
Sampai di kamar, Adi merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. “Aku panggilkan dokter ya,” ucap Adi.
“Tidak perlu mas,” Siti menarik tangan Adi agar tidak pergi. “Tolong bantu aku ke kamar mandi.”
Adi membantu Siti yang tidak bisa berjalan menuju kamar mandi, ia menurunkan tubuh Siti di atas kloset. Lalu keluar meninggalkan Siti sendirian untuk mengambil es batu dan handuk.
Langkah tergesa Adi kembali masuk ke dalam kamar mandi.
“Aaa kenapa mas tiba-tiba masuk,” ucap Siti ia yang sedang memakai celananya secepat mungkin menariknya ke atas agar menutupi bagian inti tubuhnya.
Adi tersenyum melihat wajah terkejut Siti, ia menghampiri sang istri dan memberikan kecupan singkat di pipinya. “Kenapa harus malu, aku sudah berulang kali melihatnya.”
Pipi Siti semakin memerah mendengar ucapan Adi. Saking malunya ia memilih menundukkan kepalanya bahkan saat Adi memangku tubuhnya pun Siti memilih membenamkan wajahnya pada dada bidang Adi.
Adi menurunkan Siti pada sofa, ia mengambil es batu yang sudah ia siapkan lalu membungkusnya dengan handuk. Tangan kiri Adi mulai mengompres kaki Siti.
Di dalam hatinya terus mengungkap rasa syukur saat mendapat sikap perhatian Adi. Setengah tahun pernikahan yang di awali dengan air mata kini penuh dengan senyuman, dan Siti tidak pernah menyesal telah bertahan meskipun ada rasa sakit yang pernah ia rasakan.
Tangan Adi yang tidak memegang kompres merapikan rambut Siti yang keluar dari bagian sisi wajahnya.
Lagi-lagi Siti tersipu oleh perbuatan Adi.
__ADS_1
“Sepertinya pipimu terlalu banyak memakai perona pipi,” ledek Adi. Jelas-jelas Adi tahu jika istrinya hanya memakai bedak dan lipstik.
“Mas meledek aku terus,” ujar Siti dengan wajah yang di buat sedikit kesal namun bibirnya menampilkan senyuman malu-malu.
Adi menanggapi ucapan Siti dengan senyuman, ia mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar di dalam sakunya. “Aku angkat telepon dulu ya.”
Kepala Siti mengangguk memberi izin. Ia memandangi tubuh suaminya yang keluar dari dalam kamar. Siti sudah hafal jika Adi tidak menerima telepon di depannya itu artinya panggilan dari Anggun. Karena selama ini jika Galih yang menelepon Adi akan menerima panggilan tersebut tanpa meminta ijin.
Siti melihat Adi kembali dengan wajah cemasnya. “Ada apa Mas?”
“Aku pergi dulu ya, Anggun mengalami kontraksi,” pamit Adi. Ia memberikan kecupan singkat di kening Siti sebelum pergi meninggalkan kamar.
Siti berusaha menekan rasa sesak di dadanya, ada rasa tidak rela melihat Adi pergi sementara dirinya pun masih membutuhkan perhatian suaminya. Terdengar sangat egois, namun Siti tidak menampik jika memang ia juga ingin menjadi prioritas utama bagi suaminya.
Siti menghapus air mata yang mengalir menggunakan punggung tangannya. Semua ini terjadi karena ia mendukung pilihan Adi, meskipun perasaannya harus di korbankan Siti merasa senang saat melihat Adi dan perusahaan yang di bangun suaminya baik-baik saja. Anggun benar-benar menepati ucapannya, karena Adi pun melakukan hal yang sama.
Adi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, ia di temani suster untuk segera masuk ke dalam ruang bersalin agar menemani Anggun.
Entah alasan apa Anggun memilih untuk melahirkan secara normal, padahal Adi tidak masalah jika Anggun ingin melakukan operasi Caesar. Ia mendekat ke arah Anggun, melihat perjuangan Anggun yang sangat luar biasa bagi Adi.
Suara tangis dari bayi terdengar cukup nyaring di telinga Adi, ada rasa lega setelah selesai melaksanakan tugasnya. Kini beban yang ia pikul rasanya hilang. Tak ada lagi rasa sakit yang akan di terima oleh Siti, kini ia terbebas dari kekangan Anggun.
__ADS_1
“Adi,” panggil Anggun dengan suara lemahnya.
Adi menatap ke arah Anggun, keningnya penuh dengan keringat. Wajahnya tampak pucat dan lemas. “Iya.”
“Terima kasih, maaf a-”
Adi melihat mata Anggun yang tertutup dan tidak melanjutkan ucapannya.
Dokter yang melihat Anggun tidak sadarkan diri mulai panik. Ruang bersalin kini semakin ricuh.
Sampai setengah jam berlalu dokter menyatakan jika Anggun meninggal karena mengalami pendarahan hebat.
Tubuh Adi lemas bukan main, namun seorang suster menghampirinya dengan bayi yang ada di dalam gendongannya. “Yang kuat ya pak, bayi bapak masih membutuhkan sosok Ayah.”
Adi menerima bayi Anggun yang di berikan suster dan menggendongnya. Sebuah hantaman keras terasa mengenai dada Adi saat melihat wajah bayi yang di dalam gendongannya begitu mirip dengannya saat masih bayi.
Mata Adi beralih pada tubuh Anggun yang kini di tutupi oleh kain.
Rasa sesak itu semakin terasa, apalagi bayi yang ada di gendongannya tampak menangis. “Sayang ini papa,” ucap Adi dengan suara seraknya.
Tangan Adi menepuk-nepuk bagian pantatnya agar merasa nyaman. Ia tahu bagaimana pun juga bayi ini pasti memiliki kontak batin dengan Anggun. “Kamu tidak perlu khawatir, ada papa di sini,” Adi mendekap lebih erat bayinya.
__ADS_1