
“Sekarang aku hamil anak Adi. Aku ingin kamu merelakan Adi, bagaimana pun anak yang di kandungku berhak mendapatkan kebahagiaan bersama ayah kandungnya.”
“Aku rasa tidak perlu ikut campur atas dosa yang kalian perbuat. Lagi pula untuk apa memberitahuku atas perbuatan zina kalian yang membuahkan hasil, apa pun yang kalian lakukan aku tidak akan pernah berpisah dengan mas Adi,” jawab Siti dengan penuh keyakinan atas ucapannya.
“Jadi kamu tidak peduli dengan apa yang kami lakukan, kalau begitu kamu tidak masalah jika aku tinggal di rumah ini bersama kalian,” jawab Anggun.
Siti menghembuskan nafasnya, sepertinya ia salah berbicara. “Aku tidak masalah kamu tinggal di sini jika sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua mas Adi.” Siti berharap orang tua mas Adi dapat bijak dalam menghadapi masalah ini, karena Siti merasa tidak berhak untuk menuntut apa pun, terlebih posisinya di sini hanya menumpang. Tidak ada yang bisa membela dirinya.
“Baiklah jika kamu siap satu rumah dengan madumu ini, jangan menyesal ya,” ucap Anggun memberi peringatan. “Jangan sampai melarikan diri, kamu kuat kan. Aku ingin lihat sampai mana batas kesabaranmu menghadapi aku dan Adi,” lanjut Anggun.
Siti tersenyum tulus ke arah Anggun. “Silahkan saja, aku tidak keberatan.”
Siti membawa gelas bekas minumnya, beranjak dari duduknya berjalan menuju wastafel untuk menyimpan gelas. Lalu berjalan meninggalkan Anggun sendirian.
Siti berjalan masuk ke dalam kamarnya, jujur hatinya sakit. Ia tidak pernah berpikir akan ada di posisi sulit ini, ia sudah menjadi istri tapi rasanya tidak semudah yang ia bayangkan. Air mata Siti mengalir, ia hanya manusia biasa tidak sekuat itu menghadapi situasi sulit seperti ini.
Tok tok tok, Siti mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan cepat Siti menghapus air matanya, ia berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarnya. “Mas,” sapa Siti.
“Aku perlu berbicara denganmu,” ucap Adi.
Siti membuka lebar pintu kamarnya dan memberikan jalan untuk Adi masuk. Siti menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri Adi yang berdiri di dekat tempat tidur. Kamar yang Siti tempati tidak begitu luas, sebetulnya kamar ini di peruntukan untuk tamu yang menginap, namun Adi tidak ingin satu kamar bersama Siti.
“Kata Anggun kamu tidak keberatan jika ia tinggal di sini,” tanya Adi.
“Aku tidak keberatan jika orang tua mas mengizinkan,” jawab Siti.
“Bersiaplah, sekarang juga kita ke rumah orang tuaku,” ujar Adi.
__ADS_1
Siti menganggukkan kepalanya. Ia menatap punggung Adi yang menjauh dan menghilang di balik pintu.
Siti mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat dulu, ia ingin menenangkan hatinya. Mencurahkan keresahan yang ada di dalam dirinya.
Selesai melaksanakan shalat Siti merapikan alat ibadahnya, ia memandang wajahnya di cermin yang tampak sedikit sembab karena ia tidak bisa menahan tangisnya saat mencurahkan isi hatinya.
Siti memoles sedikit makeup pada wajahnya, merapikan jilbabnya lalu keluar dari kamar.
“Ayo,” ajak Adi begitu berpapasan dengan Siti.
Anggun tersenyum bangga dapat bergelayut dengan manja pada bahu Adi.
Siti mengangguk dan berjalan di belakang Anggun dan Adi.
Sampai di mobil dengan cepat Anggun duduk di kursi penumpang samping kemudi, sementara Adi menyetir kali ini. Siti membuka pintu kursi penumpang yang ada di belakang lalu duduk dengan tenang.
Anggun sengaja mengumbar kemesraan di depan Siti, ia menarik tangan Adi dan menggenggamnya sehingga Adi menyetir dengan satu tangan. Sementara kepalanya bersandar pada bahu Adi.
