Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai

Pernikahan Impian: Istri Yang Layak Di Cintai
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Tangannya menarik dagu Siti, hingga kini Adi melihat jelas wajah istrinya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya hingga bibir mereka menempel.


Adi segera menarik diri, ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Dia sendiri pun tidak menyangka akan melakukan hal seperti barusan, meskipun Siti istrinya dan ia berhak atasnya. Namun Adi tidak ingin kejadian seperti barusan terulang lagi, apalagi mengingat Anggun sedang mengandung anaknya. Adi meyakinkan diri untuk tidak terlalu dekat pada Siti.


Siti mematung di tempatnya dengan pipi yang bersemu merah. “Alhamdulillah,” ucap Siti penuh rasa syukur. Ia tidak menyangka Allah mengabulkan doanya secepat ini.


Siti merasa sangat gembira meskipun hanya sekadar menempelkan bibir, tapi ini kemajuan yang luar biasa bagi Siti. Ia hanya perlu berusaha sedikit lagi, namun wajah Siti kembali datar kala mengingat Anggun yang tengah mengandung anak Adi. Siti menghembuskan nafasnya, ia meyakinkan dirinya bahwa bukan ia yang berhak menentukan masa depan. Ia hanya perlu menjalani hidupnya sebaik mungkin, biar maha pencipta yang mengatur segalanya. Siti ikhlas apa pun yang akan terjadi di pernikahannya, semua hanya masalah waktu.


Siti merebahkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia berdoa dan pergi ke alam mimpi. Sementara Adi duduk termenung di tempat ruang tamu yang kosong tanpa kursi, seperti saat ia datang ke rumah ini untuk melamar Siti.


Adi merogoh ponselnya yang bergetar, ada panggilan masuk dari Anggun. Ia segera menerima panggilan tersebut.


[Sayang]


“Iya ada apa?” jawab Adi.


[Aku rindu]


Dari suaranya Adi mendengar nada manjanya Anggun. “Benarkah?”


[Kapan pulang, kenapa lama sekali? Aku sudah tidak sabar tinggal bersamamu.]


“Aku menemani Siti di sini satu Minggu,” jawab Adi.


[Kenapa lama sekali]


Rengekan Anggun terdengar menggelikan bagi Adi, tanpa sadar bibir Adi tersenyum.


Devi yang hendak ke kamar mandi mendengar seseorang berbicara di depan merasa penasaran. Ia terdiam untuk mendengarkan percakapan yang sepertinya menantunya yang sedang berbicara.


“Iya kamu sabar saja, setelah itu kita bisa menghabiskan waktu bersama,” jawab Adi berusaha menghibur kekasihnya.


Dada Devi rasanya di remas oleh sesuatu yang tak kasat mata, amat sakit mendengar ucapan menantunya. Ia sangat yakin betul bahwa ada yang tidak Devi ketahui tentang pernikahan putrinya.

__ADS_1


[Tapi tidak mau hanya di rumah, aku ingin pergi berlibur]


“Iya kita akan berlibur bersama. Aku akan meminta Galih untuk mengurus liburan kita,” jawab Adi cepat.


Devi memegangi dadanya, tanpa sadar air matanya mengalir. Ia kehilangan suaminya amat sangat menyakitkan, di tambah ia harus mengetahui fakta bahwa pernikahan anak semata wayangnya tidak baik-baik saja. Devi melangkah ke kamar mandi, mengambil wudhu untuk menghadap sang penciptanya. Mencurahkan semua keresahan dan gundah di hatinya.


“Lanjut besok ya,” ucap Adi pada Anggun saat mendengar gemercik air dari belakang.


[Oke, bye-bye sayang.]


Adi menutup teleponnya dan membuka pintu kamarnya bersama Siti dengan perlahan. Ternyata Siti masih ada di tempat tidur dengan tubuh terlentang, Adi mendekat dan melihat wajah Siti yang terlelap. Adi merasa sedikit resah, ia takut perbincangan dirinya dengan Anggun di dengar oleh ibunya Siti.


Adi berpikir Sejenak, hingga dirinya merasa bodoh harus mengkhawatirkan yang seharusnya membukakan jalan untuknya berpisah dengan Siti. Jika ibunya tahu beliau tidak mungkin diam saja membiarkan anaknya di sakiti. Terlebih mertua mana yang akan tega membiarkan suami anaknya sampai menghamili wanita lain. Akhirnya Adi bisa tidur dengan perasaan lega, ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Siti. Tempat tidur yang sempit ini membuat mereka tak bisa memberikan jarak.


