Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Sebelas


__ADS_3

Anggun keluar dari toilet yang ada di ruangan CEO, ia menggenggam erat ponselnya. Mungkin dengan cara ini ia bisa mendapatkan sedikit harta, selama ini ia berhubung dengan Adi dan atasannya tidak peduli anak siapa yang ia kandung. Saat ini ia hanya ingin memanfaatkan momen untuk mendapatkan keuntungan.


Anggun melangkahkan kakinya dengan penuh keyakinan menuju meja kerja atasannya, Barman.


Barman mengeluarkan sebuah amplop dari lacinya, lalu melemparnya ke arah Anggun.


Anggun mengambil amplop tersebut. “Terima Kasih,” ucap Anggun.


“Ini gaji terakhirmu. Aku sudah menemukan wanita yang lebih baik darimu,” ucap Barman dengan nada santainya. Tubuh Anggun terasa membosankan, dan Barman sudah mendapatkan pengganti Anggun lebih cantik dan lebih nikmat.


“Tuan tidak bisa seperti ini, saya sedang mengandung anak Tuan,” jawab Anggun. Ia tidak terima di tendang seperti ini, di saat dirinya hendak melangkah lebih jauh.


“Kau pikir aku akan peduli!” Barman memandang rendah ke arah Anggun. “Tinggalkan kantorku, sekarang kau di pecat dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku atau kau akan kehilangan nyawamu,” ancam Barman.


Dada Anggun turun naik, ia merasa sangat kesal di campakkan oleh Barman. Padahal beberapa menit yang lalu Barman memakai tubuh indah milik Anggun, tapi sekarang pria itu memandang rendah ke arah Anggun.


Anggun keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal, ia gagal mendapatkan harta Barman. Terlebih Anggun tidak berani bermain-main dengan Barman, Anggun masih menyayangi nyawanya.


Anggun masuk ke ruangannya ia melihat wanita yang tampak lebih muda dan memiliki bentuk tubuh yang sangat indah. Anggun mengambil tas, mengemasi barang-barang pribadi miliknya.


Anggun malas berbasa-basi dengan wanita baru Barman, tujuannya kali ini ia harus berhasil membuat Siti pergi dari hidup Adi.


Anggun meninggalkan kantor tanpa berpamitan pada siapa pun. Ia tak memiliki teman akrab di kantor, terlebih pekerjaannya hanya menemani Barman.


Sampai di basemen Anggun membawa mobilnya keluar menuju kediaman baru Adi. Anggun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak berapa lama akhirnya ia sampai di rumah Adi. Anggun masuk ke dalam rumah Adi, ia berjalan menuju kamar Adi. Tanpa perlu mengetuk Anggun masuk begitu saja, ia melihat Adi sedang duduk di sofa sedang memainkan ponselnya.


Anggun duduk di hadapan Adi, ia mengeluarkan surat kehamilannya.

__ADS_1


Adi mengalihkan perhatiannya untuk menatap Anggun. “Kamu tidak jadi bekerja?” tanya Adi.


“Aku hanya mengambil barang-barangku, beberapa hari yang lalu pengajuan surat pengunduran diriku sudah di setujui,” ucap Anggun berbohong.


“Kenapa mengundurkan diri?” tanya Adi. Selama ini ia tidak pernah mendengar keluhan Anggun masalah pekerjaan, tapi tiba-tiba saja mengundurkan diri.


Anggun menyerahkan amplop kepada Adi dan Adi menerimanya lalu membuka amplop tersebut. Adi membaca isi amplop tersebut dan terkejut saat mendapati Anggun tengah mengandung.


“Kenapa kamu baru bilang padaku?” tanya Adi.


Anggun menundukkan kepalanya, “Aku sebenarnya takut dan berpikir untuk menggugurkan anak ini jika mengingat sikap orang tuamu padaku,” tutur Anggun dengan nada sedihnya.


