Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Sepuluh


__ADS_3

Adi menatap kepergian Siti, membuat hati Anggun sedikit kesal. Ia menarik dagu Adi agar menatapnya. “Jangan bilang kamu mulai tertarik pada istrimu itu,” tuduh Anggun.


“Mau sarapan di luar?” tanya Adi mengalihkan pembicaraan.


Anggun menggelengkan kepalanya. “Di sini saja, ayo makan,” jawab Anggun seraya menarik tangan Adi agar mengikutinya.


Galih yang sedari tadi diam, ikut memulai sarapan saat Adi dan Anggun mulai makan. Sementara Bi Inem menyediakan minum untuk para majikannya.


Galih melirik ke arah Anggun yang tampak bersemangat mengambil beberapa macam makanan ke dalam piringnya. Sementara Adi yang trauma akan kejadian kemarin mengambil nasi serta lauk lebih sedikit dari kemarin.


Sarapan pagi akhirnya selesai Galih menghampiri Adi. “Tuan, Nona Siti meminta ijin untuk pergi belanja dengan Bi Inem,” ucap Galih.


Adi mengangguk, ia tidak akan mempermasalahkan hal sepele.


“Kalau begitu saya permisi Tuan,” pamit Galih. Ia berjalan ke arah Bi Inem yang sedang merapikan meja makan. “Nanti Bibi ajak Siti untuk berbelanja,” perintah Galih.


“Baik Tuan,” jawab Inem patuh.

__ADS_1


Sesekali Inem melirik ke arah Adi dan Anggun yang masih duduk menikmati buah.


“Aku ingin tinggal di rumah ini juga boleh?” tanya Anggun.


“Jangan mengada-ngada Anggun,” jawab Adi.


Anggun melipat kedua tangannya di dada. “Wanita kampung itu tinggal di sini. Aku juga mau tinggal bersama di rumah ini,” rajuk Anggun.


Inem yang mendengar permintaan tidak masuk akal Anggun sangat kesal hanya mendengarnya saja, apalagi jika itu benar terjadi Inem tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Siti.


“Yang ada Papa dan Ibuku akan mengusirku dari rumah ini. Jelas-jelas ini rumah pemberian mereka untuk pernikahanku. Kamu tidak ingin kan jika aku jatuh miskin,” ancam Adi. Dia tidak ingin membuat masalah, apalagi permintaan Anggun terlalu berbahaya.


Adi merasa kelakuan Anggun semakin ada-ada saja setelah kedatangan Siti. “Aku akan meminta Galih mencarikan apartemen yang lebih besar,” tandas Adi.


“Tidak mau,” tolak Anggun. “Aku ingin rumah juga,” ucap Anggun mengungkapkan keinginannya.


“Iya, nanti aku minta Galih untuk mencarikan rumah baru untukmu,” jawab Adi cepat. Ia tidak mau memusingkan keinginan Anggun yang cukup merepotkan.

__ADS_1


Anggun bersandar dengan manja pada bahu Adi. “Terima kasih sayang,” ucap Anggun. Ia senang permintaannya di turuti oleh Adi.


“Kamu tidak berangkat kerja?” tanya Adi.


Anggun menarik diri dan menatap kekasihnya. “Ah iya, aku melupakan hal itu. Aku berangkat kerja dulu ya sayang,” pamit Anggun. Ia memberikan kecupan di pipi Adi sebelum pergi.


Anggun menatap Inem sejenak, asisten rumah tangga itu sejak tadi menguping dan tertangkap basah oleh Anggun sedang memperhatikan dirinya. “Apa Anda punya masalah dengan saya?” tanya Anggun.


Inem menundukkan kepalanya, “Maaf Nona.”


“Kau ini hanya babu di sini, tidak usah ikut campur atas urusan majikanmu!” bentak Anggun.


“Iya Nona, maaf,” ucap Inem dengan nada takutnya tanpa berani menatap Anggun.


Anggun keluar dari rumah Adi, ia harus segera sampai ke kantor. Sebetulnya jabatannya sebagai sekretaris hanya embel-embel saja. Sebab semua tugas sekretaris bukan Anggun yang mengerjakan. Seperti biasa sesampainya di kantor Anggun membawa beberapa map dari meja kerjanya menuju ruangan CEO.


Anggun mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan. Ia menundukkan kepalanya memberi hormat, menyimpan map yang ia bawa ke atas meja.

__ADS_1


Pria yang duduk di kursi kerja CEO menatap lapar ke arah Anggun. Baju dengan bagian bukit yang rendah memperlihatkan gundukan yang menyembul. Baju yang di kenakan Anggun membentuk sempurna tubuh Anggun yang bak model.


Melihat kilatan nafsu di wajah atasannya Anggun menghampiri kursi kerja CEO. Ia duduk di pangkuan CEO, meraba titik sensitif. Sudah satu tahun lamanya ia bekerja di posisi ini, pemuas nafsu atasannya.


__ADS_2