Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Enam


__ADS_3

“Heh dengar ya gadis kampung sialan. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa mengambil hati Adi, jangan bangga hanya karena dirimu bergelar istri. Adi tidak akan pernah mencintaimu, sampai kapan pun!”


Siti berusaha melepaskan tarikan Anggun pada jilbabnya, namun tidak bisa lepas. “Aku bangga menjadi istri Mas Adi, meskipun tak di cintai. Dari pada menjadi wanita simpanan yang tidak memilik rasa malu seperti Mbak Anggun.”


Anggun mendorong tubuh Siti hingga tubuh Siti tersungkur ke lantai. “Jangan tampil sok hebat di depanku, kamu itu enggak ada apa-apanya di bandingkan aku!”


Kepala Siti menengadah ke atas untuk menatap Anggun, ia hanya tersenyum mendengar ucapan Anggun. “Seharusnya Mbak membawa cermin, lihat diri Mbak. Sangat menyedihkan!”


Anggun semakin kesal mendengar hinaan yang keluar dari mulut Siti. Ia mengambil hiasan yang ada di meja dan memukulkannya pada kepala Siti dengan sekuat tenaga.


Siti tidak sempat menghindar dari gerakan Anggun, ia merasakan kepalanya sangat sakit. Pandangannya mulai buram, lalu menghitam.


***


Siti merasakan sakit di kepalanya, dengan perlahan ia membuka matanya. Dan terkejut mendapati Galih berdiri di depannya.


Siti berusaha bangkit dari tidurnya, ia melihat sekeliling, ternyata ia ada di kamarnya sendiri.

__ADS_1


“Apa Nona masih merasakan sakit di kepalanya, saya bisa membawa Nona ke rumah sakit,” ujar Galih.


Siti memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. “Mas Adi di mana?” tanya Siti.


“Di kantor,” jawab Galih cepat.


“Jangan berbohong Galih, Mas Adi bertemu dengan wanita yang memukulku,” ucap Siti.


“Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah.”


Galih memberikan sebuah ponsel ke pada Siti. “Nona bisa menghubungi saya jika membutuhkan sesuatu. Kalau begitu saya permisi,” pamit Galih.


Siti menerima ponsel yang di berikan Galih, lalu menatap punggung pria tersebut yang menghilang di balik pintu.


Siti menyimpan ponsel pemberian Galih. Hari ini adalah hari yang sangat menyakitkan bagi Siti. Ia sengaja terlihat kuat dan berani di hadapan Anggun. Siti tidak ingin terlihat lemah, meskipun ia dari kampung tapi Siti juga sama memiliki keberanian. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah seperti tokoh protagonis di film yang sering ia tonton.


Siti memejamkan matanya kala mengingat ucapan Anggun yang mengatakan bahwa semalam mereka tidur bersama sehingga Adi tidak pulang. Ada harapan serta hati yang hancur, ia tidak menyangka suaminya memiliki kekasih. Bahkan dengan teganya meninggalkan istrinya sendiri di malam pertama.

__ADS_1


Tangan Siti mengusap dadanya yang terasa sesak, ia berusaha menenangkan dirinya untuk lebih sabar lagi menghadapi ujian dari Allah.


Sementara di apartemen milik Anggun Adi sedang memakai kembali pakaiannya.


Anggun menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. “Kamu harus segera menceraikan istrimu yang tidak tahu diri itu,” pinta Anggun dengan nada kesalnya.


Selesai mengancingkan kemejanya Adi berjalan mendekat ke arah Anggun. “Aku tidak bisa melakukan itu dalam waktu dekat, kamu tahu sendiri perusahaanku tidak akan bisa berdiri jika ayahku menarik semua sahamnya,” jawab Adi. Ini pun yang menjadikan Adi menerima keinginan Gunawan untuk menikahi Siti. Sejujurnya dia sangat tidak ingin menikah dengan wanita kampungan seperti Siti. Terlebih Adi sangat mencintai kekasihnya, Anggun.


“Aku tidak mau tahu, kamu harus secepatnya menceraikan Siti,” kukuh Anggun.


Adi mengecup kening Anggun. “Iya sayang, aku akan berusaha semaksimal mungkin mengabulkan keinginanmu.”


Anggun memeluk tubuh Adi. “Terima kasih. Meskipun kamu tidak mencintainya, tapi aku sangat cemburu dan tidak bisa tidur dengan tenang.”


Adi senang mendengar penuturan Anggun. Hal yang membuat Adi sangat jatuh cinta pada Anggun yaitu kekasihnya sangat manja. Tangan Adi membalas pelukan Anggun. “Jangan khawatir lagi ya,” pinta Adi.


Anggun menarik dirinya dan menatap wajah Adi. Bibirnya tersenyum ke arah Adi. Sebetulnya Anggun tidak peduli Adi memiliki istri, yang terpenting baginya ia bisa hidup mewah dan berhura-hura tanpa harus bekerja keras mencari uang.

__ADS_1


__ADS_2