
🍁 Happy Reading 🍁
Rumah orangtua Dhea.
Kemaren, pengacara Erick sudah berhasil menangguhkan penahanan Ayah Dhea dan menyerang balik perusahaan Ayah Dhea bekerja dengan melaporkan perusahaan itu dengan tuntutan pencemaran nama baik karena sudah memfitnah Ayah Dhea sebagai koruptor.
Polisi pun menerima penangguhan penahanan yang di ajukan pengacara Erick, meski Ayah Dhea harus tetap wajib lapor.
Setelah mengeluarkan Ayah Dhea dari balik jeruji, sekarang tinggal mencari bukti kalau Ayah Dhea hanya lah korban fitnah perusahaan tempat-nya bekerja.
Hutang-hutang orangtua Dhea juga sudah di lunasi, sertifikat rumah pun kembali, orangtua Dhea tak perlu lagi memikirkan hutang-hutang mereka yang tak habis-habis karena mereka meminjam uang ke rentenir.
Namun di balik bebas-nya Ayah Dhea dan hutang-hutang yang lunas, orangtua menyimpan seribu satu pertanyaan dalam hati mereka yang sampai saat ini belum sempat mereka tanyakan pada Dhea.
Ruang makan.
Kini keluarga kecil itu sudah berada di ruang makan. Dengan menu sarapan seadanya yang dimasak oleh Dhea, nasi goreng kampung dengan telor ceplok, mereka pun mulai mengisi perut mereka.
Ibu Dini dan Ayah Doddy, kedua orangtua Dhea saling lirik, lirikan mereka mengisyaratkan agar salah satu dari mereka menanyakan pada Dhea asal muasal uang yang di pakai Dhea melunasi hutang-hutang mereka dan uang untuk menyewa pengacara. Karena Ayah Dody tahu menyewa pengacara tidak lah murah.
"Ekhem.. Dhe.." Ayah Doddy pun memutuskan dirinya lah yang bertanya.
"Iya Yah." Jawab Dhea.
"Ayah boleh tahu gak, kamu dapet uang darimana untuk ngelunasin hutang-hutang Ayah dan nyewa pengacara?"
Dhea menghela nafasnya.
__ADS_1
Sebenarnya dari kemaren Dhea ingin memberitahu pada kedua orangtuanya tentang kontrak pernikahannya dengan Dave, tapi mengingat kondisi jantung Ibu-nya yang tidak baik-baik saja karena sudah di pasang ring, mau tidak mau Dhea harus menunda memberitahu sampai dirinya mempunyai kalimat yang tepat untuk memberitahu tentang kontrak pernikahannya dengan Dave.
Tapi karena Ayah-nya sudah bertanya, mau tidak mau Dhea harus memberitahu tentang pernikahannya dengan Dave yang akan di langsung kan besok.
"Ayah, Ibu, sebenarnya ada yang-"
Tok..
Tok..
Tok..
Tiba-tiba saja suara pintu rumah terketuk.
"Siapa yang datang pagi-pagi?" Lirih Ibu Dini.
Ceklek.
Tiga orang pria bertubuh besar langsung menyambut Ibu Dini begitu ia membuka pintu.
"Maaf, cari siapa yah?" Tanya Ibu Dini. Tidak ada lagi rasa takut dalam dirinya saat melihat orang-orang yang bertubuh besar karena mereka sudah tidak punya hutang lagi.
Kalau bukan penagih hutang, lalu mereka itu siapa?
"Siapa Bu?" Belum juga tiga pria itu memberitahu siapa diri mereka, tiba-tiba dari arah belakang, Dhea muncul menyusul Ibu-nya.
"Kami ingin mengantarkan hantaran untuk orangtua dari Nona Dhea." Jawab salah satu pria bertubuh besar itu.
__ADS_1
"Hah... Hantaran apa maksudnya?" Tanya Ibu Dhea.
Sedangkan Dhea hanya menganga karena tahu kalau itu pasti dari Dave.
Bukannya dalam perjanjian tidak ada hantaran, kenapa Tuan Dave mengantar hantaran?
Gumam Dhea dalam hati.
"Katanya hantaran untuk melamar Nona Dhea." Jawab salah satu pria.
Ibu Dhea menoleh ke arah Dhea.
"Ini maksudnya apa Dhe, Ibu gak ngerti." Tanya Ibu Dhea.
Saat Ibu Dhea masih bingung dengan yang di katakan pria itu, tiba-tiba saja ponsel salah satu pria berdering.
Si pemilik ponsel yang berdering itu pun merogoh saku celana-nya untuk mengambil ponselnya.
"Panjang umur, ini dia yang menyuruh kami mengantarkan barang-barang hantaran." Kata pria si pemilik ponsel saat melihat nama Dave di layar ponselnya.
🍁🍁🍁
Bersambung...
...Jangan lupa FAV dan dukung novel terbaru Miss ini dengan memberikan LIKE, HADIAH dan VOTE....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1