Siti memilih memejamkan matanya, tidak ingin melihat hal yang dapat membuatnya semakin sakit hati.
Perjalan yang hanya di tempuh selama lima belas menit terasa lebih lama bagi Siti, ia bisa bernafas lega setelah sampai di rumah mertuanya.
Adi, Anggun dan Siti masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu.
Orang tua Adi yang di beri kabar oleh asisten rumah tangga tentang kedatangan anak semata wayangnya segera menuju ruang tamu. Hal pertama yang Gunawan lihat adalah Adi yang duduk bersebelahan dengan wanita yang paling Gunawan Benci. Sementara Siti tampak duduk di kursi terpisah.
perasaan Indira tidak enak melihat Anggun datang lagi ke rumah mereka, terlebih wanita itu tanpa ragu berpegang dengan Adi di depan Siti.
__ADS_1
Indira menghampiri Adi dan menampar pipi anaknya dengan sekuat tenaga. “Untuk apa kau membawa wanita ular itu kemari?” Tanya Indira dengan nada marahnya.
Gunawan merangkul bahu istrinya, ia takut Indira kehilangan kontrol yang mengakibatkan jantungnya kembali bermasalah. “Bu,” panggil Gunawan. Ia menuntun tubuh istrinya untuk duduk.
Indira berusaha menormalkan nafasnya, ia sangat kesal melihat kelakuan Adi yang tidak juga menurut.
Gunawan menatap ke arah Siti yang menundukkan wajahnya. “Kamu sudah menikah Adi, tidak pantas berzina dengan perempuan lain di depan istrimu sendiri!” ucap Gunawan.
“Aku kemari ingin memberikan kabar baik. Sekarang Anggun tengah hamil anakku, Ibu dan Ayah akan segera memiliki cucu,” ujar Adi dengan rasa gembiranya. Ia tidak memedulikan rasa sakit akibat tamparan dari ibunya.
Telinga Indira menangkap ucapan Adi dengan jelas, ia tidak menyangka Adi bisa bergembira seperti ini. “Kabar baik katamu? Ibu tidak Sudi memiliki cucu dari hasil di luar pernikahan. Kamu seharusnya malu Adi bukan bangga seperti ini!”
“Apa maksud ibu berbicara seperti itu, bagaimana pun juga anak yang di kandung Anggun darah dagingku sendiri!”
“Apa yang akan kamu banggakan, anak itu hasil di luar pernikahan ... aib. Hanya membuat malu saja,” ucap Indira tak ingin kalah. Ia sudah kehabisan akal untuk memisahkan Anggun dan Adi dengan menikahkannya pada Siti. Tapi Adi malah membuat semuanya semakin rumit dengan kehamilan Anggun.
Adi tidak terima anak yang di kandung Anggun di sebut aib oleh orang tuanya sendiri. “Jangan menghina Anggun dan anakku seperti itu Bu,” bela Adi.
“Apa yang ibu katakan adalah kebenaran, anak itu hanya aib yang membuat malu keluarga. Kamu itu sudah memiliki istri, apa kamu tidak pernah memikirkan perasaannya? Usia pernikahan kalian baru tiga hari, tapi apa yang kamu lakukan dengan membawa Anggun kemari dan memberi kabar yang sama sekali tidak pernah ingin ibu dengar!”
Gunawan merangkul istrinya. “Bu sudah,” ucap Gunawan. Ia mengkhawatirkan keadaan istrinya.
“Siti tolong bawa ibu ke dalam,” Pinta Gunawan.
“Baik Pah,” jawab Siti. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibu mertuanya. Siti membantu memapah ibu mertuanya meninggalkan ruang tamu.
Setelah kepergian Siti dan istrinya Gunawan menatap ke arah Adi. “Gugurkan anak itu!”
__ADS_1
“Tidak, aku akan menikahi Anggun hari ini juga. Sehingga anak yang di kandung Anggun tidak akan pernah menjadi aib untuk Papa dan ibu,” jawab Adi dengan nada seriusnya.