Adi yang mudah merasa iba segera membawa tubuh Anggun ke dalam pelukannya. “Kamu tidak perlu khawatir tentang orang tuaku, biar aku yang mengurusnya. Untuk saat ini kamu hanya perlu fokus pada kehamilanmu.”


Anggun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Adi. Senyuman di wajahnya terukir dengan jelas, setidaknya untuk saat ini ia berada di posisi aman karena Adi mengakui anak yang ada di rahim Anggun. Tapi perjalanan ini masih belum selesai, Anggun harus menghadapi orang tua Adi dan menyingkirkan Siti dari kehidupan Anggun.


Siti menatap keranjang yang di dorong Inem. “Apa ini tidak terlalu banyak Bi? Nanti Mas Adi marah,” ujar Siti.


Inem tersenyum mendengar ucapan majikannya. “ Tidak apa Nona, ini sudah sesuai daftar belanja bulanan.”


Siti berdoa di dalam hatinya semoga Adi tidak marah kepadanya.


Sampai di kasir belanjaannya mulai di hitung, Siti merasakan kecemasan saat nominal belanjaannya melebihi satu juta, sementara di keranjangnya masih terisi belanjaan seperempatnya lagi. “Bi,” panggil Siti dengan nada khawatirnya.


“Tidak perlu cemas Nona,” ucap Inem.


“Total belanjaannya satu juta lima ratus tiga puluh dua ribu lima ratus rupiah,” ucap kasir.

__ADS_1


Siti menelan salivanya dengan susah payah, total belanjaan yang di sebutkan kasir dua bulan gajinya mengajar di taman kanak-kanak.


Inem memberikan kartu debit yang di berikan Galih, khusus untuk belanja kebutuhan sehari-hari.


Selesai membayar mereka kembali mendorong troli menuju tempat parkir. Dan memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi.


Siti membantu Inem memasukkan belanjaan. “Bi ini serius Mas Adi tidak akan marah, kita menghabiskan banyak uangnya.”


“Astaga Nona tidak percaya pada bibi? Tuan tidak akan marah,” ujar Inem dengan sangat yakin, karena ia sudah berpengalaman menjadi asisten rumah tangga meskipun ia baru bekerja satu tahun dengan Adi tapi belanjaannya sudah sesuai dengan kebutuhan yang di berikan Galih. Dan belanjaan bulanan sebelumnya pun memang sebanyak ini.


“Tapi Bi,” ucap Siti masih saja merasa khawatir meskipun Inem terlihat tenang tetapi ia merasa telah banyak menghabiskan uang suaminya.


Inem memasukkan barang terakhir ke dalam bagasi. “Ayo Non kita pulang,” ajak Inem.


Siti mengikuti Inem untuk masuk ke dalam mobil. Sesampainya di rumah kali ini tugas sopir yang membantu menurunkan barang dan membawanya ke dapur. Siti duduk di pantry dan menikmati segelas air putih.


Anggun sengaja menghampiri Siti, ia duduk di samping Siti.


Sementara Siti menghabiskan air di dalam gelasnya terlebih dahulu sebelum melirik Anggun yang ada di sampingnya. “Ada apa lagi?” Tanya Siti, tangannya menaruh gelas ke atas meja.


Anggun mengeluarkan hasil pemeriksaan kehamilannya dan menunjukkannya pada Siti. “Kamu harus melihat ini,” ujar Anggun dengan senyuman bangga.


Siti melihat surat pemeriksaan, tertera di sana bahwa Anggun sedang mengandung. Dan kandungannya memasuki usia delapan Minggu.


Siti menahan rasa sesak di dadanya, tidak menyangka di ketiga hari pernikahannya ia mendapat kenyataan pahit jika Anggun tengah hamil anak dari suaminya.


“Aku ingin kamu merelakan Adi, bagaimana pun anak yang di kandungku berhak mendapatkan kebahagiaan bersama ayah kandungnya,” ungkap Anggun.

__ADS_1


__ADS_2