
Siti terbangun. Bibirnya tersenyum saat hal yang pertama kali ia lihat wajah suaminya. Siti menenggelamkan kembali wajahnya pada dada bidang Adi, ia memejamkan matanya menikmati kenyamanan yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan. Saking nyamannya tanpa sadar Siti kembali tidur di dalam pelukan Adi.
Adi mengeratkan pelukannya, rasa pusing di kepalanya membuat Adi enggan untuk bangun.
Siti terbangun dari tidurnya saat terdengar suara ketukan di pintu kamar Adi.
“Siapa itu berisik sekali,” keluh Adi.
Siti yang masih dalam pelukan Adi menarik dirinya.
Adi membuka matanya saat merasakan tubuh Siti terlepas dari pelukannya. “Mau ke mana?”
“Buka pintu,” jawab Siti.
Adi menarik tubuh Siti kembali ke dalam pelukannya. “Tidak perlu di buka,” ujar Adi.
Siti yang berada di pelukan Adi menatap suaminya yang kembali menutup mata. Ia merasa tidak enak karena ketukan di pintu kamar tidak kunjung berhenti.
“Mas,” panggil Siti.
“Biarkan saja,” jawab Adi tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Siti merasakan sisi berbeda dari Adi, sikap yang tidak pernah Siti rasakan. Ia merasa adi berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Akhirnya Siti memilih menuruti ucapan suaminya membiarkan ketukan di pintu terus terdengar, namun Setelah beberapa detik suara ketukannya terhenti.
Siti hanya terdiam di dalam pelukan Adi, rasa senang dalam dirinya tidak bisa ia tutupi. Bibirnya terus tersenyum di ikuti debaran jantungnya yang tidak biasa.
Tubuh Siti sudah terasa pegal ia bergerak untuk melepaskan tangan Adi yang melingkar di tubuhnya.
“Tidak bisakah kamu diam saja dan jangan bergerak?” tanya Adi dengan mata yang terbuka memandang kesal ke arah istrinya.
“Aku lapar Mas,” jawab Siti. Ia mencari jam yang ada di kamar Adi, ternyata sudah pukul sembilan pagi.
Adi terdiam dan menggelengkan kepalanya. Tubuh Adi bergerak memunggungi Siti dan menutup selimutnya sampai ke leher.
“Mas,” panggil Siti. Siti terdiam menunggu jawaban namun Adi tidak bergerak dan menjawab panggilan Siti.
Siti menghembuskan nafasnya, ia tidak menyangka Adi kesal karena hal sepele seperti ini.
Siti beranjak dari tempat tidur, ia menyiapkan sarapan serta membersihkan tubuhnya. Siti menunggu Adi di ruang makan, namun suaminya tidak kunjung datang. Siti menikmati sarapan paginya yang terlambat seorang diri, usai menghabiskan sarapannya Siti membawa sarapan untuk suaminya menuju kamar.
Saat Siti masuk ke kamar, Adi masih berada di posisi yang sama saat Siti tinggalkan. Siti menaruh nampan yang ia bawa pada meja kecil di samping tempat tidur. Siti menatap Adi yang memejamkan matanya. Tangan Siti bergerak membangunkan Adi dengan menepuk pipinya perlahan. “Mas,” panggil Siti.
__ADS_1
Adi menarik selimutnya hingga menutupi seluruh kepalanya, ia kesal karena Siti meninggalkannya begitu saja.
Siti terdiam mencerna kejadian barusan. “Mas marah?” tanya Siti.
“Tidak,” jawab Adi ketus tanpa membuka selimutnya yang menutupi wajahnya dengan sempurna.
Siti tersenyum saat mendengar jawaban Adi. Siti seperti melihat murid di taman kanak-kanak yang sedang merajuk. “Siti bawa sarapan loh buat Mas, makanan kesuakaan Mas,” ucap Siti mencoba merayu.
Adi membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ia menatap ke arah nampan yang di bawa Siti. “Suapi,” jawab Adi. Ia ingin menunjukkan sisi manja dirinya. Adi ingin melihat sikap Siti dalam menghadapinya, karena selama ini Anggun yang bisa menerima sikap manja Adi jika sedang dalam kondisi tertentu di saat dirinya merasa lelah dengan masalah kehidupan.
Siti mengangguk dan tersenyum ke arah Adi.
Adi bangkit dari tidurnya dan duduk dengan bersandar.
Siti mengambil piring berisi sarapan Adi. Lalu menyendok makanan dan menyuapi Adi.
Adi menerima suapan dari istrinya. Ia memperhatikan wajah Siti yang tampak senang menyuapi, tidak ada tatapan risi atau pun jijik di wajah Siti.
Siti menyuapi sarapan Adi hingga piringnya tak bersisa sedikit pun. Ia menyimpan piring, lalu mengambil minum untuk Adi. Siti membantu Adi minum sampai tandas.
Adi menatap ke arah istrinya dengan pandangan serius. “Minta Inem pindah kan semua barangmu ke kamar ini.”
__ADS_1