
Dari pada cerewet seperti ini, mending kamu diam saja atau menangis saja. Telingaku sakit mendengar suaramu,” ucap Adi tajam. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Siti.
Siti berlari dan menyusul Adi, ia menyejajarkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya mengikuti ritme jalan Adi. “Ya sudah kalau begitu Siti akan diam saja,” ujar Siti.
Adi tidak menggubris ucapan Siti. Ia masuk ke dalam mobil, mengecek apa ada makanan namun sepertinya tidak ada. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari makanan yang bisa ia pesan secara online.
Siti ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya, memperhatikan kegiatan Adi.
Adi menemukan resto yang makanannya terlihat enak. Ia memesannya, kini tinggal menunggu driver mengambil pesanannya dari resto.
“Mas yakin mau pesan makanan?” Tanya Siti memastikan.
Adi mengangguk yakin. “Kayaknya enggak akan ada yang ambil, soalnya jarak dari restoran itu cukup jauh,” ujar Siti.
“Tadi kamu berjanji tidak akan banyak bicara,” protes Adi dengan ketus.
“Siti hanya memberi tahu,” jawab Siti lagi.
Siti keluar dari mobil, ia berjalan menuju warung yang menjual berbagai macam sayur dan daging. “Daging ada Bu?” tanya Siti.
__ADS_1
“Habis,” jawab penjual warung.
“Ayam atau udang?” tanya Siti kembali.
“Ya enggak ada atuh Sit, habis. Lagian kamu kenapa mau masak? Bukannya sudah ada yang masak,” tanya ibu penjual penasaran.
“Buat suami Siti Bu, soalnya Mas Adi enggak bisa makan masakan orang lain. Harus masakan Siti,” jawab Siti dengan wajah malu-malu.
“Eem pengantin baru ya, meni manja begitu,” ledek penjual sayur.
“Iya harus dong Bu. Kalau begitu mie saja Bu sama telur,” ucap Siti.
Setelah menerima kembalian Siti masuk ke dalam rumah dan pergi ke dapur menyimpan belanjaan miliknya.
Siti kembali ke luar rumah menghampiri Adi yang masih berada di dalam mobil. “Bagaimana Mas, sudah ada yang ambil orderannya?” Tanya Siti.
Adi menatap ponselnya, belum ada tanda-tanda yang mau mengantarkan pesanannya. Adi menggelengkan kepalanya, perutnya sudah mulai berbunyi.
Mendengar jawaban suaminya Siti keluar dari mobil ia masuk ke dapur dan membuatkan mie instan untuk suaminya.
__ADS_1
Selesai memasak dua mangkuk mie, Siti kembali ke mobil Adi. “Mas tolong buka,” ujar Siti tangannya kerepotan memegangi nampan.
Adi membuka pintu mobilnya, ia menatap nampan yang di bawa Siti.
Siti masuk dan menaruh nampan di atas pangkuannya, ia memberikan satu mangkuk ke pada suaminya. “Ini mas,” ujar Siti.
Adi menatap mangkuk yang di sodorkan Siti, aromanya langsung memenuhi mobilnya. “Aku tidak makan mie instan,” tolak Adi.
Siti menarik kembali tangannya. “Oh ya sudah,” jawab Siti. Ia menikmati mie yang di buatnya.
Suara seruput dan wangi khas dari mie tersebut menggelitik perut lapar Adi. Ia sesekali melirik menatap semangkuk mie yang masih ada di pangkuan Siti.
Siti mengambil mangkuk lainnya, “Mas mau ini ambil saja,” ujar Siti menyerahkan mangkuk mie yang masih utuh.
“Aku terima karena kamu yang maksa ya,” ketus Adi mengambil alih mangkuk tersebut.
Siti mengangguk dengan wajah yang gembira melihat Adi mau memakan masakannya.
__ADS_1
Di suapan pertama Adi merasakan mie instan yang berbeda dari biasanya. Kuahnya terasa lebih gurih, kematangan mienya sangat pas telurnya setengah matang sesuai kesukaan Adi. Jika boleh di beri nilai mie buatan Siti ia beri nilai sepuluh, sempurna.