
“Siti,” panggil Indira saat tidak mendengar jawaban dari menantunya.
[I-iya Bu]
“Apa kalian baik-baik saja?” ucap Indira mengulang kembali pertanyaannya.
[Baik Bu]
Meskipun jawaban Siti baik, tapi Indira merasa ada yang tidak beres. Apalagi mendengar suara Siti yang berbeda dari biasanya.
“Kalau ada masalah kabari Ibu ya jangan sungkan.”
[Iya Bu]
“Oh iya Siti sudah berbicara dengan Adi masalah mencari tempat kuliah?”
[Sudah Bu. Tapi Mas Adi bilang dia sibuk mengurus pekerjaan, jadi Siti di minta pergi bersama Galih untuk mencari tempat kuliah.]
“Dasar anak itu, ada saja alasannya,” protes Indira dengan nada yang sedikit kesal.
__ADS_1
[Mungkin Mas Adi memang benar-benar sibuk Bu, apalagi baru saja mengambil cuti menikah. Jadi banyak yang harus di kerjakan]
Meskipun mendengar ucapan Siti yang bijaksana, tidak dapat menenangkan Indira. Indira tahu betul jika itu hanya akal-akalan Adi saja, karena selama yang Indira tahu Galih yang mengurus perusahaan saat Adi mengambil cuti.
“Sepertinya begitu, memangnya tidak apa-apa jika Siti pergi bersama Galih saja?” Tanya Indira.
[Tidak apa-apa Bu, Kan Mas Adi yang menyarankan. Lagi pula Siti tidak masalah jika harus pergi bersama Galih.]
“Ya sudah kalau begitu kamu baik-baik ya, lapor jika ada sesuatu terjadi di rumah tangga kalian,” ucap Indira bermaksud untuk segera mengakhiri panggilan.
[Iya Bu.]
“Iya ibu tenang saja, papa akan mencari cara agar dapat membongkar kebusukan Anggun,” ujar Gunawan. Ia sudah mendapat beberapa informasi penting tentang Anggun.
“Tapi bagaimana dengan anak yang di kandung Anggun? Adi tidak akan melepaskannya begitu saja.” Meskipun Indira sangat yakin jika anak yang di kandung Anggun bukan anak Adi, tapi ia tetap merasa khawatir.
“Itu urusan Papa, ibu hanya cukup bantu doa saja. Semoga kali ini Adi akan benar-benar meninggalkan Anggun dan fokus pada pernikahannya.”
***
__ADS_1
Saat makan malam tiba Siti baru keluar dari dalam kamar, ia berjalan ke ruang makan. Jujur dengan kehadiran Anggun sedikit menghilangkan semangat Siti untuk menjadi yang terbaik di mata Adi. Bahkan Siti hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku di dalam kamar tanpa berniat menyiapkan makan malam.
Siti duduk di kursi yang sedikit jauh dari Anggun dan Adi. Perasaannya sedikit kacau, dan Siti tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan lawannya.
Seolah tidak terganggu Anggun bergelayut mesra pada bahu Adi, bahkan ia menyuapi Adi.
Siti memperhatikan Adi dan Anggun yang makan satu piring berdua. Siti menundukkan kepalanya, ia fokus pada makanan yang ada di piringnya.
“Aaa dulu sayang,” ucap Anggun lembut dengan tangannya yang bersiap menyuapi Adi.
Ujung mata Siti menangkap kegiatan suaminya yang sedang saling menyuapi. Ada rasa marah dan kesal dalam diri Siti. Tapi dia berusaha meredamnya, selera makan Siti hilang begitu saja.
Anggun melirik Siti yang semakin menundukkan kepalanya, dengan sengaja Anggun mengubah posisi duduknya. Ia duduk di atas pangkuan Adi, tangan Anggun melingkar pada leher Adi. Dengan berani Anggun menc’ium Adi lebih dulu.
Siti bangkit dari duduknya, ia menggebrak meja cukup keras hingga membuat Adi terlonjak. “Apa urat malu kalian sudah putus, sehingga berani berbuat dosa di hadapan orang lain?” tegur Siti.
Anggun bangkit dan melipat kedua tangannya di dada. “Untuk apa malu di depan wanita yang sok suci sepertimu,” ujar Anggun.
“Apa maksudmu?” tanya Siti.
__ADS_1
“Adi tidak memberikan haknya, bahkan ia tidak pernah menyentuhmu. Kamu seharusnya sadar diri, bahwa kamu bukan istri yang sesungguhnya. Kamu juga berhak meminta cerai, tapi apa yang kamu perbuat? Kamu berdiri di sini dan bertahan seolah kamu yang paling tersakiti dalam hubungan ini!”