
Setelah makanan siap Siti menatanya di atas meja makan. “Siti panggil ibu sebentar ya Mas,” ucap Siti. Ia berjalan menuju kamar ibunya, tangan Siti mengetuk pada pintu kamar. “Bu,” panggil Siti.
Pintu terbuka lebar menampilkan wajah ibunya yang tampak sedikit pucat. “Ibu mau Siti ambilkan makannya ke kamar?” tawar Siti. Ia sedikit khawatir melihat ibunya yang pucat.
“Tidak usah, ayo,” ucap Devi ia keluar dan berjalan menuju meja makan di ikuti Siti.
Siti memperhatikan ibunya yang duduk di kursi, ia melihat kesedihan di wajah sang ibu.
Siti segera duduk di samping ibunya. “Biar Siti ambilkan ya Bu,” usul Siti. Tangannya meraih piring dan menyendok nasi.
“Suamimu dulu Siti, baru ibu,” ujar Devi.
Siti tersenyum malu ke arah ibunya, “Ini mas.” Siti memberikan piring yang sudah terisi lauk ke hadapan Adi.
Adi menerimanya lalu mengambil sendok dan garpu. Siti menyiapkan untuk ibunya lalu untuk dirinya sendiri. Mereka makan bersama dalam keadaan hening.
Selesai makan Siti membereskannya kembali. Sementara Devi berjalan ke depan untuk membersihkan halaman depan. Ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu dedaunan kering yang berjatuhan.
Perhatian Devi tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Seorang wanita dengan dress ketat yang membentuk lekukan tubuhnya berjalan menghampiri Devi.
“Apa ini rumah Siti?”
“Iya betul, maaf nona siapa?” tanya Devi. Ia tidak pernah tahu jika Siti memiliki teman yang berpenampilan minim seperti ini.
“Perkenalkan saya Anggun, kekasihnya Adi. Apa Anda ibunya Siti?” tanya Anggun memandang remeh pada Devi yang terlihat kampungan memakai rok panjang serta baju yang sudah lusuh.
Devi menampar pipi Anggun menggunakan tangannya sendiri. “Jadi kamu perempuan yang lancang merusak kebahagiaan rumah tangga anakku, dasar wanita tidak punya hati,” teriak Devi berapi-api.
Anggun memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Devi. “Bukan saya yang tidak punya hati. Tapi anak Anda yang tidak memiliki hati merebut Adi dariku, seharusnya dia sadar diri dan pergi dari kehidupan kami. Tapi anak Anda yang tidak tahu diri itu memilih bertahan padahal aku sedang mengandung anak Adi. Seharusnya dia yang pergi, Siti anak Anda yang tidak tahu diri itu merebut milikku!” ucap Anggun terpancing emosi karena berani-beraninya Devi menampar pipi mulusnya.
__ADS_1
“Apa kamu hamil?” Tanya Devi dengan nada terkejutnya. Ia menutup mulutnya saking terkejutnya dan tidak percaya jika suami anaknya telah menghamili wanita lain.
Siti yang mendengar suara keributan meninggalkan cucian piringnya dan berjalan ke depan. Ia terkejut melihat kehadiran Anggun.
Adi yang duduk di meja makan ikut menyusul sang istri ke depan rumah. Ia menghembuskan nafasnya saat melihat kehadiran Anggun yang sepertinya membuat Devi marah.
Siti menghampiri ibunya. “Kenapa kamu sembunyikan ini dari ibu Siti?” tanya Devi dengan air mata yang tidak bisa ia tahan. Anak semata wayangnya di sakiti.
Siti memeluk tubuh ibunya. “Ini bukan apa-apa Bu, Siti bisa mengatasinya. Lagi pula ini bukan masalah besar,” ujar Siti berusaha menenangkannya ibunya.
Devi melepaskan pelukan Siti dan menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya. “Bukan masalah besar katamu? Dia hamil anak suamimu Siti! Apa kamu tidak sadar akan hal itu?”
“Bu, bicara pelan-pelan tidak enak di dengar tetangga,” ujar Siti. Ia tersenyum canggung ke arah tetangganya yang menatap ke arah dirinya.
Dengan seenaknya Anggun berjalan melewati Siti dan Devi, ia menghampiri Adi dan memeluknya. “Sayang.”
Devi menengok ke arah Adi dan Anggun. “Seperti itu yang kamu katakan bukan apa-apa?” ujar Devi menahan rasa sesaknya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Siti menghadapi situasi seperti ini sendirian.
