Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Dua Puluh Dua


__ADS_3

“Mas kok celananya basah, buang air kecil di celana?” Tanya Siti dengan nada terkejutnya. Siti menahan tawanya, sejujurnya ia ingin sekali menertawakan suaminya yang ketakutan sampai buang air kecil di celana.


Sontak Adi menundukkan kepalanya memastikan ucapan Siti, ternyata benar saja dia buang air kecil di celana. Wibawanya hilang seketika apalagi melihat wajah Siti yang menahan tawa. Ini sangat memalukan bagi Adi. “Jangan menatapku seperti itu, cepat selesaikan cuci piringnya aku harus segera ke kamar mandi,” perintah Adi.


Siti segera menyelesaikan cucian piringnya dalam waktu lima menit, kamar mandi kini kosong dan bersih. “Silahkan masuk mas, celana gantinya nanti Siti ambilkan,” ujar Siti.


Adi masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan malu sekaligus kesal. Ia menutup pintu dan menyelesaikan urusannya.


Siti pergi ke kamar, ia mengambil celana Adi yang ada di dalam koper beserta dalaman dan handuknya. Siti kembali ke dapur dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas,” panggil.


Adi tidak bisa melupakan bayangan putih tadi, tubuhnya merinding. Ia sedikit tersentak saat mendengar panggilan dari Siti. Adi menormalkan wajahnya yang sedikit ketakutan agar tidak memalukan di hadapan Siti.


Adi membuka pintu kamar mandi, ia menjulurkan tangannya keluar. Saat menerima sebuah kain yang terasa seperti handuk Adi menarik kembali tangannya, ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang di berikan Siti.


Adi keluar dari kamar mandi dan melihat Siti tengah mengupas buah-buahan. Adi ikut duduk. Ia memperhatikan detail dapur tersebut, tidak tampak bagus atau pun minimalis. Bahkan lebih ke miris bagi Adi, pencahayaan yang kurang serta lemari piring pun sedikit lapuk, bahkan meja makan yang mereka tempati sepertinya sudah termakan usia. “Kamu dari kecil tinggal di sini?” tanya Adi.

__ADS_1


Siti menatap ke arah suaminya. “Iya Mas,” jawab Siti. Ia memberikan piring berisi potongan dari beberapa macam buah-buahan.


Adi tidak ikut makan malam, dan sudah pasti ia menerima piring berisi potongan buah dari Siti. Ia memakai garpu dan mulai memakannya.


Sambil makan Adi memperhatikan Siti yang tengah membersihkan kulit buah. “Di rumahmu sendiri juga pakai kerudung ya,” ujar Adi.


Siti menghentikan kegiatannya, ia menatap suaminya dengan wajah serius. “Kenapa memangnya Mas?”


“Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja,” jawab Adi cuek dan kembali melanjutkan makannya.


Siti mengulum senyuman kala mengingat kejadian Adi yang ketakutan sampai buang air kecil di celana.


Adi yang memperhatikan istrinya sedikit kesal melihat Siti mengulum senyum. “Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?”


“Aku hanya teringat kejadian tadi, tidak percaya saja jika Mas sampai buang air kecil di celana,” jawab Siti tanpa bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Adi beranjak dari tempat duduknya, tanpa menghabiskan buah di piringnya.


“Aduh Mas marah lagi,” ucap Siti dengan pelan. Ia segera merapikan meja dan menyusul Adi ke kamar.


Siti ikut duduk di atas tempat tidurnya yang hanya berukuran seratus dua puluh centimeter kali dua ratus centimeter.


“Maaf,” ujar Siti pelan dengan nada penyesalan.


Adi mengok ke samping. “Maaf katamu, tidak sopan tahu menertawakan suamimu sendiri seperti tadi,” jawab Adi dengan nada yang sedikit meninggi.


Siti menundukkan wajahnya tidak berani menatap Adi. “Maaf Mas,” ujar Siti lagi.


Adi memperhatikan wajah Siti yang menunduk, pipinya terlihat gembil. Jilbab yang di pakai Siti berwarna coklat muda, Adi memperhatikan dengan detail wajah istrinya.


Tangannya menarik dagu Siti, hingga kini Adi melihat jelas wajah istrinya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya hingga bibir mereka menempel.

__ADS_1


__ADS_2