Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Dua Puluh Enam


__ADS_3

“Pa Gunawan dan ibu Indira juga sedang berusaha untuk memisahkan mereka, tetapi beberapa hari yang lalu Anggun mengaku jika dirinya hamil.”


“Lalu bagaimana dengan nasibmu?”


Siti memegang kedua tangan ibunya dengan sangat erat. “Ibu tidak perlu khawatir, Papa Gunawan dan ibu Indira mendukungku. Mereka tidak membiarkan mas Adi menikah,” jawab Siti berharap ibunya akan sedikit tenang mendengar ucapannya.


Devi sedikit merasa tenang meskipun ia tidak rela membiarkan Siti merasakan sakit. “Kalau kamu sudah tidak tahan, bilang sama ibu ya. Ibu yang akan membelamu, ibu akan ada bersamamu,” ujar Devi. Ia memeluk Siti dengan sangat erat.


Siti membalas pelukan ibunya dengan perasaan sedikit lega.


“Ibu yakin kan Siti bisa melewati ini semua?” tanya Siti dengan senyuman di bibirnya.


“Iya Sit, ibu yakin.”


Adi memarkirkan mobil milik Anggun di sebuah hotel yang cukup jauh dari kampung Siti bahkan sebentar lagi masuk ke daerah perkotaan.


Anggun turun lebih dulu di ikuti Adi, ia menggandeng tangan Adi dan masuk ke dalam untuk memesan kamar. Mereka di antar menuju kamar yang sudah di pesan.


Setelah menutup pintu Anggun memeluk tubuh Adi sangat erat. “Bayi kita rindu sama ayahnya,” ujar Anggun dengan senyuman manisnya.


“Benarkah.” Adi melepaskan pelukan Anggun, ia membungkukkan tubuhnya menempelkan telinganya di perut Anggun.


“Aku sangat merindukanmu Ayah,” ucap Anggun dengan nada suara anak-anak kecil.


Adi memberikan kecupan pada perut Anggun yang masih rata. Tubuh Adi kembali tegap dan mengecup bibir Anggun. Kali ini Adi lebih dulu memeluk Anggun. “Terlalu berbahaya kamu menyusulku seperti ini, aku takut terjadi hal yang membahayakan anak kita. Jika nanti terjadi lagi, kamu hanya perlu memintaku. Dengan senang hati aku akan segera menemui kalian,” ujar Adi.


Anggun memeluk erat tubuh Adi, inilah hal yang ia suka dari Adi. Kasih sayang Adi tidak pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, meskipun Adi tidak sekaya pria lain namun bersamanya membuat Anggun merasa di hargai dan di sayangi.

__ADS_1


“Aku belum makan,” keluh Anggun.


“Mau makan apa?” Tanya Adi menatap serius ke arah Anggun.


“Mau makan kamu,” ujar Anggun dengan kedipan di sebelah matanya.


***


Sudah lima hari Adi tidak kunjung pulang, Siti menyapu halaman depan sesekali melirik ke arah mobil Adi yang masih terparkir di sana.


Dari teras depan Devi memandangi Siti yang tampak tidak fokus. Bahkan Devi mendengar beberapa tetangga yang tengah berbelanja sayur membicarakan pernikahan Siti.


Siti sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia berjalan menghampiri ibunya dan ikut duduk di kursi yang ada di teras depan. Siti menyesap teh yang di buatnya.


“Ini malam tahlil ke tujuh, Adi juga tidak kunjung datang. Kamu tidak menghubunginya?” Tanya Devi.


Siti menyimpan cangkir ke atas meja. “Mungkin besok Mas Adi pulang, Siti lupa membawa ponsel karena terburu-buru kemari.”


Siti menatap sang ibu. “Kalau Siti lelah dan memilih menyerah apa yang akan terjadi Bu. Siti hanya akan menjadi seorang janda, yang tidak punya pekerjaan. Lagi pula pak Gunawan memberikan tawaran untuk kuliah, beliau akan membiayai kuliah Siti,” ucap Siti menjelaskan. Meskipun hatinya merasa sakit atas perlakuan Adi yang tega meninggalkannya seperti ini tanpa sebuah penjelasan. Belum lagi ucapan-ucapan para tetangga yang dengan sengaja menanyakan kabar Adi yang jelas-jelas mereka pun tahu Adi tidak ada di rumah.


“Maafkan ibu ya Sit, tidak bisa membiayai kuliahmu,” ungkap Devi. Ia memandang wajah Siti yang tampak tidak seceria biasanya.


“Kenapa minta maaf Bu, ini bukan salah Ibu. Pak Gunawan tidak keberatan, meskipun awalnya Siti menolak karena malu dan beralasan ingin mencari pekerjaan lebih dulu. Tapi beliau sangat baik pada Siti.” Mungkin jika ada orang tuanya Adi, semua ini tidak akan terjadi. Siti terlalu lemah jika tanpa Gunawan dan Indira. Siti berdoa di dalam hatinya agar pernikahannya baik-baik saja, dan ia meyakinkan dirinya bahwa Siti kuat menghadapi semua ini.


Sore harinya Adi sudah berpakaian rapi, ia harus segera kembali menjemput Siti. “Jadi pergi sekarang sayang?” tanya Anggun.


“Iya, besok aku harus membawa Siti kembali,” jawab Adi. Ia mengambil jam tangan dan memakainya.

__ADS_1


“Lalu kalian akan tinggal di mana?” tanya Anggun.


“Tidak tahu, mungkin nanti aku harus berbicara dulu dengan orang tuaku, karena sebagian barang-barang milikku dan Siti ada di rumah Papa,” sejujurnya Adi tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih selama lima hari ini mereka aman tinggal di rumah pemberian Gunawan, Adi meminta seluruh pekerja di rumah ini untuk tidak melapor pada Gunawan jika ia tinggal bersama Anggun.


“Kalau kalian tinggal bersama orang tuamu, aku ingin tetap tinggal di sini,” pinta Anggun.


Adi mengangguk setuju. “Silahkan.”


Galih sudah memanaskan mobilnya, ia mengetuk pintu kamar Adi. “Tuan mobilnya sudah siap,” ucap Galih.


Adi mengecup kening Anggun sebelum membuka pintu kamarnya.


“Hati-hati sayang,” ucap Anggun.


Adi mengangguk dan menutup pintu kamar, ia berjalan di ikuti Galih. “Bagaimana dengan perusahaan?”


“Semuanya berjalan lancar Tuan,” jawab Galih.


Galih membukakan pintu penumpang untuk Adi, sementara ia duduk di kursi kemudi. Galih berhasil sampai di kampung halaman Siti, bahkan ia melihat mobil Adi terparkir.


Galih menengok ke belakang, dan melihat Adi yang tampak bersandar dengan mata terpejam. “Tuan sudah sampai,” ucap Galih.


Galih memperhatikan sekeliling yang tampak sepi, serta gelap gulita hanya dengan pencahayaan rumah.


Galih melihat Siti yang keluar dari rumah menghampiri mobilnya. Galih segera turun dari mobil.


“Mas Adinya mana?” tanya Siti begitu melihat Galih.

__ADS_1


“Ada di dalam mobil, sedang tidur,” jawab Galih.


Mendengar jawaban Galih ada perasaan senang yang di rasakan Siti. Ia pikir Adi tidak akan pernah kembali menjemputnya. Tapi di malam terakhir ini Adi datang.


__ADS_2