
Selesai mandi Adi keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Tubuhnya menggigil karena mandi dengan air dingin, ia tidak biasa mandi pagi hari dengan air dingin. Adi menggosokkan kedua tangannya lalu duduk di meja makan.
Siti masuk ke dapur dengan mantel yang sengaja ia bawa. “Pakai ini Mas,” ujar Siti.
Adi menerima dan segera memakainya. “Tolong buatkan Teh,” pinta Adi.
Siti mengangguk dan segera menyiapkan teh hangat untuk Adi.
Adi menatap teh yang di siapkan Siti, ia segera meminumnya dengan perlahan. Rasa hangat mulai menjalar pada tubuhnya yang kedinginan.
Siti membawa catatan yang berisi daftar belanja, lalu memasukkannya ke dalam tas. “Ayo mas,” ajak Siti.
Adi telah menghabiskan setengah gelas tehnya, ia beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Siti ke luar.
Siti sengaja tidak berpamitan pada ibunya karena takut mengganggu, lagi pula ibunya pasti butuh waktu istirahat lebih.
Siti dan Adi pergi ke pasar. Adi memarkirkan mobilnya, ia hendak turun dari mobil. Namun saat membuka pintu mobil jalanan yang becek menyambutnya, serta aroma sampah, bau amis menyengat di hidung Adi. “Aku tunggu di mobil saja,” ujar Adi. Ia kembali menutup pintu.
Melihat wajah Adi yang terlihat jijik Siti mengerti. “Kalau begitu tunggu sebentar ya Mas, Siti belanja dulu,” pamit Siti.
Siti berbelanja mengelilingi pasar mencari kebutuhannya. Tangan kanan dan kiri Siti sudah penuh dengan barang belanjaannya, keringat membasahi kening Siti. Ia kembali menuju tempat mobil Adi terparkir. “Mas,” panggil Siti. Ia kesulitan membuka pintu mobil sementara di bawah tampak air yang menggenang, belanjaannya tidak bisa Siti simpan begitu saja.
Adi menoleh ke arah samping. “Masuk,” titah Adi.
“Tolong buka pintunya Mas,” ucap Siti sedikit berteriak agar Adi mendengarnya.
Adi mencondongkan tubuhnya untuk membuka pintu di sampingnya. Siti memasukkan belanjaannya baru duduk.
Adi memperhatikan tubuh Siti yang tampak berkeringat, sebagain sisi laki-laki Adi cukup tergugah hanya melihat Siti berkeringat saja. ‘Sadar Adi,' batin Adi. Ia menyalakan mobilnya dan mulai melaju meninggalkan pasar.
Sesampainya di rumah mereka turun dari mobil seorang pria tersenyum ke arah Siti.
“Sudah lama tidak jumpa Sit,” ujar pria tersebut.
Siti tersenyum ramah ke arahnya. “Iya, Masnya sih sibuk merantau terus. Baru pulang Mas?”
Adi memperhatikan pria itu yang tampak tersenyum penuh arti ke arah Siti, sudah dapat Adi tebak pria itu memiliki perasaan pada Siti.
__ADS_1
“Iya. Katanya kamu sudah menikah, ini suamimu?”
Siti menatap ke arah Adi. “Iya Mas, kenalkan ini Mas Adi suami Siti.”
Adi menyambut uluran tangan pria tersebut. “Dika,” ujar pria tersebut.
“Adi,” jawab Adi.
Adi menarik tangannya kembali dengan cepat. Jika di lihat dari penampilannya sepertinya Dika hanya pria pekerja keras yang merantau demi uang. Penampilannya terlalu biasa, hanya memakai kaos dan celana jeans dari merek lokal.
“Kalau begitu Mas duluan ya Sit,” pamit Dika.
“Iya Mas, nanti malam datang di acara tahlil ya Mas,” ujar Siti.
Dika mengangguk tersenyum ke arah Siti dan Adi lalu berjalan meninggalkan mereka.
“Siapa?” tanya Adi.
Siti menatap heran ke arah Adi. “Dika Mas,” jawab Siti.
“Anaknya pak Kepala Desa, dulu kakak kelasku saat Sekolah Menengah pertama,” jawab Siti sedikit bercerita. Ia berjalan masuk ke rumah dengan tentengan di tangannya.
“Kayaknya dia suka tuh sama kamu,” ujar Adi sengaja memancing.
