
“Tidak aku akan menikahi Anggun hari ini juga. Sehingga anak yang di kandung Anggun tidak akan pernah menjadi aib untuk Papa dan ibu.”
“Bodoh!” hardik Gunawan.
Anggun semakin menundukkan kepalanya, ia memang tak bisa banyak bicara atau Gunawan akan semakin marah dan memilih diam menyimak.
“Kamu baru menikah tiga hari yang lalu apa kata orang kalau kamu akan menikah lagi. Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang tua Siti. Sekarang kamu sudah beristri. Lagi pula wanita yang sedang hamil tidak boleh di nikahi kecuali ia sudah melahirkan,” ucap Gunawan.
“Tapi anak yang di kandung Anggun anakku Pah,” jawab Adi.
“Anggun lebih baik kamu pergi dari sini,” tegas Gunawan.
Dengan cepat Adi menggenggam erat tangan Anggun. “Kalau begitu Adi akan pergi bersama Anggun sekarang juga,” ujar Adi. Ia bangkit dari duduknya bersama Anggun.
“Silahkan, Besok Papa akan ke kantor dan menarik semua saham papa dari perusahaanmu,” ancam Gunawan, ia sengaja ingin melihat reaksi Anggun.
Mendengar ancaman itu Anggun tidak bisa tinggal diam, ia tidak mau hidup miskin. Anggun menatap Adi, “Tidak apa-apa, aku pulang saja. Kita bisa membicarakan hal ini lain kali,” ujar Anggun dengan nada lembutnya.
Gunawan sudah menduga bahwa Anggun hanya menginginkan harta, dia tidak akan mau hidup susah.
Adi tidak tega membiarkan Anggun pergi sendirian. “Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak Adi, kamu tetap di sini.”
“Adi tidak bisa membiarkan Anggun pulang sendiri, dia sedang hamil anakku,” bantah Adi.
__ADS_1
“Baiklah sekarang juga papa akan menghubungi Galih perihal saham,” ancam Gunawan. Ia tidak akan lengah lagi dan membiarkan putranya jatuh ke tangan Anggun lagi.
“Adi aku tidak apa-apa kok pulang sendiri saja,” ucap Anggun menampilkan senyumannya agar Adi tidak khawatir.
“Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?” tanya Adi memastikan.
Anggun menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu saya pulang dulu om,” pamit Anggun.
Gunawan menatap kepergian Anggun. “Mulai hari ini kamu dan Siti akan tinggal di sini,” ujar Gunawan. Dia tidak ingin membiarkan celah di rumah tangga Adi, dengan begini Gunawan akan mudah memantau anak dan menantunya.
“Buat apa Papa memberikan aku dan Siti rumah jika akhirnya meminta kita tinggal di rumah ini,” protes Adi.
“Jelas-jelas penyebabnya dirimu sendiri. Kalau saja kamu tidak berhubungan lagi dengan Anggun Papa akan tenang membiarkan kalian tinggal di rumah itu. Tapi melihat kejadian hari ini, Papa rasa lebih baik kalian tinggal di sini. Untuk urusan pakaian, Papa akan meminta Inem untuk membawanya kemari,” putus Gunawan.
Adi sudah tak bisa beralasan untuk pulang ke rumah. Mungkin beberapa hari ke depan ia harus pasrah tidak dapat bertemu dengan Anggun.
Siti membantu memapah ibu mertuanya untuk duduk di sofa yang berada di ruang keluarga.
Siti duduk di samping ibu mertuanya, melihat wajah Indira membuat siti merindukan ibunya.
“Siti,” panggil Indira.
“Iya Bu,” jawab siti.
“Bagaimana hubunganmu dengan Adi, apa dia memperlakukanmu dengan baik?”
__ADS_1
Siti melihat semburat kekhawatiran di wajah mertuanya. “Adi memperlakukan Siti dengan baik kok Bu,” jawab Siti berbohong. Ia tidak ingin membuat ibu mertuanya semakin khawatir dan marah jika mendengar cerita yang sebenarnya.
Indira membawa tangan Siti dan meremasnya perlahan. “Ceritakan saja yang sebenarnya, kamu tidak perlu takut. Ibu ingin mendengar kebenarannya,” pinta Indira.
Siti menampilkan senyuman di bibirnya. “Ibu tidak percaya jika mas Adi memperlakukan siti dengan baik?” ucap Siti balik bertanya.
Wajah Siti memerah kala mengingat hal yang menyenangkan tiga hari ini saat tidur di kamar Adi untuk pertama kalinya. “Siti tidak bisa tidur dalam keadaan kedinginan, saat Siti bangun pendingin ruangan sudah di matikan dan mas Adi memberikan seluruh selimutnya agar Siti tidak kedinginan,” ucap Siti menceritakan hal yang sangat berarti di tiga hari pernikahannya.
Melihat senyuman tulus Siti membuat Indira merasa khawatir. Bagaimana bisa seorang istri tampak tegar dan menyebutkan kebaikan suaminya di saat suaminya membawa perempuan lain yang sedang mengandung anak. Jika Indira ada di posisi Siti, mungkin yang akan ia lakukan hanya menangis.
“Sebetulnya Adi itu sangat penyayang, dan perhatian hanya saja ia salah memilih wanita. Ibu sudah melarang Adi untuk berpacaran dengan Anggun sejak enam bulan yang lalu. Tapi sepertinya Adi terjerat oleh Anggun, dan tidak bisa melepaskannya. Ibu harap setelah kejadian ini rumah tangga kamu dan Adi baik-baik saja.”
“Aamiin.”
Indira tidak melihat rasa khawatir dan kesedihan dalam wajah Siti. Indira merasa tidak enak pada Siti dan kedua orang tuanya. Ia pikir Adi sudah tidak menemui Anggun lagi, tapi ternyata wanita itu malah hamil.
Indira menghela nafasnya, ia sangat sedih. Tak bisa mendidik Adi dengan benar. “Maafkan kami ya Siti,” ucap Indira menahan tangisnya.
Siti menggenggam tangan Indira. “Kenapa meminta maaf Bu? Siti baik-baik saja, ibu dan papa tidak membuat kesalahan,” ujar siti.
Tangis Indira pecah mendengar ucapan Siti yang tegar, dirinya semakin merasa bersalah menjodohkan Adi pada Siti. Karena Indira tahu betapa sakitnya mendapati suami yang berselingkuh apalagi Anggun sampai hamil.
Siti memeluk tubuh Indira yang menangis. Rasanya Siti ingin ikut menangis mengeluarkan rasa sesak yang sudah ia tahan. Namun Siti berusaha menahan air matanya, ia tidak ingin membuat ibu mertuanya semakin khawatir. Apalagi usia Indira sudah tak muda lagi, Siti tidak mau menaruh beban untuk mertuanya. Siti merasa seharusnya mampu menyenangkan mertuanya yang Siti anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
“Ibu mohon jangan pernah tinggalkan Adi, apa pun yang terjadi. Ibu sangat yakin kamu bisa mengubah Adi menjadi lebih baik lagi,” ucap Indira menaruh harapan pada Siti.
__ADS_1
Siti mengusap punggung mertuanya, “Ibu tenang saja Siti tidak akan pernah meninggalkan Mas Adi,” ucap Siti berjanji.
‘Ya Allah bantu lah hamba menepati janji ini, Siti sangat ingin melihat Ibu Indira, Papa Gunawan dan orang tua Siti bahagia.’