Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

“Mau ke mana upik Abu rapi sekali, mau melarikan diri dari kenyataan?”


Siti beristighfar di dalam hatinya saat mendengar ucapan Anggun. Ia tidak ingin menggubris ucapan Anggun dan memilih berjalan begitu saja.


Anggun yang merasa kesal di acuhkan menarik kerudung bagian belakang Siti. “Heh wanita tidak tahu diri!” bentak Anggun.


Kepala serta tubuh Siti tertarik ke belakang, ia berusaha menyingkirkan tangan Anggun.


“Lepaskan.”


Siti dan Anggun menengok ke arah suara, mereka melihat Galih yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Jangan ikut campur!” bentak Anggun.


“Anggun!” bentak Galih. Ia tidak akan membiarkan Siti terluka lagi.


“Apa kau berani padaku? Aku bisa meminta Adi agar memecatmu!” ancam Anggun.


“Silahkan jika kamu bisa.” Galih tidak takut sedikit pun oleh ancaman Anggun. Anggun memang bisa memperdaya Adi, tapi Adi tidak akan pernah bisa memecat Galih. Karena selama ini Galih yang mengelola perusahaan.


Anggun menatap ke arah Siti. “Jangan merasa bangga karena ada yang membelamu, pada akhirnya kamu yang akan angkat kaki dari sini tanpa ada seorang pun yang membelamu!” Anggun menatap sengit ke arah Siti. Lalu berjalan pergi meninggalkan Siti dan Galih.

__ADS_1


Galih menghampiri Siti. “Apa nona baik-baik saja?” tanya Galih karena ia tak bisa melihat jika ada luka dibalik jilbab Siti.


“Aku baik-baik saja, ayo kita berangkat,” ucap Siti. Kulit kepalanya memang masih terasa sakit akibat tarikan Anggun, namun bagi Siti bukan masalah besar.


Galih membawa Siti menuju kampus yang jaraknya paling dekat dengan rumah. Sesampainya di sana Galih membawa Siti untuk berkeliling.


Siti merasa nyaman saat pertama kali datang ke tempat ini, keadaan kampusnya bersih dan terawat. “Aku ingin daftar kuliah di sini saja,” jawab Siti. Selain nyaman jarak yang cukup dekat dengan rumah membuat Siti tidak khawatir dengan tugasnya yang sebagai istri.


“Baik saya akan membicarakannya pada pak Gunawan,” jawab Galih.


“Terima kasih,” ujar Siti tulus.


“Langsung pulang saja,” jawab Siti. Sebetulnya dia tidak enak berlama-lama berduaan bersama dengan Galih.


Galih dan Siti berjalan menuju tempat parkir. Namun dering telepon Galih menghentikan langkah mereka. “IyaTuan,” jawab Galih.


[Sudah selesai?]


“Sudah tuan,” jawab Galih.

__ADS_1


[Cepat kembali ke kantor.]


“Baik Tuan.” Galih kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia membuka pintu mobil untuk Siti.


Siti masuk dan duduk di kursi penumpang yang ada di belakang. Sampai di rumah Galih segera kembali ke kantor. Kepergian Galih membuat Siti rasanya enggan masuk ke dalam, apalagi mengingat keberadaan Anggun yang sangat senang mengganggu hidupnya.


Siti berjalan dengan perlahan menuju pintu utama. Namun pintu lebih dulu terbuka dari dalam. Siti melihat Anggun yang berpakaian ketat serta riasan makeup yang membuatnya terlihat lebih cantik.


“Kenapa lihat-lihat, kamu iri ya dengan kecantikanku?” tanya Anggun dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.


“Kamu memang cantik, apalagi jika menutup aurat. Akan lebih cantik lagi,” jawab Siti dengan seulas senyuman di wajahnya.


“Kamu jangan memancing kemarahanku ya!” Kalau saja tak ingat waktu, ia sangat ingin membalas Siti. Namun ia tidak ingin penampilannya rusak karena memberi Siti pelajaran, apalagi kliennya tidak suka menunggu.


“Loh kenapa, belum pernah coba pakaian yang tertutup ya? Kalau mau aku ada baju gamis baru yang sepertinya cocok untukmu,” tawar Siti. Mungkin Anggun akan terlihat seperti wanita muslimah yang salehah jika memakai gamis panjang yang menyembunyikan lekukan tubuhnya.


“Tidak penting berbicara dengan Upik abu sepertimu. Bye!”


Siti memandang kepergian Anggun, dari tempatnya berdiri Siti memperhatikan jalan Anggun yang tampak berlenggak-lenggok dengan bagian belakang yang menonjol. Siti menggelengkan kepalanya, ia merasa miris melihat Anggun yang mempertontonkan tubuh indahnya untuk orang banyak.

__ADS_1


__ADS_2