
Proses pemakaman sudah selesai di laksanakan. Siti dan sang ibu masih duduk di samping makan sang Ayah. Devi tidak sanggup meninggalkan suaminya sendirian.
Siti menggenggam tangan sang ibu, dari mulai proses pemakaman di mulai sampai selesai mereka berpegang saling menguatkan. Tetesan air matanya tak henti-hentinya mengiringi sepanjang proses pemakaman almarhum.
Adi berserta Papa dan ibunya masih berdiri di belakang tubuh Siti dan Devi.
Area pemakaman sudah sangat sepi, karena pemakaman sudah selesai dari setengah jam yang lalu.
Gunawan mendekati menantu dan besannya. “Devi, Siti,” panggil Gunawan.
Devi menghapus air matanya. “Maaf telah membuat kalian menunggu,” ujar Devi dengan sopan meskipun suaranya sedikit serak karena tidak berhenti menangis.
Gunawan mengangguk. Dahulu Devi adalah asisten rumah tangga pertama saat Gunawan dan Indira menikah, begitu juga dengan Almarhum Agus yang menjadi tukang kebun. Mereka bekerja cukup lama, hingga saat Devi dinyatakan mengandung, Agus dan Devi mengundurkan diri untuk kembali ke kampung. Saat itu terasa berat bagi Gunawan, namun ia juga tidak punya hak melarang mereka. Beberapa bulan yang lalu Gunawan di pertemukan dengan Agus saat Agus menjual hasil perkebunannya ke kota. Mereka sedikit berbincang dan memutuskan untuk menikahkan Adi dan Siti. Gunawan tahu jika pernikahan anaknya tidak akan mudah, ia berkeluh kesah pada Agus tentang Adi. Tapi entah mengapa Agus menawarkan putrinya. Sekarang Gunawan tahu maksud dari Agus, mungkin Almarhum ingin Gunawan menjaga putri kesayangannya dan Gunawan tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. ‘Kamu yang tenang di sana Gus, aku yang akan memastikan anak-anak kita akan hidup bahagia,' batin Gunawan.
__ADS_1
***
Adi tengah duduk di pada lantai yang di alasi karpet. Keadaan rumah Siti tidak terlalu besar, bahkan cenderung sempit memiliki ruang tamu berukuran dua meter kali dua meter setengah. Para pelayat pun sudah tak ada. Hanya beberapa orang di dapur yang masih menyediakan masakan untuk malam tahlil.
Adi fokus dengan ponselnya untuk membaca pesan dari Anggun. Namun saat seseorang duduk di sampingnya dengan cepat Adi mematikan layar ponselnya agar tak dapat di lihat.
Gunawan menghembuskan nafas kesalnya, bagaimana tidak putranya masih saja memikirkan wanita lain di saat istrinya tengah berduka. “Temani Siti di kamar,” titah Gunawan.
“Papa saja yang temani,” jawab Adi.
Adi bangkit dari duduk bersila. “Yang mana kamarnya?” tanya Adi.
Gunawan menggerakkan dagunya menunjuk sebuah kamar yang terlihat dari tempat mereka duduk.
__ADS_1
Adi berjalan menuju kamar tersebut. Tanpa mengetuk, dengan sesuka hatinya Adi masuk. Tatapannya terpana pada rak buku yang cukup besar namun tampak kosong, hanya ada beberapa buku yang tersisa. Perhatian Adi teralihkan saat mendengar pergerakan dari atas tempat tidur.
“Ada apa Mas?” tanya Siti dengan suara pelannya.
“Tidak ada,” jawab Adi. Ia menatap wajah Siti yang tampak tersenyum tipis meskipun wajahnya sembab serta mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.
“Mas sudah makan?” tanya Siti lagi. Ia melupakan hal itu padahal hari sudah sore.
Adi menggelengkan kepalanya, ia menahan rasa laparnya karena tidak berselera dengan makanan yang di sediakan.
“Ayo Siti antar ke tempat makan,” ajak Siti. Ia bangkit dari tidurnya dan mendekati suaminya.
“Tidak perlu, nanti aku pergi sendiri saja. Kamu istirahat saja,” tolak Adi.
__ADS_1
Siti menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk di atas tempat tidur. Bayangan tentang ayahnya membuat air mata Siti kembali turun, namun dengan cepat ia menghapus air matanya.
“Apa rasanya sakit sekali kehilangan orang tua?” Tanya Adi.