
Adi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara percakapan, dari tempatnya duduk ia melihat Siti tengah berbincang dengan Galih.
Adi keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
Siti menengok ke samping dan tersenyum saat melihat suaminya. “Mas,” panggil Siti. Ia sangat bahagia bisa melihat kehadiran Adi.
Adi menatap ke arah Galih. “Pergilah cari penginapan,” titah Adi.
“Baik Tuan,” jawab Galih patuh.
Adi menatap ke arah Siti. “Bereskan semua barang-barangmu, besok pagi kita akan kembali,” ujar Adi.
Adi berjalan masuk ke dalam rumah Siti. “Bagaimana dengan ibumu?” Tanya Adi memastikan.
“Semuanya baik-baik saja,” jawab Siti. Selama lima hari ini ia terus berusaha meyakinkan ibunya bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan Siti lega karena akhirnya Adi menjemputnya di waktu yang tepat.
Adi menatap mata Siti, ia ingin tahu apa ada hal yang ingin istrinya katakan.
Siti membalas tatapan Adi, tidak lupa ia menampilkan senyuman terbaiknya. “Apa Mas lapar, mau Siti buatkan sesuatu?”
__ADS_1
Adi mengedipkan matanya, selalu saja istrinya itu bersikap seolah tak ada masalah. Padahal Adi yakin kehadiran Anggun mengakibatkan masalah besar namun Siti tidak pernah marah sedikit pun.
“Tidak, aku hanya ingin istirahat saja,” jawab Adi. Ia masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya.
Siti duduk di samping tubuh Adi yang terlentang, ia ikut masuk ke dalam selimut dan merebahkan tubuhnya di samping Adi.
Siti memejamkan matanya dan pergi tidur, ia harus bangun lebih pagi untuk bersiap.
Adi tidak memedulikan Siti dan pergi ke alam mimpi.
Adi terbangun dari tidurnya, ia menatap koper yang sudah rapi tidak jauh dari tempat tidur. Serta Adi melihat Siti yang masih menggunakan mukena tengah berzikir dengan tasbih di tangannya.
Adi bangkit dari tidurnya, ia berjalan menuju kamar mandi ingin buang air kecil. Tidak lupa ia juga mencuci wajahnya. Setelah selesai Adi keluar dari kamar mandi dan melihat mertuanya berdiri di depan kamar mandi menatap Adi.
“Iya Bu,” jawab Adi. Ia melihat wajah Devi yang sangat serius menatapnya.
“Jika kamu tidak bisa membuat Siti bahagia, Maka lepaskanlah. Siti berhak bahagia,” ucap Devi. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan Siti di sakiti oleh Adi.
Adi mengangguk setuju. “Baik Bu,” jawab Adi yakin. Setelah Anggun melahirkan ia akan menceraikan Siti. Adi tidak yakin bisa membuat Siti bahagia, meskipun Adi jarang sekali melihat Siti menangis atau marah atas keadaan yang menimpanya.
__ADS_1
Devi berjalan masuk ke kamar mandi, sementara Adi kembali ke kamarnya. Kini Siti terlihat sedang merapikan alat shalatnya.
“Mau aku buatkan sarapan Mas?” tanya Siti. Tangannya menyimpan mukena yang sudah ia lipat ke tempatnya.
“Tidak perlu, kita langsung berangkat saja,” titah Adi.
Siti mengangguk, ia membawa koper miliknya dan berjalan mengikuti Adi.
Devi sedikit terkejut melihat Siti membawa koper. “Kalian mau ke mana?”
“Siti mau ikut mas Adi Bu, kembali ke kota,” jawab Siti. Hatinya terasa berat saat melihat kesedihan terpancar dari wajah ibunya.
Devi menghampiri Siti dan memeluk putri kesayangannya dengan sangat erat. “Ibu sangat menyayangimu, kembalilah Nak. Ibu akan selalu menunggumu.”
Siti membalas pelukan Devi sama eratnya, ia masih merindukan ibunya. Sejujurnya Siti tidak tega membiarkan ibunya tinggal sendirian. “Ibu jaga kesehatan ya, kabari Siti jika ibu butuh sesuatu.”
Devi melepaskan pelukannya. “Hati-hati, Adi ibu titip Siti ya,” pinta Devi.
“Iya Bu. Kalau begitu Adi pamit,” ucap Adi. Selesai berpamitan Adi membantu memasukkan koper yang di bawa Siti ke dalam bagasi, lalu duduk di kursi kemudi. Sementara Siti duduk di samping suaminya.
__ADS_1
Ada rasa berat saat melihat senyuman sang ibu, Siti melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju meninggalkan kediamannya.
Bagaikan nyonya rumah Anggun duduk di ruang tamu dengan secangkir teh, serta majalah di tangannya. Ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Siti.