Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Tiga Puluh


__ADS_3

“Adi tidak memberikan haknya, bahkan ia tidak pernah menyentuhmu. Kamu seharusnya sadar diri, bahwa kamu bukan istri yang sesungguhnya. Kamu juga berhak meminta cerai, tapi apa yang kamu perbuat? Kamu berdiri di sini dan bertahan seolah kamu yang paling tersakiti dalam hubungan ini!”


Siti tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari Anggun, sebuah fakta yang menyakitkan dan tidak bisa Siti tampik. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat aku hadir di kehidupan kalian. Tapi aku di sini hadir karena Mas Adi yang datang melamarku, terlepas maksud dan tujuannya meminangku bagiku itu tindak penting. Karena aku di pilih Mas Adi untuk menjadi istrinya, aku ada di sini sebagai istri sah mas Adi. Jika memang Mas Adi ingin menceraikanku, aku tidak keberatan. Aku siap mendapat talak dari mas Adi sekarang juga,” tantang Siti.


Adi terdiam sejenak, dia memang sangat ingin berpisah dengan Siti. Namun jika itu terjadi semuanya tidak akan menjadi mudah, terlebih ia menikah dengan Siti karena ancaman. Jika sampai bercerai Adi sudah sangat yakin orang tuanya akan kecewa dan mengambil seluruh sahamnya, perusahaan yang di bangun Adi belum siap berdiri sendiri. Kemungkinan besarnya ia harus merelakan perusahaan miliknya sekarang, dan kembali membangun dari awal. Dan semua itu tidak akan mudah.


“Cepat sayang, talak dia,” pinta Anggun. Ia menatap Adi dengan penuh harap.


Siti melapangkan hatinya, namun jauh dalam benaknya ia tetap berdoa semoga Allah memberikan kesempatan untuk pernikahannya.


Adi menarik Anggun keluar dari ruang makan.


“Lepas sayang, kenapa kamu menarikku cepat talak gadis kampung itu,” protes Anggun sambil berusaha melepaskan tangan Adi.


“Kita perlu bicara sayang,” jawab Adi.


Siti memandang kepergian suaminya berserta Anggun. Siti dapat bernafas lega karena Adi tidak menjatuhkan talak. ‘Alhamdulillah.’


Adi membawa Anggun ke kamar mereka. Anggun segera menatap tajam ke arah Adi dengan wajah kesalnya, karena Adi tidak menjatuhkan talak pada Siti.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Sayang. Kamu sedang hamil, kita akan membutuhkan biaya banyak untuk kehamilanmu dan biaya melahirkan nanti. Jika aku bercerai orang tuaku tidak akan tinggal diam, bisa-bisa aku kehilangan perusahaanku. Lalu bagaimana aku bisa mencukupi kebutuhanmu? ... bekerja pada orang dengan gaji pas-pasan tidak akan cukup untuk membiayai kehidupan kita dan kandunganmu. Coba pikirkan baik-baik,” ucap Adi menjelaskan pemikirannya.


Anggun melipat kedua tangannya di dada, ia membalikkan tubuhnya memunggungi tubuh Adi. Apa yang di ucapkan Adi memang benar, tapi ia juga tidak tahan melihat kehadiran Siti. Dia memang tidak menganggu, tapi Anggun takut jika terlalu lama Adi akan luluh. Dia juga tidak bisa terus menerus tinggal di rumah ini. Bagaimana jika ternyata orang tua Adi tiba-tiba datang ke rumah ini, yang ada dirinya akan di usir oleh orang tua Adi.


Adi memeluk tubuh Anggun dari belakang. “Sayang,” panggil Adi dengan suara lembutnya.


“Aku akan mencari cara untuk menyingkirkan Siti tanpa perlu perusahaanku terancam gulung tikar. Aku mohon kamu bersabar sedikit saja ya, sayang.”


Anggun yang masih marah tidak menjawab ucapan Adi. Bibirnya terkatup rapat-rapat.


Akhirnya Anggun luluh dan melirik Adi, “Janji?”


“Iya sayang, aku janji.”


***


Siti membuka pintu kamarnya saat mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. “Ada apa?” Tanya Siti saat melihat Galih yang berdiri di depan pintunya.

__ADS_1


“Tuan meminta saya untuk menemani nona mencari tempat kuliah,” jawab Galih.


Siti menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga. Ia duduk di sofa dan menatap ke arah Galih yang berdiri tidak jauh darinya.


“Aku ingin kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah,” ujar Siti.


Galih memberikan brosur yang sudah ia pilih. “Ada empat kampus yang jaraknya tidak jauh dari rumah,” jawab Galih.


Siti menerima brosur yang di berikan Galih, ia melihat isi dalamnya. “Menurutmu yang mana yang bagus?”


“Semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Nona bisa melihatnya secara langsung, saya bisa mengantarkan nona sekarang untuk melihat-lihat,” ucap Galih.


“Kalau begitu tunggu sebentar, aku ambil tas dulu,” ujar Siti.


Galih mengangguk mempersilahkan.


Siti berjalan ke kamarnya dan mengambil tas miliknya. Ia berjalan hendak menemui Galih namun Anggun menghadang jalannya.


“Mau ke mana upik Abu rapi sekali, mau melarikan diri dari kenyataan?” Sindir Anggun.

__ADS_1


__ADS_2