Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Enam Belas


__ADS_3

Anggun terkejut saat pintu apartemennya terbuka, ia menyimpan makanan yang ia bawa dan berjalan mengendap membawa tongkat bisbol.


Anggun melihat kamarnya, masih rapi. Ia membuka lemari tempat barang berharganya di simpan. Masih utuh tidak terlihat ada yang membukanya. Anggun berjalan ke dapur dan bernafas lega saat melihat Adi yang duduk di pantry dengan segelas air di hadapannya.


Anggun ikut duduk di samping Adi. “Kenapa tidak mengabariku jika mau kemari?”


Adi terdiam, ia sedikit memikirkan kata-kata orang tuanya. “Kamu tidak pernah berselingkuh dariku?”


Anggun menggelengkan kepalanya. “Tidak, untuk apa berselingkuh? Semua yang kamu beri sudah cukup bagiku,” jawab Anggun. Anggun bergelayut manja pada bahu Adi. “Kamu saja sudah cukup bagiku, aku tidak tertarik dengan pria lain. Apalagi kamu orang pertama yang membuatku jatuh cinta,” ujar Anggun meyakinkan Adi.


***


Siti terbangun pukul empat pagi, ia tidak melihat keberadaan Adi di dalam kamarnya. Siti beribadah seraya menunggu pagi. Setelah pukul enam ia keluar dari kamar dengan kaki yang sedikit tertatih ia berjalan menuju dapur. Di sana ada asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan pagi. “Biar Siti bantu ya Bi,” ucap Siti.


“Tidak perlu Non, tuan titip pesan pada saya tidak memperbolehkan Nona membantu pekerjaan rumah. Apalagi nona sedang sakit.”


Siti terdiam sejenak. “Tapi Siti ingin membantu, bosan kalau diam saja,” ujar Siti.


Asisten rumah tangga mengambil kotak yang semalam ia terima dari Inem. “Oh iya nona duduk saja sambil baca buku, saya siapkan teh hangat dan kue untuk teman membaca.”


Siti menatap kotak yang di serahkan padanya. Tangan Siti bergerak membuka kotak tersebut, ternyata berisi buku-buku miliknya. Bibir Siti tersenyum ia mengambil salah satu buku yang belum sempat ia baca, dan mulai fokus membacanya.


Satu hal yang kembali Siti temukan mengenai salah satu kalimat, Aib suami adalah aib bagi istri dan keluarga, sehingga istri harus menjaganya dengan baik dengan tidak mengumbarnya.

__ADS_1


Siti sudah berusaha menerapkan ini, meskipun ia sedikit kesulitan menutupi aib suaminya. Apalagi sekarang mereka tinggal bersama orang tua Adi.


Sebuah hadis riwayat Hakim menjelaskan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:


“Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah (dapat dipercaya) serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu.” (HR. Hakim)


Siti terdiam membaca hadits tersebut.


“Siti apa benar semalam Adi tidak pulang?” tanya Indira.


Siti menengok ke arah ibu mertuanya. “Siti tidak tahu Bu, saat Siti bangun mas Adi tidak ada,” jawab Siti.


“Bagaimana keadaan kaki kamu?” Indira memandang jempol kaki Siti yang terbalut perban.


Gunawan menghampiri Siti dan Indira dengan nafas tersengal-sengal. “Siti,” panggil Gunawan.


“Iya pa?” sahut Siti.


“Ayah kamu pergi menghadap Allah,” ujar Gunawan dengan perasaan tidak enak menyampaikan berita buruk di pagi hari.


Buku yang di pegang Siti terjatuh begitu mendengar kabar Ayahnya, di ikuti air mata Siti mengalir.


“Bersiaplah kita pergi sekarang juga,” ujar Gunawan.

__ADS_1


Indira memeluk tubuh Siti yang membeku. “Yang sabar ya sayang,” ujar Indira seraya mengusap punggung Siti.


Siti merasa dunia di sekitarnya terhenti seketika, bayangan wajah Ayahnya tersenyum membuat perasaan Siti tidak baik-baik saja. Ia tidak bisa menahan suara Isak tangis dari mulutnya.


Gunawan segera menghubungi Adi. “Halo Adi,” ucap Gunawan begitu teleponnya tersambung.


[Ada apa Pa?] [Siapa sayang?]


Gunawan sedikit geram mendengar suara Adi yang baru bangun di ikuti suara perempuan, yang dapat Gunawan dengar dengan jelas seperti suara Anggun.


“Cepat pulang, Ayah mertuamu kembali pada sang pencipta,” ujar Gunawan. Ia menahan rasa kesalnya, sejujurnya ia sangat ingin memarahi Adi yang seenaknya saja bertemu dan bahkan tidur bersama perempuan lain di bandingkan tidur bersama istrinya sendiri.


Adi menutup telepon dari Gunawan, lalu bangkit dari duduknya.


“Siapa yang telepon kamu pagi buta seperti ini sayang?” tanya Anggun.


“Ayah mertuaku meninggal, aku harus mengantarkan istriku ke kampung halamannya,” jawab Adi. Ia memungut baju yang berserakan dan memakainya.


Anggun memasang wajah sedihnya, “Kamu tega meninggalkan aku sendirian?”


“Tapi aku tidak bisa membiarkan Siti pergi sendirian, ini yang meninggal mertuaku Anggun. Kalau hanya saudara aku tidak akan datang, tapi ini mertuaku. Jika aku tidak datang yang ada Papa akan marah dan mengambil semua sahamnya,” jawab Adi. Di akhir kalimatnya ia mengingatkan bahwa Anggun harus sadar akan hal yang mengancam usahanya.


Anggun memeluk tubuh Adi. “Kalau begitu aku ikut ya,” ujar Anggun.

__ADS_1


__ADS_2