
Adi pulang dengan perasaan kacau terlebih saat masuk ke dalam kamar, ia tidak mendapati Siti di tempat tidur. Ia mencari Siti ke kamar lamanya, namun terkunci. Adi mengeluarkan kunci cadangan dan membukanya, benar saja ia melihat tubuh istrinya yang terbaring di tempat tidur. Ia mengunci pintu kamar, kakinya melangkah menuju tempat tidur, Adi ikut merebahkan tubuhnya tanpa berganti pakaian. Meskipun rasanya lengket namun hari ini begitu melelahkan, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Siti. Tangan Adi memeluk Siti dengan erat, ada rasa nyaman yang tidak bisa ia gambarkan.
Siti terkejut saat mendapati tubuhnya terasa di peluk, ia membuka kelopak matanya dan memandang wajah suaminya yang terpejam. “Mas,” panggil Siti pelan.
“Ada apa?” sahut Adi dengan mata yang terpejam.
Siti tidak melanjutkan ucapannya namun ia membalas pelukan Adi tak kalah eratnya seolah takut kehilangan Adi.
Adi dan Siti tidur dengan posisi saling memeluk erat. Pagi harinya seperti biasa Siti bangun lebih pagi dan membangunkan Adi untuk melaksanakan ibadah subuh.
Siti merasa sangat senang bisa melaksanakan ibadah bersama Adi. Siti mencium punggung tangan Adi dengan rasa hormat pada suaminya.
Adi menatap Siti yang masih menggunakan mukena. “Siti,” panggil Adi.
“Iya Mas.”
“Mungkin aku jauh dari kata suami yang sempurna untukmu, bahkan pilihanku akan melukaimu.”
Siti melihat wajah serius Adi yang berbeda dari biasanya. “Ada masalah apa Mas?”
“Anggun,” ucap Adi sengaja menggantungkan ucapannya.
“Anggun juga mengancam Siti, apa pun langkah yang Mas ambil Siti tidak akan mempermasalahkan itu,” ucap Siti dengan penuh keyakinan, meskipun jauh di lubuk hati terdalamnya ia takut akan ujian yang akan datang di kemudian hari.
__ADS_1
Adi mengulurkan Tangannya membelai pipi Siti menggunakan ibu jarinya. “Terima kasih.”
Siti mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
***
Semua ujian yang di berikan Allah hanya masalah waktu, bagaimana kita bersabar menghadapi hal yang membuat kita merasakan sakit. Begitu juga dengan perasaan Siti, ada banyak air mata yang ia keluarkan saat merasakan dunia tak adil. Impian tentang pernikahannya yang indah ternyata semuanya hanya khayalan semata, namun ia tidak pernah merasa kecewa atas takdir hidupnya.
Pernikahannya memang tak seindah bayangannya, namun Siti merasa bahagia dengan pernikahannya. Terlalu banyak melamun hingga tak sadar jika lantai yang ia pijak naik sepuluh centimeter membuat tubuh Siti terhuyung ke depan dan mendarat di lantai kampus. Banyak pasang mata yang memandangnya, malu bukan main. Namun karena kecerobohannya sendiri, Siti harus menerima konsekuensinya.
“Kamu baik-baik saja?”
Siti tersenyum ke arah wanita yang bertanya, ia juga menerima uluran bantuan dari wanita itu dan bangkit berdiri tegak.
“Mau aku antar ke unit kesehatan?”
Siti menggelengkan kepalanya pelan seraya menampilkan senyuman di wajahnya menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
“Kalau begitu aku pergi dulu, jangan melamun terus,” pesan wanita yang menolong Siti.
“Iya.”
Setelah kepergian wanita yang menolongnya Siti berjalan perlahan dengan kaki yang terasa sakit. Ia memilih duduk di bangku taman dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan pada suaminya. [Mas]
__ADS_1
[Iya.] Balas Adi.
Siti mengetikkan jarinya di atas layar ponselnya. [Siti jatuh hihihi. Tidak bisa berjalan, sakit. Boleh minta tolong jemput Siti di kampus. Kalau Mas sibuk, minta tolong Galih saja. Terima kasih.]
[Oke.]
Melihat balasan dari Adi, Siti tidak berharap banyak. Apalagi perusahaan Adi sedang di masa kejayaan, dan sangat sibuk. Bahkan beberapa hari ini Adi selalu pulang terlambat.
Siti duduk dengan membaca kembali rangkuman yang ia tulis saat dosen menjelaskan. Kepala Siti menengok saat ujung matanya melihat seseorang duduk di sampingnya. “Mas,” ucap Siti dengan rasa tidak percaya karena Adi cepat sekali sampai, bahkan ia pikir Galih yang akan menjemputnya.
Adi berjongkok dan melihat pergelangan kaki Siti yang sedikit bengkak. “Kita ke dokter ya,” ucap Adi. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan terhadap kaki istrinya.
“Tidak perlu mas, nanti Siti kompres saja,” tolak Siti. Karena ia merasa kakinya tidak terlalu parah.
“Kalau begitu ayo kita pulang,” seru Adi. Ia mengangkat tubuh Siti ke dalam pangkuannya dan berjalan dengan perlahan.
“Mas malu,” ucap Siti dengan pipi yang bersemu merah.
Adi hanya menganggapi ucapan Siti dengan senyuman.
“Mas ih Siti mau turun saja,” ucap Siti lagi.
“Sudah diam saja, sebentar lagi sampai.”
__ADS_1
Siti memilih menyembunyikan wajahnya, agar tidak banyak mahasiswa yang melihat kejadian memalukan ini. Meskipun memalukan Siti senang bukan main akan perhatian Adi, meskipun terlihat cuek bahkan Adi sibuk dengan pekerjaannya namun jika di minta bantuan seperti ini Adi tidak pernah gagal menjadi super Hero.