Jika Siti tak bisa berbuat apa-apa maka Devi tidak akan membiarkan ini terjadi. Ia berjalan menghampiri Adi dan Anggun. “Lebih baik kalian pergi dari sini!” usir Devi dengan nada tingginya. Ia tak bisa melihat Anggun yang memeluk Adi dengan mesra di hadapannya.
“Aku memang mau pergi, ayo sayang,” ujar Anggun. Ia menarik tubuh Adi.
Adi lebih memilih berjalan bersama Anggun, ia juga tidak begitu betah dan bosan tinggal di kampung ini.
Siti mengejar Anggun dan Adi. “Mas,” panggil Siti menarik tangan Adi.
Adi menarik tangannya yang di pegang Siti. “Urus saja ibumu, biar orang tuaku aku yang mengurusnya,” ujar Adi. Ia masuk ke dalam mobil Anggun.
Siti terdiam di tempatnya memandangi kepergian mobil Anggun yang membawa suaminya.
__ADS_1
“Siti,” panggil Devi.
Siti berbalik dan menatap ibunya, ia menghampiri ibunya dan membawanya masuk.
Siti membawa Devi untuk duduk di ruang tamu yang kosong hanya tegelar karpet, mereka duduk lesehan saling berhadapan.
“Minta cerailah Siti,” ucap Devi. Ia tidak rela Siti merasakan sakit melihat suaminya selingkuh secara terang-terangan tanpa rasa malu.
Siti menghembuskan nafasnya, ia menatap ibunya dengan wajah memohon. “Jangan meminta Siti untuk bercerai Bu. Pernikahan Siti baru di gelar beberapa hari yang lalu, bahkan belum ada satu bulan, Siti tidak mau menyerah. Ini ujian dari Allah untuk Siti,” ucap Siti lembut berharap ibunya mengerti.
“Siti! Pria di dunia ini tidak hanya Adi. Kamu berhak bahagia, ibu tidak akan pernah rela kamu di sakiti seperti ini,” ucap Devi dengan nada frustrasinya.
“Siti tahu Bu, tapi ini takdir. Jalan yang harus Siti lewati, ibu seharusnya dukung Siti. Anak ibu ini kuat, Siti bisa mewujudkan impian Siti memiliki pernikahan seperti yang Siti impikan,” Siti memandang ibunya dengan penuh harap.
“Tidak, ibu tidak akan membiarkanmu berada di jalan yang salah ini. Ibu dan ayah hanya ingin kamu bahagia, kalau kamu tidak bahagia untuk apa,” Devi bangkit dari duduknya, ia berjalan ke kamar untuk mengambil ponsel.
Siti mengikuti langkah ibunya yang masuk ke kamar, Siti menahan tangan ibunya yang memainkan ponsel mencari kontak seseorang. “Bu dengar dulu, jangan gegabah seperti ini,” mohon Siti.
“Apalagi yang ibu harus dengar, semuanya nyata dan jelas ibu lihat dengan mata ibu sendiri.”
Siti menuntun Devi untuk duduk di pinggiran tempat tidur. “Siti tahu perasaan ibu seperti apa. Siti juga tahu ibu sangat menyayangi Siti. Siti juga tidak pernah menyangka semuanya akan seperti ini.”
“Ibu menyesal menikahkan kamu dengan Adi, andai saja dulu ibu mengikuti kata hati ibu untuk menolaknya,” ujar Devi dengan air mata penyesalan.
“Bu jangan berbicara seperti itu, semua ini tidak akan pernah terjadi tanpa seizin Allah. Ibu harus ikhlas, ridho menerima semuanya, Allah tahu jalan yang terbaik untuk setiap hambanya,” ucap Siti berusaha menampilkan senyuman di wajahnya bahwa ia baik-baik saja, dan ikhlas menerima ujian ini.
“Apa Gunawan dan Indira tahu hal ini?” Tanya Devi.
Siti mengangguk.
__ADS_1
“Kamu tidak malu memiliki suami tukang selingkuh seperti dia, ibu tidak peduli Gunawan pernah menjadi majikan ibu, bukan berarti mereka bisa semena-mena sama kita,” amarah Devi tidak bisa ia tahan lagi.
“Pa Gunawan dan ibu Indira juga sedang berusaha untuk memisahkan mereka, tetapi beberapa hari yang lalu Anggun mengaku jika dirinya hamil.”