“Iya, dulu sempat mau ke rumah untuk melamar. Tapi tidak Siti beri ijin,” jawab Siti. Sampai di dapur ia menyimpan barang belanjaannya di lantai.
“Loh kenapa, kesempatan bagus tuh. Bisa jadi menantu pak kades,” sindir Adi.
Siti mencuci tangannya dan menatap suaminya. “Mas kenapa?”
“Apa?”
“Aku tidak mau di lamar Dika, karena saat itu baru saja lulus sekolah. Aku juga masih ingin melanjutkan pendidikan, makanya aku tidak ijinkan,” jawab Siti menjelaskan salah paham. Meskipun Adi bersikap ketus, tapi Siti merasa ada rasa cemburu yang ia lihat dalam diri Adi.
Adi memalingkan wajahnya, ia duduk di kursi mengeluarkan ponselnya.
Sementara Siti berjalan menuju pintu belakang membukanya lebar-lebar agar cahaya pagi masuk ke dalam. Siti memisahkan barang-barang yang ia beli. Ia memisahkan berbagai macam protein yang ia beli untuk di cuci. Siti pergi mencucinya di kamar mandi belakang, agar kamar mandi di dalam rumah tidak bau amis.
__ADS_1
Selesai mencucinya Siti menatanya di dalam freezer. Siti tidak melihat tanda-tanda ibunya. Bahkan teh hangat yang Siti buatkan masih terisi penuh dan tutupnya masih pada tempatnya. Siti berjalan menuju kamar ibunya yang ada di samping dapur. Tangan Siti mengetuk pintu kamar dengan perlahan. “Bu,” panggil Siti.
“Masuk Sit,” jawab Sang ibu dari dalam.
Siti masuk ke dalam dan tersenyum ke arah ibunya yang masih memakai mukena dan duduk di atas sajadah. “Kok ibu tidak minum tehnya?” tanya Siti ia menghampiri ibunya dan ikut duduk di samping sang ibu.
“Iya ibu tadi lupa, habis shalat subuh ketiduran. Terus liat di rumah sepi ibu ambil wudhu lanjut shalat duha,” jawab Devi.
“Mau Siti ambilkan tehnya?” tawar Siti.
“Tidak usah Siti, nanti ibu ambil sendiri ... bagaimana pernikahanmu Sit?” tanya sang ibu dengan nada khawatirnya.
Bibir Siti tersenyum lebar, seolah tak ada beban sedikit pun dalam hidupnya. “Baik Bu, apalagi Pak Gunawan dan Bu Indira sangat baik pada Siti. Siti betah tinggal kota.”
Devi sedikit merasa lega mendengarnya, meskipun bukan hal itu yang sebenarnya ingin Devi dengar. Namun Devi tidak ingin ikut campur terlalu jauh, jika memang Siti merasa bahagia dengan pernikahannya. “Alhamdulillah ibu ikut senang mendengarnya.”
“Ibu mau Siti masakkan apa?” tanya Siti.
“Apa saja,” jawab Devi. Ia tidak begitu berselera untuk makan.
“Mau udang asam manis Bu?” tawar Siti.
“Suamimu suka?”
Siti mengangguk. “Iya, kalau ibu mau yang lain biar Siti buatkan,” ujar Siti.
“Itu saja, tambah tumis kangkung pedas ya Sit,” pinta Devi.
“Baik Bu. Kalau begitu Siti ke dapur lagi ya, ibu istirahat saja,” ujar Siti seraya mengelus bahu ibunya.
“Iya, kamu jangan terlalu lelah ya,” pinta Devi dengan nada khawatirnya.
“Baik Bu.” Siti melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kamar ibu dan menutup kembali pintunya dengan rapat.
Saat sampai di dapur Siti memperhatikan Adi yang masih sibuk dengan ponselnya. Pikir Siti mungkin suaminya tengah sibuk mengurus pekerjaan. Siti melanjutkan acara membereskan kembali belanjaannya, dan mulai menatanya ke lemari pendingin. Ia mengambil bahan untuk di masak. Siti berkutat dengan pekerja dapurnya.
Sudah setengah jam Adi duduk dan merasakan pegal di pantatnya yang duduk pada kursi kayu tanpa alas. Ia memperhatikan Siti yang bergerak ke sana kemari tengah memasak sesuatu, aromanya menggelitik perutnya yang kosong. Adi hanya sarapan pagi dengan satu lembar roti kukus, dan Adi merasakan lapar lagi saat menc’ium aroma wangi dari masakan Siti.
__ADS_1