
Siti telah menyelesaikan makan malamnya, ia merapikan meja makan. Sementara Galih yang baru selesai makan bangkit dari duduknya.
Siti teringat bahan makanan di lemari pendingin hampir habis. “Galih,” panggil Siti.
Galih menatap ke arah Siti. “Ada apa?”
“Kalau untuk belanja bahan makanan bolehkah aku yang membelinya?” tanya Siti dengan menundukkan pandangannya.
“Itu bukan masalah besar, Bi Inem yang biasa mengaturnya. Nona boleh pergi bersama Bi Inem.”
Siti mengangguk mengerti.
Galih meninggalkan ruang makan sementara Siti merapikan seluruh piring kotor yang ada di meja makan dan menyimpannya ke wastafel lalu mencucinya.
Dapur sudah kembali bersih, Siti berjalan hendak kembali ke kamarnya namun kakinya terhenti saat melihat kamar suaminya terbuka, menampilkan wajah Adi yang tampak menahan sakit. Siti berlari menghampiri Adi. “Mas kenapa?” tanya Siti sangat khawatir.
“Perutku sakit karena terlalu banyak makan, cepat panggilkan Galih.” Adi meringis ia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi.
“Biar aku bantu menghilangkan rasa sakitnya Mas,” tawar Siti.
__ADS_1
“Tidak!” tolak Adi cepat, ia tidak mau menerima bantuan dari Siti.
“Kalau begitu Mas panggil sendiri saja,” ujar Siti. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Adi.
Adi tidak bisa berjalan untuk memanggil Galih. “Ya sudah cepat bantu aku menghilangkan rasa sakit ini,” putus Adi.
Bibir Siti tersenyum sumringah, ia membalikkan badannya dengan wajah datarnya. “Ayo,” ucap Siti. Ia membantu memapah Adi untuk kembali ke kamar.
“Mas tunggu ya, biar Siti ambilkan air hangat.” Siti membantu Adi untuk duduk di atas tempat tidur, dan membantu suaminya bersandar ke dipan.
Siti pergi ke dapur untuk mengambil air hangat, dan kembali ke kamar Adi.
“Ambilkan obat Antasida,” perintah Adi. Siti tampak kebingungan dengan obat yang di minta Adi. “Di laci,” ujar Adi. Tangannya menunjuk ke laci yang ia maksud.
Dengan cekatan Siti mengambil obat yang di maksud suaminya.
Adi menerima obat tersebut dan segera meminumnya. Ia memejamkan matanya, mengatur nafasnya agar tidak sesak.
Sementara Siti berdiri di tempatnya dengan perasaan khawatir melihat keadaan suaminya.
__ADS_1
Siti duduk di pinggiran tempat tidur, ia berdoa di dalam hati untuk kesembuhan suaminya.
Adi sudah tidak merasakan sesak lagi, ia membuka kelopak matanya. Menatap Siti yang duduk di hadapannya. “Untuk apa kamu masih di sini, pergi.”
“Apa Mas sudah baik-baik saja?” tanya Siti yang mengkhawatirkan suaminya.
“Sudah, kembalilah ke kamarmu,” titah Adi.
“Aku tidur di sini saja ya Mas, kalau ada apa-apa aku bisa menolong Mas,” pinta Siti. Sebetulnya permintaannya hanya alasan saja. Siti ingin berada satu kamar dengan suaminya.
Adi terdiam memikirkan ucapan Siti. “Tapi kamu tidur di sofa,” putus Adi. Menurutnya tidak akan ada masalah jika satu kamar, toh Adi tidak akan berbuat hal yang tidak-tidak.
Siti tidak masalah tidur di sofa, yang terpenting dia satu langkah lebih dekat dengan suaminya.
“Menyingkir lah, aku ingin istirahat,” ujar Adi.
Siti bangkit dari duduknya, ia membantu Adi untuk merebahkan tubuhnya. Tidak lupa Siti menarik selimut untuk menutupi tubuh Adi.
Setelah memastikan suaminya bisa tidur dengan tenang, Siti berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar Adi. Ia mengambil wudhu lalu kembali berjalan menuju sofa setelah merapikan jilbabnya. Siti duduk di sofa, ia memanjatkan doa sebelum merebahkan tubuhnya di atas sofa dan pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
Sudah satu jam Adi berusaha untuk tidur, namun ada perasaan tidak tenang menyelimutinya. Adi bangkit dari tidurnya, ia duduk dan memperhatikan Siti yang tertidur lelap di sofa dengan tubuh yang meringkuk. Ada perasaan tidak tega menyelimutinya, akhirnya Adi berjalan menghampiri Siti dengan selimut yang ia bawa. Adi menutupi tubuh Siti dengan selimutnya. Ia memperhatikan wajah Siti yang tampak damai dalam tidurnya. Adi tidak mengerti apa yang ada di pikiran Siti, sudah jelas-jelas Adi berselingkuh tapi sikapnya seolah tak ada apa-apa. 'Menarik,' batin Adi. Setelah puas memandangi wajah istrinya Adi kembali ke atas tempat tidur. Mematikan pendingin ruangan lalu berusaha untuk tertidur.