Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Empat belas


__ADS_3

Sesuai perintah orang tuanya Adi membawa Siti masuk ke kamar Adi. “Untuk apa kamu berdiri di situ, masuk!”


Dengan ragu Siti melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan menutup pintunya dengan perlahan.


Adi melepaskan alas kakinya lalu naik ke atas tempat tidur, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi Anggun.


Sementara Siti memperhatikan sebuah foto yang terpanjang di atas meja, foto masa kecil Adi. Siti merasa gemas melihat Adi yang tampak menggunakan baju Koko serta kopiah yang miring.


“Kenapa kau menertawakanku?” ketus Adi.


Siti tersenyum ke arah Adi. “Siti tidak menertawakan Mas, hanya saja Mas terlihat menggemaskan di foto ini,” ujar Siti.


Adi melihat senyuman tulus di wajah Siti. Entah apa yang membuat wanita itu baik-baik saja, di saat Adi memperjuangkan Anggun. Tidak sedikit pun Adi melihat kepura-puraan dalam wajah Siti. “Seharusnya kamu meminta cerai dariku, dan mencari pria lain. Karena selamanya aku akan memperjuangkan Anggun, setelah ia melahirkan aku akan menikahinya. Jadi lebih baik dari sekarang kamu mencari pria lain saja,” ujar Adi memulai perbincangan seriusnya.


Siti menghampiri Adi, dan duduk di samping suaminya. “Untuk apa Mas aku mencari pria lain? karena kamu ada pria pilihanku. Sampai kapan pun aku akan terus menjadi istrimu, apa pun pilihan Mas Siti tidak akan pernah berniat bercerai dari Mas.”


Adi memperhatikan bola mata Siti yang tampak bersinar, ada keteduhan yang di rasakan Adi saat memandang wajah istrinya. Adi memalingkan wajahnya, Ia sangat yakin sebentar lagi Siti akan meminta cerai dan saat itu tiba Adi akan sangat bahagia dan berencana menjadikan Anggun sebagai istrinya.


Siti terdiam, ia senang bisa duduk sedekat ini dengan Adi dalam waktu yang cukup lama. Siti berusaha menyingkirkan rasa sakit saat mendengar Adi akan menikahi Anggun, yang terpenting untuk saat ini Adi masih ada di sampingnya dan masih berstatus suami. Memori kepala Siti masih merekam jelas saat Adi mengucapkan Akad pernikahan, hal yang membuat Siti jatuh cinta.


***


Siti membantu asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam. Setelah semuanya siap Gunawan dan istrinya masuk ke ruang makan.

__ADS_1


“Kenapa di sini, seharusnya Siti di kamar saja menemani Adi,” ujar Indira pada menantunya.


Siti tersenyum ke arah ibu mertuanya. “Siti hanya merasa bosan seharian di kamar, jadi kemari membantu menyiapkan makan malam.”


“Lalu Adi di mana?” tanya Gunawan saat tidak melihat keberadaan Adi di ruang makan.


“Sepertinya masih di kamar,” jawab Siti.


“Kalau begitu panggilkan Adi ya Siti, kita makan malam bersama,” pinta Indira.


“Baik Bu,” jawab Siti ia berjalan menuju kamarnya bersama Adi.


Siti membuka pintu kamar Adi dan melihat sang pemilik kamar yang tertidur lelap. Siti berjalan menuju tempat tidur, lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Tangannya menepuk-nepuk pipi Adi dengan perlahan. “Mas bangun sudah waktunya makan malam,” ucap Siti.


“Waktunya makan malam. Papa dan Ibu sudah menunggu,” ujar Siti.


Adi bangkit dari tidurnya, ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


“Mas kenapa, sakit?” tanya Siti.


Adi menggelengkan kepalanya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Wajahnya sudah terasa sedikit segar ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Siti yang berdiri di depan pintu kamar mandi. “Kenapa kamu berdiri di situ?”


“Menunggu Mas, Siti takut sesuatu terjadi pada Mas,” ucap Siti mengungkapkan rasa khawatirnya.

__ADS_1


Adi berjalan begitu saja melewati Siti lalu keluar dari kamar. Adi merasa sedikit risi dengan sikap perhatian yang di berikan Siti.


Sementara Siti mengekor di belakang Adi, berjalan menuju ruang makan. Sampai di ruang makan Adi duduk, di susul Siti yang ikut duduk di samping Adi. Ini untuk pertama kalinya Adi dan Siti makan bersama.


Siti mengisi piring milik Adi dengan nasi serta beberapa lauk. Adi menatap piring pemberian Siti yang sudah penuh.


Siti sempat berbincang dengan Mertuanya, hingga tahu makanan kesukaan Adi dan yang ada di piring Adi sudah sesuai dan tidak mungkin di tolak Adi.


Adi akhirnya mengalah dan memakan makanan yang ada di piringnya, meskipun jujur ia tidak ingin terlibat banyak hal dengan Siti.


Siti bahagia melihat makanan yang di siapkannya di makan oleh Adi, mungkin jika mereka makan di rumah bersama sudah pasti Adi akan melemparkannya dan tak mau makan.


Melihat interaksi Adi dan Siti sudah dapat Gunawan prediksikan bahwa mereka belum begitu dekat. Apalagi Gunawan melihat rasa tidak nyaman yang di tunjukan Adi sangat kentara.


“Adi apa kamu tidak memiliki rencana untuk membawa istrimu berlibur, kalian harus berbulan madu sebelum kembali bekerja,” ujar Gunawan.


Adi menengok ke arah Gunawan. “Untuk apa pergi bulan madu, aku tidak berniat menyentuhnya,” ucap Adi dengan jujur.


Mendengar hal itu membuat Indira kesal dan ingin melemparkan gelas ke wajah putranya.


Gunawan memperhatikan sikap Siti yang tampak menundukkan wajahnya. “Kamu belum mencobanya, berhubungan dengan istri sah dan pel’acur itu berbeda rasanya,” ujar Gunawan sengaja memberikan perbandingan.


Adi mengepalkan tangannya, ia tidak terima Anggun di katai pelacur oleh orang tuanya sendiri. “Tidak bisakah Papa menyebut nama Anggun saja, jangan menghinanya begitu. Bagaimana pun juga Anggun tengah mengandung anakku,” bantah Adi dengan nada tingginya.

__ADS_1


“Kamu masih tidak percaya dengan ucapan Papa? Bahkan bisa jadi anak yang di kandung Anggun bukan anakmu, melainkan anak dari pria lain,” tegas Gunawan.


__ADS_2