
“Kalau begitu aku ikut ya,” ujar Anggun.
“Jangan mengada-ada sayang,” tolak Adi.
Anggun mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu aku mau tinggal satu rumah sama Siti,” pinta Anggun. Ia ingin segera menyingkirkan Siti dari hidup Adi. Anggun yakin Siti memiliki batas kesabaran dan akhirnya akan memilih pergi meninggalkan Adi.
“Kita bisa bicarakan itu nanti,” jawab Adi.
“Kamu harus janji dulu akan membawaku tinggal bersama Siti di rumah kalian,” ujar Anggun lagi.
Adi menatap ponselnya yang kembali berdering, panggilan dari Gunawan. “Iya aku janji, kamu di sini baik-baik ya. Jaga anak kita,” ucap Adi ia mengecup kening Anggun lalu mengusap perut rata Anggun dengan penuh kasih sayang.
Anggun mengangguk, ia tersenyum senang rencananya berhasil.
Adi meninggalkan apartemen dengan tergesa. Hingga tak sempat mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Sampai di rumah orang tuanya Adi masuk ke dalam, tampak Siti yang memeluk tubuh Indira dengan suara tangis yang menyayat hati Adi. Untuk pertama kalinya ia mendengar tangisan Siti.
“Siti bersama Adi satu mobil. Biar ibu dan papa di mobil lain bersama sopir,” putus Gunawan. Ia tidak mungkin satu mobil dengan anak menantunya, karena Gunawan ingin membiarkan Adi dan Siti memiliki waktu lebih lama di kampung.
Siti melepaskan pelukannya dari Indira, ia menghapus air matanya. Siti tidak berani menatap ke arah suaminya, wajah Siti menunduk ia berjalan mengikuti langkah Adi.
Selama di perjalanan Siti menangis tanpa suara dengan kepala menunduk.
Sesekali Adi menengok saat melihat Siti yang mengambil tisu. Satu box tisu sudah di habiskan oleh Siti.
Siti menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya berusaha untuk tegar dan menahan air matanya. Namun air mata Siti tetap mengalir lewat celah mata. Siti berusaha untuk mengingat sang pencipta, beristighfar memohon ampunan.
Adi bisa fokus menyetir setelah Siti terlihat tenang dalam tidurnya. Perjalanan menuju kampung halaman Siti di tempuh dalam waktu lima jam.
Siti mulai tampak gelisah saat mobil memasuki area desa tempat ia tinggal. Ia berkali-kali menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia harus kuat tidak boleh lemah, apalagi di depan sang ibu.
__ADS_1
Saat mobil berhenti tepat di depan rumahnya, Siti tidak bisa menahan air matanya saat melihat bendera kuning. Siti menghapus air matanya, ia turun dari mobil. Banyak orang yang berkerumun di depan rumah Siti untuk melayat. Dari tempatnya berdiri Siti mulai mendengar suara tangisan. Hatinya bergetar hebat, tubuhnya terasa lemah.
Siti menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Baru sampai di ambang pintu tubuh Siti lemas saat melihat kain batik yang menutupi tubuh sang ayah, belum lagi suara tangis sang ibu terdengar sangat menyayat hati Siti.
Adi menahan tubuh Siti saat istrinya hampir kehilangan kesadaran. Ia menuntun Siti menghampiri sang ibu yang berada tidak jauh dari tubuh almarhum.
Siti segera memeluk erat tubuh sang ibu, ia tidak bisa menahan air matanya saat mendengar tangisan sang ibu. “Ayah Sit,” ucap Devi pelan di tengah tangisnya.
Siti mengusap punggung ibunya, ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Devi melepaskan pelukannya pada anak semata wayangnya. Ia menatap tubuh suaminya yang tertutup kain batik.
Tangan Siti gemetar saat ia ingin melihat wajah sang ayah untuk terakhir kalinya.
Siti meneteskan air matanya saat ia dapat melihat wajah sang Ayah yang tampak pucat. Beberapa garis terlihat jelas menghiasi wajahnya, Siti menundukkan kepalanya ia menangis tanpa bisa menahan suara isaknya. Dua puluh dua tahun Siti hidup ia belum sempat membahagiakan Ayahnya. Hal yang menyakitkan bagi Siti adalah takdir yang mengambil Ayahnya lebih cepat. Padahal sedikit lagi Siti bisa mewujudkan impian ayahnya untuk melihat Siti lulus sarjana. “Maafkan Siti ayah,” batin Siti.
__ADS_1
Siti tidak bisa melupakan perjuangan sang Ayah yang banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setiap hari Siti harus melihat wajah lelah sang Ayah yang penuh dengan keringat. Senyuman yang tulus selalu Siti lihat, tak pernah sedikit pun Siti mendengar ungkapan lelah dari mulut sang ayah. Ia harap Ayahnya di ampuni segala dosanya, serta mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.