
“Kamu masih tidak percaya dengan ucapan Papa? Bahkan bisa jadi anak yang di kandung Anggun bukan anakmu, melainkan anak dari pria lain.”
Adi mengepalkan tangannya mendengar ucapan Gunawan. “Aku akan buktikan jika anak yang di kandung Anggun adalah darah dagingku,” ujar Adi berapi-api. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Ia sudah tak berselera untuk makan.
Siti ikut bangkit dari duduknya hendak menyusul Adi, namun suara ibu mertuanya menginterupsi.
“Tidak perlu di kejar Siti, beri waktu untuk Adi sendirian.”
Siti mengangguk dan kembali duduk, melanjutkan makan malamnya. Pertengkaran barusan membuat semua orang yang ada di meja makan menikmati makan malamnya tanpa bersuara.
Gunawan menatap ke arah Siti. “Siti apa kamu ingin melanjutkan pendidikanmu?”
Siti menatap ke arah mertuanya. “Siti ingin kuliah, tapi nanti saja. Siti tidak ingin merepotkan Papa, ibu dan Mas Adi.”
“Loh tidak apa-apa, besok kan sudah mulai pembukaan pendaftaran untuk kuliah. Papa akan suruh Adi mengantarmu untuk memilih kampus yang kamu inginkan,” ujar Gunawan. Ia ingin Siti memiliki pendidikan tinggi, apalagi memiliki anak yang bergelar sarjana merupakan impian Agus. Dan sebagai rasa terima kasih Gunawan ingin mewujudkan impian besannya.
“Tidak usah Pa, biar Siti mencari pekerjaan lebih dulu,” tolak Siti ia pernah mencoba kuliah selama dua semester namun keuangan orang tuanya yang tidak dapat menutupi uang kuliah membuat Siti berhenti. Bahkan setelah itu Siti hanya bekerja di ladang bersama orang tuanya, lalu mendapatkan tawaran untuk mengajar di taman kanak-kanak.
“Tidak boleh menolak Siti,” ucap Gunawan bersikukuh.
Siti menunduk wajahnya. “Terima kasih Pa, Bu. Maaf kalau Siti merepotkan kalian.”
__ADS_1
Indira sangat senang dengan wanita pilihan Gunawan. Meskipun gadis desa, tapi rasa sopan santunnya patut di acungi jempol. Apalagi rasa sabar Siti begitu luas saat menghadapi Adi. Indira berharap bahwa pernikahan Siti dan Adi akan membaik dan seperti pasangan suami istri yang selayaknya.
“Tidak perlu sungkan begitu Siti, anggaplah kami juga orang tua kandungmu sendiri,” jawab Gunawan.
Siti senang merasa di terima oleh orang tua Adi, meskipun ia belum berhasil mendapatkan hati suaminya. Siti tersenyum ke arah mertuanya, mereka kembali makan dengan perbincangan seputar kampus terdekat. Sampai tak terasa makanan mereka habis.
Siti membantu merapikan meja makan, ia melihat piring Adi yang baru beberapa suap di makan. Siti mengambil piring baru dan mengisinya dengan makanan, lalu menyimpannya di atas nampan serta segelas air. Siti membawa nampan tersebut ke kamar, betul saja dugaan Siti suaminya berada di dalam kamar.
Siti mendekat pada Adi. “Mas, ini makan malamnya,” ujar Siti menyerahkan nampan yang ia bawa.
Kemarahan Adi belum usai, ia semakin kesal melihat wajah tenang Siti. Tangan Adi menepis nampan tersebut hingga isinya tumpah ke lantai.
Adi memalingkan wajahnya, ia berusaha tidak peduli dengan rintihan Siti.
Siti menahan rasa sakit di kakinya, ia duduk pada pinggiran tempat tidur. Tubuh Siti condong ke bawah, ia menarik nafasnya lalu mencabut pecahan gelas. Siti menggigit kecil bibir bawahnya, saat rasa sakit menyeruak. Darah segar keluar dari punggung Kaki Siti membasahi sandal jepit yang ia pakai. Dengan tertatih Siti berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan lukanya.
Siti menahan rasa sakit saat lukanya terkena Air, setelah lukanya bersih Siti mencari kotak obat. Beruntung ia menemukannya dan segera membalut lukanya. Setelah selesai membalut lukanya, Siti keluar dari kamar mandi dan melihat ibu dan papa mertuanya ada di kamar.
“Apa yang terjadi Siti?” tanya Gunawan pada menantunya karena Adi tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Siti tadi membawa makan untuk Mas Adi, namun tidak jalan dengan baik hingga tersandung dan jatuh,” ucap Siti berbohong.
__ADS_1
Gunawan tidak sepenuhnya percaya, apalagi sikap tidak peduli Adi membuat Gunawan menyimpulkan kejadian sesuai versinya. Ia yakin Adi bersikap kasar, terlebih Adi tidak pandai mengontrol emosi. Gunawan memandang jempol kaki Siti yang terbalut perban. “Apa lukanya besar, mau di periksa ke rumah sakit?” tanya Gunawan.
“Tidak perlu pa, sudah Siti obati kok,” tolak Siti.
“Kamu tuh istri terluka masih bisa berdiam seperti itu, suami macam apa kamu,” ujar Indira pada Adi.
Adi tidak menggubris ucapan Indira, semua orang memojokkannya padahal Siti yang salah. Adi menyesal menikah dengan Siti.
“Adi,” panggil Indira marah dengan nada setengah berteriak.
Adi berdecak kesal, ia keluar dari dalam kamarnya.
Gunawan merasa tidak enak atas sikap Adi terhadap Siti. “Siti istirahat saja, biar pecahannya di bersihkan asisten saja,” tutur Gunawan.
"Baik Pa," jawab Siti patuh.
“Maafkan atas sikap Adi ya,” ujar Indira merasa tidak enak pada Siti.
Siti tersenyum pada Indira. “Tidak apa-apa Bu, mungkin Mas Adi masih kesal karena masalah tadi,” jawab Siti.
Adi keluar dari rumah, ia masuk ke mobil dan membawa mobilnya melaju meninggalkan kediaman orang tuanya. Tujuan Adi saat ini adalah apartemen tempat tinggal Anggun, ia sangat ingin menemui kekasihnya.
__ADS_1