
“Apa rasanya sakit sekali kehilangan orang tua?”
Siti tersenyum ke arah suaminya. “Sakit, bahkan jika di bandingkan dengan Mas yang berselingkuh sakitnya seratus kali lipat,” jawab Siti.
Adi terdiam memikirkan ucapan Siti. Ia tidak pernah takut jika harus merasakan kehilangan orang tuanya.
“Memangnya Mas tidak takut kehilangan orang tua?”
Dengan entengnya Adi menggelengkan kepalanya.
“Apa Mas lupa siapa yang mengandung Mas, melahirkan mas ke dunia. Membesarkan mas dengan sepenuh hati, berjuang untuk membiayai kehidupan Mas. Papa dan ibu yang melakukan itu semua pada Mas dengan penuh kasih sayang, memberikan yang terbaik untuk Mas.”
Adi terdiam lagi, ia tidak merasakan hal yang di ucapkan Siti. “Sepertinya ucapanmu tidak cocok pada kehidupanku,” ujar Adi. Seingatnya saat kecil ia di asuh oleh pengasuh.
“Aku dan orang tuaku tidak sedekat yang kamu pikir, bahkan mereka tidak pernah mengerti keinginanku. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan menikahkan aku denganmu. Yang bahkan wanita yang tak pernah aku kenal sama sekali,” ujar Adi.
__ADS_1
“Setiap orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mungkin ini cara yang terbaik untuk Mas,” jawab Siti dengan suara lembut serta senyuman di bibirnya.
“Kenapa kamu mau menikah denganku, karena aku tampan?” tanya Adi.
Siti tersipu, ia menggelengkan kepalanya. “Bukan karena mas Tampan, tapi karena Siti ingin menikah. Menyempurnakan separuh agama, dan menggapai cita-cita Siti agar dapat menjadi istri Solehah.”
“Pikiran bodoh macam apa itu,” ketus Adi. “Kamu menerima pinangan bahkan pada pria yang tidak kamu kenal sama sekali. Ucapan kamu ingin menjadi istri Solehah, dengan menikahi pria yang bahkan tidak tertarik padamu. Bukan hanya itu, sekarang kamu tahu aku memilih wanita yang ku cintai dan masih ingin menggapai cita-cita bodohmu. Kamu salah tempat, bukan aku orangnya.”
“Mas kita sudah berjodoh, dan aku yakin itu. Allah melancarkan acara pernikahan kita, jika tidak berjodoh pernikahan kita tidak akan terselenggara. Saat Mas mengucapkan ijab qobul, saat itu pula aku menaruh harapan besar atas cita-cita yang ingin aku gapai-“
“Satu hal yang perlu mas tahu, aku sangat bersyukur memiliki Mas,” tutur Siti.
Adi memilih keluar dari kamar Siti, dengan perasaan dongkol. Siti terlalu bodoh, “Bersyukur katanya? Aku yang terkena sial memiliki istri yang tak pernah ingin aku nikahi,” gerutu Adi.
Siti tersenyum melihat wajah kesal Adi, ia segera turun dari tempat tidur dan menyusul Adi keluar dari kamar.
__ADS_1
Saat keluar dari kamar Siti melihat punggung Adi, ia berjalan cepat meraih tangan Adi dan menariknya keluar dari rumah.
“Jangan menarikku,” ketus Adi.
Siti menghentikan langkahnya, ia menatap wajah suaminya. Siti mengecup punggung tangan Adi yang ia pegang. Pipi Siti bersemu merah, ia menundukkan wajahnya. “Ayo, Siti antar ke tempat makan,” ujar Siti kembali menarik tangan Adi.
Adi terheran-heran dengan tingkah Siti, ada getaran aneh saat Siti mengecup punggung tangan Adi. Ini kali kedua, saat akad nikah rasanya tidak seperti ini. Adi berjalan mengikuti tarikan dari tangan Siti.
Terhalang sepuluh rumah dari rumah Siti berdiri tempat makan, seperti warteg. Namun sepertinya tempat makan tersebut tutup. “Yah tutup Mas,” ujar Siti.
Adi menarik tangannya dari pegangan Siti. “Kamu sangat merepotkan tahu!” bentak Adi.
“Mas tidak berkaca ya, mas yang merepotkan. Harusnya mas bisa makan sendiri tanpa di suruh. Kalau mas sakit nanti siapa yang repot,” tutur Siti.
“Dari pada cerewet seperti ini, mending kamu diam saja atau menangis saja. Telingaku sakit mendengar suaramu,” ucap Adi tajam. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Siti.
__ADS_1