
“Aku di jebak sayang, temanku tega menjebakku. Kamu tahu kan bagaimana setianya aku, aku tidak pernah selingkuh darimu,” ucap Anggun.
“Hentikan omong kosongmu!” bentak Adi.
Inem sudah selesai mengemasi barang Anggun, ia menghampiri Adi. “Tuan ini barangnya sudah selesai saya bereskan,” ucap Inem.
Adi menengok ke arah Inem, lalu pandangan tertuju pada manik Anggun. “Pergi dari sini!”
Anggun bersujud di kaki Adi. “Tidak sayang, kamu harus memberikan aku kesempatan padaku. Kamu tega pada anak kita?”
Adi bangkit dari duduknya, ia menghampiri Inem dan mengambil koper yang di bawa Inem. Lalu berjalan keluar dari rumah.
Anggun tidak tinggal diam, ia segera berlari dan menyusul Adi. “Sayang,” panggil Anggun. Ia menarik tangan Adi.
Adi membanting koper berisi barang-barang Anggun. “Pergi!”
“Kamu harusnya percaya sama aku Adi,” ucap Anggun dengan nada frustrasinya, ia tidak ingin di usir seperti ini oleh Adi.
“Keamanan,” teriak Adi.
Para penjaga dengan cepat menghampiri Adi. “Iya tuan.”
“Usir wanita ini,” ucap Adi seraya menunjuk ke arah Anggun.
__ADS_1
Keamanan yang di panggil Adi segera menyeret Anggun keluar.
“Sayang,” panggil Anggun saat Adi berjalan meninggalkan dirinya.
Adi tidak menoleh sedikit pun, ia menghiraukan panggilan Anggun yang terasa menyesakkan dadanya. Dia tidak menyangka di khianati
Saat masuk ke rumah Adi langsung berpapasan dengan Siti. Mereka saling menatap untuk beberapa detik.
“Mas mau Siti siapkan makan siang?” Tanya Siti. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran Adi di siang hari.
“Tidak usah,” jawab Adi. Ia berjalan meninggalkan Siti dan masuk ke dalam kamarnya.
Siti terdiam sesaat, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Adi.
Siti berjalan menghampiri Anggun. “Ada apa ini pak?” tanya Siti.
Anggun memandang penuh amarah pada Siti. “Sekarang kamu puas, aku di usir dari rumah ini?”
Siti mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti apa yang di ucapkan Anggun. “Apa maksud kamu?”
“Ayo cepat pergi dari sini!”. Kedua keamanan tersebut kembali menyeret tubuh Anggun.
“Jangan berlaku kasar seperti itu Pak, Anggun sedang mengandung,” bela Siti. Ia mengkhawatirkan janin yang ada di dalam kandungan Anggun.
__ADS_1
“Tapi kami di perintahkan tuan Adi untuk mengusir Nona ini, namun dia melarikan diri dan berusaha untuk masuk ke dalam,” ucap salah satu keamanan yang memegangi tubuh Anggun.
Wajah Siti yang tampak terkejut membuat Anggun kesal. “Sekarang kamu puas melihatku di usir dari rumah ini?”
“Ada masalah apa, mengapa mas Adi sampai mengusirmu?” Tanya Siti dengan nada baik-baik.
“Sok suci kamu,” sentak Anggun. “Jangan sok kasihan seperti itu, aku tahu sebenarnya kamu senang melihatku seperti ini!”
Adi yang mendengar keributan dari luar segera keluar dari kamarnya. Dia melihat Siti dan Anggun yang tengah beradu mulut.
“Saya sudah menyuruh kalian untuk mengusirnya, kenapa dia masih ada di sini?” Bentak Adi.
Siti sangat terkejut mendengar suara bentakan Adi. Ia melihat raut wajah penuh amarah dalam diri Adi.
“Tolong beri aku kesempatan lagi,” mohon Anggun. Wajahnya sudah sangat memelas, dan berlinang air mata berharap Adi akan memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua.
“Kalau kalian tidak becus mengurusnya, detik ini juga saya akan pecat kalian,” tandas Adi. Ia sudah muak mendengar ucapan Anggun.
“Jangan pecat kami tuan,” ucap keamanan tersebut. Dengan sekuat tenaga mereka menyeret tubuh Anggun yang terus memberontak.
“Mas kasihan Anggun, dia sedang mengandung,” ucap Siti.
“Kamu tidak perlu ikut campur,” ucap Adi. Ia memberikan tatapan tajam pada istrinya.
__ADS_1
“Baik mas,” jawab Siti. Ada rasa bahagia dan kesedihan dalam diri Siti. Ia bahagia karena akhirnya Anggun pergi, namun ia tidak tega melihat wajah suaminya yang tampak kacau. Siti yakin keputusan yang Adi pilih tidak lah mudah, ujian yang Allah berikan pasti terasa sulit bagi Adi. Namun Siti berdoa semoga Adi dapat melewati ujian ini dengan baik.