Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Sembilan


__ADS_3

Setengah sadar Adi terbangun dari tidurnya, ia membuka sedikit kelopak matanya. Samar ia melihat Siti menggunakan mukena sedang melaksanakan shalat, Adi melirik jam digital yang ada di samping nya, pukul dua dini hari. Adi yang masih mengantuk pun kembali melanjutkan tidurnya.


“Mas.”


Samar Adi mendengar suara lembut siti yang memanggil. Tidak lama Adi merasakan punggung tangannya di kecup. “Sedang apa kamu, jangan menyentuhku,” keluh Adi. Ia menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik selimut.


Siti duduk di samping tempat tidur dengan senyuman di bibirnya kala melihat wajah suaminya yang tampak terganggu. “Mas ayo shalat subuh bersama,” ajak Siti.


“Kamu duluan saja,” jawab Adi. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya termasuk kepala.


Siti akhirnya memilih melaksanakan shalat subuh sendiri. Lepas beribadah ia merapikan kembali alat shalatnya. Sebelum keluar dari kamar Siti memandang wajah suaminya. Ada rasa senang kala mengingat saat terbangun sudah ada selimut yang menyelimutinya. Ia tidak menyangka Adi memiliki perhatian, mengingat apa yang terjadi di antara mereka membuat Siti tidak dapat berharap banyak. Namun ia tidak akan pernah menyerah dengan berusaha dan meminta pada sang pencipta yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


Siti memutuskan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Adi dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


Siti menyiapkan sarapan bersama Bi Inem. Kali ini Siti membantu Inem menata seluruh makanan di meja makan bersama.


Galih yang memang hendak pergi ke kantor datang ke meja makan lebih awal. “Tuan Adi belum bangun?” tanya Galih.


“Bibi belum mengeceknya Tuan,” jawab Inem. Sementara Siti memilih diam, karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan Galih.


Galih, Siti dan Inem menengok secara bersamaan saat mendengar suara wanita dengan nada manja.


Adi menghentikan langkahnya, ia menatap Anggun yang berada di sampingnya.


“Aku mau sarapan di luar saja,” ujar Anggun dengan nada lembut dan manja.


Siti sengaja menatap mereka berdua secara terang-terangan. Suami serta Anggun seolah tak terganggu menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Inem hanya bisa menundukkan kepalanya. Tak ada yang bisa ia perbuat, meskipun ia orang paling tua di sini. Namun ia hanya seorang asisten rumah tangga. Namun perbuatan Adi sangat keterlaluan, bermesraan dengan wanita lain di depan istrinya sendiri.


Galih kini melirik Siti yang tampak menatap Adi dan Anggun. Padahal selama ini Anggun jarang sekali menemui Adi di pagi hari, tapi sekarang di pagi hari pun wanita ular itu tampak bersemangat mengumbar kemesraan seolah sengaja membuat keruh rumah tangga Siti.


Adi menatap ke arah meja makan yang penuh dengan berbagai menu. “Bukannya tadi kamu yang datang kemari untuk makan bersama?” tanya Adi dengan nada lembut.


Bahkan setelah dua hari bersama, Siti tidak pernah mendengar suara lembut Adi. Siti menyingkirkan rasa sakit yang hinggap di benaknya.


“Iya, tapi karena ada kucing kampung yang bau. Aku jadi malas,” ujar Anggun dengan sengaja melirik Siti.


Siti sudah hilang selera untuk sarapan pagi. Kedatangan Anggun pagi ini mengacaukan harinya. Siti memilih keluar dari ruang makan. Ia berjalan ke halaman belakang, duduk di kursi taman menikmati suasana pagi hari dengan mentari yang bersinar sangat cerah.


Udara pagi yang sejuk membuat Siti merasakan kerinduan pada kampung halamannya, belum lagi ia sangat merindukan kedua orang tuanya. Tak ada kehangatan dan kebahagiaan yang siti rasakan di sini, terlebih impian yang ia kira akan dapat di gapai dengan mudah ternyata berbanding terbalik. Ada rasa menyesal di hatinya, namun semua ini pilihan Siti sendiri. Yang sekarang harus ia lakukan tetap kuat menghadapi kenyataan pahit, berharap Allah memberikan sedikit kebahagiaan untuk rumah tangga yang Siti impikan.

__ADS_1


__ADS_2