Siti bangun pagi seperti biasanya, ia merasakan rasa hangat di tangannya. Siti melirik bagian tangannya, ternyata di atas tangan miliknya ada tangan Adi. Bibir Siti membentuk senyuman, ia senang meskipun tahu jika hal tersebut hanya tidak sengaja, namun sangat membahagiakan bagi Siti bisa bersentuhan dengan suaminya setelah kemarin mereka berci’uman.


Siti bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap ke arah suaminya. “Mas bangun,” ujar Siti seraya menepuk bahu Adi.


“Hmmmmm.”


“Ada apa? Kamu mengganggu tidurku,” protes Adi. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Siti.


“Antar Siti ke pasar, kita harus belanja beberapa makanan untuk mas makan serta berbelanja menyiapkan makanan untuk acara tahlil malam ini,” ujar Siti menjelaskan.


Adi melirik jam yang melingkar di tangannya. “Ini baru pukul empat Siti,” protes Adi.


“Iya betul Mas, kita shalat subuh dulu. Setelah itu pergi ke pasar,” jawab Siti.


Adi menutup kembali matanya. “Belum adzan, nanti saja bangunnya.”


“Maaaas,” panggil Siti lagi.


Adi tidak menggubris ucapan Siti dan tetap menutup matanya. Ia masih memiliki waktu setengah jam untuk kembali tidur.

__ADS_1


“Bangun Mas.” Siti menggoyangkan pinggang Adi agar suaminya bangun.


Adi yang terganggu akhirnya membuka matanya, “Kenapa kamu sekarang berani menyentuh tubuhku?” Tanya Adi dengan nada ketusnya.


“Kan Mas lebih dulu yang kemarin menc’iumku, itu artinya aku juga boleh menyentuh Mas,” jawab Siti tanpa malu-malu lagi.


“Aku tidak sengaja, tubuhku terlalu lelah menyetir hingga lemas dan menabrak bibirmu,” jawab Adi beralasan.


“Kalau begitu, sering-seringlah saja mas lelah menyetir. Aku tidak masalah jika Mas menabrak bibirku sering-sering,” jawab Siti tanpa rasa malu dengan bibir yang tersenyum ke arah suaminya.


Adi segera menutup matanya kembali dan memunggungi tubuh Siti. “Pergi ke pasar sendiri, aku ingin tidur saja.”


“Masa mas tega biarkan aku pergi sendiri ke pasar,” ujar Siti.


“Iya pergi sendiri saja, uangnya ada di dompetku,” jawab Adi.


Siti akhirnya memilih mengalah, ia keluar dari kamar menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Saat adzan berkumandang Siti melaksanakan shalat dahulu. Lalu pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuknya dan sang ibu.


Selesai membuat sarapan Siti kembali ke kamar, ia mencoba kembali untuk membangunkan suaminya. “Mas bangun, waktu subuhnya sudah mulai habis,” ucap Siti.


Adi menggeliat kan tubuhnya yang terasa ngilu, ia membuka matanya langsung bertatapan dengan istrinya. Adi melihat hal yang berbeda kali ini, bibir Siti lebih merona dari biasanya. Belum lagi parfum murahannya tercium sampai ke hidung Adi. “Kamu mau ke mana?” Tanya Adi sedikit ketus, tidak biasanya Siti rapi dan berias.


“Mas lupa? Siti kan tadi bilang mau ke pasar,” jawab Siti.


“Sama siapa?”


Kening Siti berkerut tidak biasanya Adi posesif seperti ini. “Tadi Mas bilang tidak mau antar, ya Siti naik ojek saja.”


“Jauh tidak?” tanya Adi lagi, kalau jauh ia sangat malas untuk menyetir.


“Satu kilometer saja. Mas berubah pikiran, mau antar Siti?”


“Tunggu sebentar Mas mandi dulu,” ujar Adi. Ia mengambil handuk dari koper dan pergi keluar dari kamar.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” ucap Siti penuh syukur. Ia tidak menyangka dengan perubahan Adi yang sangat luar biasa bagi Siti. Ia berharap Adi dapat melihatnya dan serius dengan pernikahan yang mereka jalani.


__ADS_2