
"Racun itu ada di dalam roti yang aku berikan kepada Permaisuri Ariana," batin Anne di dalam hatinya.
"Roti Croissant yang berada di meja di ruang tengah sama sekali tidak beracun," batin Anne dengan rasa panik yang mulai menyergap di hati Anne.
Anne memejamkan matanya dan berusaha mengingat perkataan ibunya dahulu tentang racun yang berasal dari bunga yang tumbuh di hutan. Ibu Anne dahulu mengatakan akan timbul warna kebiruan yang samar di telapak tangan dan jari jemari tangan. Seseorang yang terkena racun ini akan sulit bernapas dan akan meninggal duapuluh empat jam kemudian. Jangka waktu duapuluh empat jam ini bisa jauh lebih singkat untuk orang yang daya tahan tubuhnya lagi lemah. Anne dengan rasa panik yang mulai.mrncengkeram di hatinya mengangkat tangan Menteri Kenzo yang sudah tertidur, dan Anne memeriksa telapak tangan Menteri Kenzo.
"Tidak," ucap Anne dengan mata yang melebar ketika melihat di telapak tangan dan jari jemari Menteri Kenzo muncul warna kebiruan yang samar.
"Tidak," ucap Anne yang perlahan-lahan terduduk di lantai karena terkejut melihat telapak tangan dan jari jemari Menteri Kenzo yang berwarna kebiruan.
"Bagaimana mungkin Menteri Kenzo bisa memakan roti Croissant yang berisikan racun tersebut?" batin Anne dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipinya.
__ADS_1
Anne tidak mengetahui cara untuk membuat obat penawar racun tersebut dan hanya ibunya saja yang dapat membuat obat penawar untuk racun tersebut. Ibunya mengatakan tidak ada seorang pun tabib atau ahli pengobatan yang dapat membuat obat penawar racun bunga tersebut. Hanya ibunya yang bisa, tetapi Ibu Anne sudah lama meninggal.
Air mata Anne jatuh bercucuran di pipi Anne. Racun yang seharusnya untuk mematikan Permaisuri Ariana bagaimana bisa justru suaminya Menteri Kenzo yang keracunan?. Pertanyaan itu muncul di kepala Anne yang mendadak terasa ingin pecah karena kenyataan yang dihadapi oleh Anne.
"Aku telah meracuni suamiku sendiri," ucap Anne dengan wajah yang kalut. Sebuah ekspresi keterkejutan dan ketidakpercayaan tampak di wajah Anne.
"Aku membunuh suamiku sendiri," ucap Anne dengan tangis yang akhirnya pecah.
"Aku tidak sengaja menyelamatkan dirimu Kenzo," ucap Anne sambil menangis.
"Tidak mungkin aku ingin mencelakakan mu, Kenzo," ucap Anne sambil menangis.
"Aku mencintaimu," ucap Anne sambil tersedu sedan.
"Yang seharusnya mati adalah Permaisuri Ariana," ucap Anne dengan tangis yang pecah dan badan yang berguncang karena tangisan Anne sendiri.
Anne terus saja menangis di lantai kamar dan setelah beberapa jam kemudian perlahan-lahan tangis Anne mereda. Tampak sinar mata yang tidak wajar ada di mata Anne.
Menjelang tengah malam, Menteri Kenzo meninggal dalam tidurnya dengan tubuh yang membiru. Tak ada pesan, dan tak ada kata-kata yang terucapkan dari Menteri Kenzo.
Anne terduduk di lantai dengan posisi yang sama dan tidak berubah sejak berjam-jam yang lalu. Sinar mata yang tidak wajar tampak dari mata Anne yang hanya duduk terdiam di lantai. Anne sangat terguncang dengan fakta bahwa bukan Permaisuri Ariana yang kena racun dari roti Croissant yang diberi racun oleh Anne. Yang memakan roti Croissant yang berisikan racun itu adalah suaminya Menteri Kenzo. Menteri Kenzo tewas oleh tangan Anne sendiri.
__ADS_1
.