Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Halo selamat malam semuanya 🙂


Karena Bab 34 ada kesalahan, dan sudah aku perbaiki. Aku mohon kalian baca ulang ya 🙏🏻


Mohon maaf atas ketidak nyamanan kalian, karena keteledoranku yang tidak baca ulang isi babnya.


Selamat Membaca đź’•


***


Sudah satu minggu sejak kepergian Anggun namun Siti tak kunjung bisa mendekati Adi. Siti selalu mendapati Adi pergi sebelum Siti keluar dari kamar, bahkan hari ini Siti mendapat kabar bahwa semalam Adi tidak pulang.


Siti duduk di kursi tamu, ia sudah satu jam menunggu kedatangan suaminya. Siti melihat jam yang susah menunjukkan pukul satu dini hari.


Siti menguap saat rasa kantuk terus menyerangnya. Ia mengucek matanya yang terasa perih karena menahan rasa kantuknya.


Siti bangkit dari duduknya saat melihat pintu depan terbuka menampilkan tubuh Adi yang di papah oleh Galih.


“Tuan Adi mabuk,” ucap Galih pada Siti.

__ADS_1


Siti mengangguk mengerti lalu mengikuti langkah Galih dan Adi yang masuk ke dalam kamar Adi.


Galih membantu menyandarkan tubuh Adi di atas tempat tidur.


Melihat baju Adi yang sedikit berkeringat membuat Siti berjalan ke kamar mandi menyiapkan air hangat serta mengambil baju tidur milik Adi.


Ia kembali dan duduk di samping tubuh suaminya. Siti memeras handuk hangat dan mengulurkan tangannya untuk menyeka keringat pada kening Adi.


Mata Adi terbuka saat merasakan benda basah dan hangat menempel pada keningnya. “Siti,” panggil Adi dengan suara seraknya.


“Iya Mas,” jawab Siti tanpa menghentikan aktivitasnya. Tangannya bergerak menyeka wajah Adi.


“Sebaiknya kita bercerai saja,” ucap Adi di bawah pengaruh minuman.


“Bukankah kamu tak bahagia dengan pernikahan ini, aku pun sama tak bahagia hidup denganmu,” jawab Adi jujur.


Siti menyimpan handuk ke dalam air hangat, tangannya terhenti pada kancing kemeja Adi. “Siti ijin buka ya Mas,” ucap Siti berusaha baik-baik saja meskipun hatinya sakit mendengar ucapan jujur Adi.


“Bukannya boleh bercerai jika dalam pernikahan tak ada kebahagiaan, pernikahan kita jika di lanjutkan pun akan menimbulkan rasa sakit yang lebih dalam. Jadi kita akhiri saja,” ungkap Adi. Kepalanya berdenyut, ia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Siti tidak ingin membicarakan tentang perceraian. Tangannya membuka kancing paling atas kemeja Adi. Tidak mendapat penolakan Siti kembali melanjutkan tugasnya membuka seluruh kancing kemeja Adi.


Tangan Siti sedikit bergetar, untuk pertama kalinya ia memberanikan diri melihat tubuh Adi tanpa pakaian.


Siti membantu Adi melepaskan kemejanya, tangan siti memeras handuk hangat. Ia mengarahkan Tangannya pada dada bidang Adi.


Siti mengatur nafasnya saat ia merasakan gugup dalam dirinya. Ia memberanikan diri mengarahkan handuk di Tangannya pada dada bidang Adi.


Tangan Siti bergerak mengusap dada bidang suaminya dengan gerakan perlahan.


Adi membiarkan tubuhnya merasakan kenyamanan dari handuk hangat yang bergerak di tubuhnya. Isi kepala Adi sangat kacau, selama satu minggu ini ia berpikir keras. Dia tidak bisa menghilangkan Anggun dalam Kepalanya, begitu juga dengan ucapan Gunawan cukup mengganggu kepala Adi. Ia sadar memang tak bisa membahagiakan Siti, bahkan jika dari sudut pandangannya apa yang ia jalani dengan Siti bukanlah pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Setelah dada bidang Adi serta punggungnya selesai di bersihkan, Siti mengambil handuk kering. Lalu mengeringkan tubuh Adi.


Tubuh Adi bergerak mempermudah Siti saat memasangkan pakaian tidur. Adi kembali membuka matanya dan menatap Siti dengan serius.


“Apa kamu ingin bercerai denganku?” tanya Adi.


Siti menggelengkan kepalanya. “Tidak Mas,” ucap Siti memperjelas gerakan kepalanya.

__ADS_1


Adi merebahkan tubuhnya. Dengan sigap Siti menarik selimut untuk menutupi tubuh Adi.


“Tidurlah bersamaku, jika kamu memang tidak ingin bercerai denganku.”


__ADS_2