
“Bagaimana kalau ternyata anak yang di kandung Anggun, itu darah dagingku?”
“Ada banyak cara untuk bertanggung jawab, tidak perlu menikahi. Kecuali kamu masih tetap egois mau bersamanya, papa tidak akan melarang lagi. Papa rasa sudah cukup banyak rasa sakit yang Siti tanggung dari pernikahan ini, dia juga berhak bahagia. Papa sudah berjanji pada almarhum akan membahagiakan Siti. Jika bersamamu tidak bahagia tidak ada yang bisa Papa lakukan lagi, selain membiarkan perceraian terjadi di antara kalian,” ucap Gunawan serius. Ini harapan terakhir untuknya, jika sampai di sini Adi masih mempertahankan Anggun sudah tak ada harapan lagi.
“Aku perlu waktu untuk memikirkannya,” jawab Adi. Ia beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut.
Galih membungkuk hormat pada Gunawan, ia melangkahkan kakinya hendak menyusul Adi. Namun ia memilih berbalik badan dan menatap Gunawan. “Tuan, ada yang perlu tuan ketahui,” ujar Galih.
“Ada masalah apa?” tanya Gunawan.
“Anggun sudah tinggal hampir satu Minggu di rumah, bahkan sampai Nona Siti pulang dari kampung Anggun masih tetap tinggal. Adi mengancam kami untuk tidak membocorkan ini pada Tuan,” ucap Galih jujur. Ia rasa orang tua Adi harus tahu akan hal ini.
Ada rasa khawatir dalam hati Gunawan, mungkin ia harus segera menyelesaikan masalah ini. “Jaga Siti. Jangan sampai Anggun melukai menantuku. Bagaimana dengan kuliahnya?”
“Siti sudah memutuskan, pilihannya jatuh pada universitas BN,” lapor Galih.
Mendengar universitas yang di pilih Siti berjarak tidak jauh dari tempat tinggal. Gunawan berharap Adi menentukan pilihan yang tepat untuk ke depannya. “Baiklah, terima kasih sudah membantu. Saya akan segera melakukan pendaftaran.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi Tuan,” pamit Galih. Ia berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul Adi.
Adi menunggu Galih di depan mobilnya. “Membicarakan apa dengan Papa, kenapa lama sekali?”
“Saya melapor tempat kuliah yang di pilih Nona Siti,” jawab Galih. Ia membukakan pintu untuk Adi.
Galih masuk ke dalam mobil, dan bersiap melakukannya.
“Pulang ke rumah,” ucap Adi.
Galih sesekali melirik kaca spion tengah, Adi tampak melamun tengah memikirkan sesuatu.
Mobil yang Galih kendarai telah sampai di rumah. Galih membukakan pintu untuk Adi. Ia berjalan mengekor di belakang Adi.
Adi berjalan menuju kamarnya, di sana tidak ada tanda-tanda keberadaan Anggun. Adi keluar dari kamar berjalan menuju dapur mencari Inem.
Saat melihat Inem yang tengah berkutat dengan urusan dapurnya, Adi segera menghampiri asisten rumah tangganya itu. “Inem,” panggil Adi.
__ADS_1
Mendengar panggilan Inem mencuri tangannya segera, dan menghadap pada Adi yang memanggilnya. “Iya Tuan,” jawab Inem seraya membungkuk memberi hormat.
“Ikut saya,” perintah Adi. Ia berjalan menuju kamarnya.
Inem mengekor di belakang Adi dan masuk ke dalam kamar.
“Keluarkan barang milik Anggun yang ada di walk in closet saya,” titah Adi. Ia duduk di sofa yang ada di ruangannya.
“Baik Tuan,” jawab Inem patuh ia segera mengikuti perintah Adi. Inem memasukkan pakaian Anggun ke dalam sebuah koper.
Dari luar Anggun masuk ke dalam kamar Adi, ia bersimpuh di kaki Adi. “Sayang kamu harus dengar penjelasanku dulu,” ucap Anggun dengan wajah memelasnya.
Adi menatap Anggun lekat-lekat. “Penjelasan apa lagi yang harus aku dengar, semuanya sudah jelas. Dan aku melihatnya dengan mataku sendiri,” tegas Adi.
Anggun memeluk kaki Adi. “Aku di jebak sayang, temanku tega menjebakku. Kamu tahu kan bagaimana setianya aku, aku tidak pernah selingkuh darimu,” ucap Anggun.
Adi benci mendengar tangisan Anggun yang terdengar sangat menyebalkan di telinganya.
__ADS_1