
Malam harinya setelah acara tahlil selesai di selenggarakan, para warga mulai berpamitan. orang tua Adi menghampiri besannya. “Saya dan Indira pamit dulu ya Devi,” ucap Gunawan.
“Kenapa tidak besok saja, ini sudah malam,” jawab Devi dengan suara seraknya, akibat terlalu banyak menangis.
“Besok ada urusan penting, enggak bisa di tinggalkan begitu saja,” ujar Gunawan.
“Kalau begitu hati-hati di jalan Pak, Bu,” ucap Devi seraya tersenyum ke arah Indira dan Gunawan.
Adi segera menghadang kepergian orang tuanya. “Papa dan ibu mau ke mana?”
“Pulang,” jawab Gunawan.
“Loh kenapa tidak bilang, Adi juga mau ikut pulang saja,” ujar Adi melupakan satu hal.
Gunawan menampar bahu Adi menggunakan telapak tangannya. “Kamu itu jangan mengada-ada. Temani istrimu sampai acara tahlilnya selesai.”
“Ini kan sudah selesai,” ujar Adi. Ia tidak begitu tahu adat orang desa.
“Tahlil itu di lakukan setiap malam, selama tujuh hari. Jadi kamu di sini temani Siti sampai acara tahlilnya selesai.”
Mendengar perkataan Gunawan Adi sangat terkejut hingga mulutnya terbuka. “Tujuh hari?”
“Iya.”
“Jaga Siti baik-baik ya Adi,” pinta Indira.
__ADS_1
“Enggak bisa Pa, Bu. Adi mau ikut pulang saja,” kukuh Adi. Ia tidak mau terjebak tujuh hari di kampung ini, apalagi bersama Siti.
“Pulang saja kalau berani, papa pastikan besoknya perusahaanmu gulung tikar,” Gunawan memberikan ancaman paling jitu agar Adi mau mengikuti ucapannya.
“Cih, selalu itu yang Papa gunakan. Papa itu kalau tidak ikhlas, dari awal saja tidak usah menanam saham di perusahaanku. Merepotkan saja,” gerutu Adi. Ia berjalan meninggalkan orang tuanya dan masuk ke dalam kamar Siti.
Devi yang melihat menantunya tampak kesal segera menatap ke arah Siti. “Temani suami kamu Sit,” ujar Devi.
“Tapi Bu, ini kan belum selesai beres-beresnya. Nanti Siti temani Mas Adi kalau semua ini sudah selesai,” jawab Siti. Tangannya masih sibuk menata gelas-gelas kotor ke atas nampan.
“Sudah ini biar ibu yang lanjutkan, kamu temui suamimu dulu,” titah Devi.
“Nanti ibu kelelahan, ini sedikit lagi kok. Mending ibu istirahat di kamar. Selesai ini Siti temui Mas Adi,” ujar Siti meyakinkan sang ibu.
Devi tersenyum ke arah Siti. “Jadi istri yang Solehah ya buat suamimu Sit,” pesan Devi.
“Kamu masih lama?”
Sontak Siti menengok ke belakang saat mendengar suara suaminya. “Masih mas, memangnya ada apa?”
“Aku ingin buang air kecil,” jawab Adi. Ia tak bisa lagi menahan keinginannya.
Siti menatap cuciannya yang hampir memenuhi kamar mandi. “Tapi mas,” ujar Siti.
“Cepat aku sudah tidak tahan,” ketus Adi.
__ADS_1
“Kamar mandinya penuh oleh cucian piring dan gelas kotor, tidak mungkin bisa di tutup. Kecuali Mas mau buang air kecil di hadapanku,” ujar Siti malu-malu.
Adi kesal melihat wajah malu-malu Siti. “Sepuluh detik kosongkan kamar mandinya.”
“Tidak mungkin Mas, kalau Mas tidak mau buang air kecil di hadapanku buang air kecil di belakang saja,” ujar Siti memberi saran.
“Ada kamar mandi di luar?” Tanya Adi.
Siti mengangguk, “Ada Mas.”
Adi segera berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa, keadaan di belakang hanya di sinari oleh lampu berwarna oranye seperti tengah berada di jaman tahun dua ribu. Keadaan lampunya cukup redup, dan tak dapat menerangi halaman belakang sepenuhnya. Yang dapat Adi lihat sekelilingnya sangat gelap, namun tidak jauh darinya ia melihat cahaya yang menerangi sebuah kamar mandi. Jantung Adi berdetak lebih kencang saat melihat bayangan putih, tidak dapat di sebut bayangan karena Adi dapat melihatnya dengan jelas seperti makhluk halus yang tengah bergerak-gerak di kamar mandi tersebut. Bulu kuduk Adi merinding, belum lagi Adi merasakan hawa di sekitarnya lebih dingin.
Adi sangat terkejut saat makhluk tersebut berbalik dan menunjukkan wajahnya, yang tampak pucat pasi. Adi yang ketakutan kembali masuk ke dalam dan berlari menghampiri Siti.
“Siti ada hantu,” ucap Adi dengan tubuh yang gemetar ketakutan, ia menyembunyikan wajahnya pada punggung Siti yang tengah menata sebagian gelas ke lemari.
“Hantu apa Mas?” Tanya Siti.
“Itu di kamar mandi belakang,” ujar Adi seraya menunjuk ke arah pintu belakang. Rasa takutnya tidak kunjung hilang ia benar-benar merasa ketakutan, ini pertama kalinya ia merasa tinggal di tempat uji nyali.
“Masa sih Mas,” ujar Siti tidak percaya. Ia berjalan menuju belakang dan membuka pintunya. Dari tempatnya berdiri Siti melihat seorang wanita memakai mukena putih tengah berada di kamar mandi belakangnya.
“Siti bibi minta air ini, habis shalat belum selesai zikir bapak teriak-teriak dari kamar mandi katanya airnya habis lagi buang air besar. Jadi terpaksa deh ambil air dulu.”
“Iya tidak apa-apa Bi, jawab Siti. Siti masuk ya Bi,” pamit Siti. Ia kembali masuk hendak menghampiri Adi, namun fokusnya tertuju pada bagian bawah Adi.
__ADS_1
“Mas kok celananya basah, buang air kecil di celana?” Tanya Siti dengan nada terkejutnya.