Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Adi terdiam beberapa saat memandangi tubuh Anggun yang sudah di nyatakan meninggal, dan kembali memandangi wajah damai anaknya.


Mendapat kabar dari anaknya orang tua Adi segera ke rumah sakit untuk membantu.


Mereka juga cukup terkejut saat melihat anaknya Anggun begitu mirip dengan Adi. Mereka saling menatap.


“Adi harus bagaimana? Adi tidak bisa menelantarkan dia, tapi takut Siti merasa sakit hati,” tanya Adi meminta pendapat.


“Tidak apa-apa, kamu coba bicarakan hal ini kepada Siti terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.”


Adi memutuskan untuk pulang, sampai di rumah Adi menghampiri Siti yang ada di kamar tengah duduk.


“Mas baru pulang?” tanya Siti dengan senyuman.


Adi mengangguk. “Anggun meninggal,” ujar Adi.


Kabar yang di sampaikan Adi membuat Siti terkejut, ia melihat kesedihan di wajah Adi. “Inna innalillahi wainnailaihi rojiun.”


“Lalu kehamilannya bagaimana?” tanya Siti saat teringat tentang kehamilan Anggun.


“Bayinya telah lahir,” ucap Adi. Ia memperhatikan setiap reaksi yang di tunjukkan Siti.


“Aku ingin melihatnya Mas,” ucap Siti.


“Ayo.”


Adi membantu memapah Siti untuk berjalan, mereka menuju rumah sakit sama-sama. Sesampainya di ruang khusus bayi Adi dan Siti masuk.

__ADS_1


Dalam jarak dekat Siti melihat bayi yang sangat menggemaskan, ia meneliti wajahnya dengan saksama. Sangat mirip Adi. “Dia tampan seperti kamu Mas.”


Adi merasa lega saat melihat senyuman yang terbit di wajah Siti. “Aku harus mengurus untuk pemakaman Anggun, kamu tunggu di sini sebentar.”


Siti mengangguk, ia tak bisa terlalu banyak berjalan dan memilih tinggal memandangi wajah menggemaskan bayi Anggun. Ada rasa lega sekaligus sesak bersamaan, sampai kini ia belum juga di beri kepercayaan untuk mengandung. Namun dari wanita lain suaminya telah mendapatkan bayi yang sangat menggemaskan dan tampan.


Siti memperhatikan setiap gerakannya, ia memandanginya dengan perasaan takjub.


Adi berjalan mencari kedua orang tuanya yang sedang mengurus pemulangan Anggun. “Bagaimana Pa?”


“Sudah di urus jenazah Anggun akan di bawa pulang untuk segera di makamkan.”


“Siti mana Adi?” tanya Sang Ibu.


“Sedang melihat bayi,” jawab Adi cepat.


“Kenapa tidak di ajak kemari?”


“Papa juga sudah menyelesaikan administrasi anak kamu, dia sudah boleh di bawa pulang.”


Adi mengangguk ke arah sang Papa. Lalu tatapannya beralih pada sang Ibu. “Bantu Adi ya Bu,” mohon Adi.


***


Pemakaman Anggun di adakan esok paginya, Siti tampak membawa bayi di dalam pangkuannya selama proses pemakaman berlangsung.


Untuk terakhir kalinya, Adi membantu proses mengembalikan tubuh Anggun ke bumi. Rasa sedih itu ada namun tak begitu besar, Adi sudah tak memiliki perasaan apa pun pada Anggun. Seluruh cintanya kini hanya milik Siti. Manik Adi beberapa kali melirik ke arah Siti yang tampak menggendong, bayinya pun tampak tenang di dalam gendongan Siti.

__ADS_1


Acara pemakaman selesai. Adi merangkul bahu Siti untuk meninggalkan area pemakaman. Baru satu langkah menjauh bayi yang ada di gendongan Siti menangis cukup kencang.


“Mas mungkin dia masih ingin di sini,” ucap Siti. Ia kembali menenangkan bayi Adi dan mendekat ke arah makam Anggun.


Semua orang sudah mulai berangsur pergi, termasuk orang tuanya yang kelelahan tidak tidur untuk mengurus segala keperluan pemakaman.


Adi akhirnya memilih berdiri di samping Siti, memandangi makam Anggun yang bertabur bunga berwarna-warni.


“Aku memaafkan semua kesalahanmu, pergilah dengan tenang. Biar aku yang merawat bayimu, semoga semua dosamu di ampuni dan di berikan tempat terbaik di sisi Allah,” doa Siti di dalam hatinya sembari memandang ke arah makam Anggun.


“Siti,” panggil Adi.


“Iya mas,” jawab Siti. Ia menengok ke arah suaminya.


“Aku ingin merawatnya, apa kamu tidak keberatan dengan kehadirannya?”


Siti tersenyum dan mencubit pelan pinggang Adi. “Mas ini ngomong apa sih, memangnya aku wanita jahat ya. Bagaimana pun juga dia anak mas, mirip sekali.”


“Tapi bayi itu anaknya aku dengan Anggun hasil dari perselingkuhan kami, memangnya kamu tidak sakit hati?”


Siti melirik ke arah makam Anggun sebentar lalu kembali menatap wajah suaminya. “Mas bayi ini tidak berdosa sedikit pun atas perbuatan yang kalian buat, lagi pula Anggun sudah menghadap Allah. Rasanya terlalu egois jika mengingat masa lalu, bagaimana pun juga aku punya masa depan. Dan aku ingin menata masa depan kita bersama.”


Adi merangkul bahu Siti, ia memberikan kecupan singkat di pipi Siti. Entah apa yang akan terjadi jika bukan Siti wanita yang di jodohkan Papanya. Siti memang wanita kuat dan hebat di mata Adi.


Ia sangat bersyukur atas jodoh yang telah Allah pilihkan untuknya, kini semuanya terasa sempurna. Tak ada lagi orang ketiga yang akan mengganggu rumah tangganya.


Adi berjanji pada dirinya sendiri, akan menjaga, merawat dan mencintai wanita shalihah yang telah menjadi istrinya, Siti.

__ADS_1


_-TAMAT-_


Percayalah buah dari kesabaran akan menghasilkan sesuatu yang tidak akan pernah kita duga, entah akan di balas di dunia atau di akhirat kita tidak akan pernah tahu. Jadilah istri shalihah, semoga buah kesabaran kita akan menjadi penolong kita di akhirat. Terima kasih untuk semuanya yang sudah menunggu karyaku dengan sabar, dan terima kasih juga atas dukungan kalian. Sampai jumpa di karyaku yang lainnya 💕


__ADS_2