
🍁 Happy Reading 🍁
Pesanan Dave pun datang, dua porsi ukuran besar yang hanya berisi daging.
Melihat daging itu datang, dengan sigap Dhea ingin meng-grill daging-daging itu. Namun baru memegang capitan, Dave langsung mengambil paksa capitan yang baru di pegang Dhea.
"Makan lah, biar aku saja yang memasak." Ucap Dave.
Mata Dhea kembali membulat.
"Sudah sana makan!" Kata Dave lagi.
Mau tak mau Dhea pun makan lebih dulu dan membiarkan Dave memasak.
Sambil membolak-balikkan daging, Dave sesekali memperhatikan Dhea yang sedang makan. Dhea makan sangat lahap membuat Dave tanpa sadar mengulas senyumnya. Ia terlihat puas melihat Dhea makan dengan sangat lahap.
Dan senyum Dave itu terlihat oleh Alfred.
Tak ingin melewatkan momen langka itu, cepat-cepat Alfred mengambil ponselnya lalu merekam Dave yang sedang tersenyum sambil memperhatikan Dhea.
Alfred menyandarkan ponselnya di botol air minum kemasan dan membiarkan kamera ponselnya menyala dan tetap merekam video. Ia berniat ingin mengirimkan video itu pada Nyonya Dominique.
Nyonya Dominique harus melihat senyum Dave yang sangat natural itu, apalagi Dave tersenyum sambil melihat Dhea.
Irisan daging yang Dave masukkan itu pun matang. Dave terlebih dulu memberikan beberapa irisan daging ke bowl nasi Dhea.
"Makan lah daging ini sepuas mu, karena setelah ini kamu tidak akan memakan daging lagi sampai waktu yang aku tentukan." Ucap Dave seraya menaruh beberapa irisan daging ke bowl nasi Dhea.
Setelah itu barulah Dave memasukkan beberapa irisan daging ke bowl nasinya, lalu kembali memasukkan beberapa irisan daging ke grill pan. Sambil menunggu irisan-irisan daging itu matang, Dave pun sambil menyantap nasi dan dagingnya. Tak lupa ia balut irisan daging itu dengan selada.
Saat hendak memasukkan irisan daging yang sudah di balut dengan selada, Dave teringat kalau sejak tadi Dhea sama sekali tidak memakan sayur. Padahal di meja itu ada dua piring khusus untuk sayur, ada jagung, wortel, yang sudah di rebus dan selada.
"Hei.." Dave memanggil Dhea.
__ADS_1
Dengan pipi yang menggelembung Dhea menoleh ke arah Dave.
"Buka mulut mu!" Perintah Dave.
Dhea membulatkan matanya seolah menanyakan pada Dave untuk apa Dave menyuruhnya membuka mulut.
"Cepat buka mulut mu!" Perintah Dave sekali lagi.
Meski tidak mengerti untuk apa Dave memintanya membuka mulut, Dhea pun cepat-cepat mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya lalu menelannya, setelah itu barulah ia membuka mulutnya.
Setelah Dhea membuka mulutnya, cepat-cepat Dave masukkan irisan daging yang sudah di balut dengan sayur ke mulut Dhea lalu menutup mulut Dhea dengan paksa.
"Kunyah! Jangan hanya makan dagingnya saja. Sayurnya juga harus kamu makan!" Perintah Dave.
Mau tak mau Dhea mengunyah irisan daging yang sudah di balut dengan selada itu dengan kesal.
Dasar pemaksa!! Tetap saja harus ada sayur! Kalau begini terus, lama-lama aku phobia sayur!
Gerutu Dhea dalam hati.
Mereka terus memuji Dave yang act cool atau bertindak keren tanpa disuruh oleh pasangannya, atau bertanya pada pasangannya apa yang harus Dave lakukan, Dave langsung melakukannya.
Sama dengan teman-teman Dhea, Alfred dan Paman Axel juga merasa apa yang di lakukan Dave pada Dhea sangat lah menakjubkan. Dhea satu-satunya wanita yang mereka lihat mendapat perlakuan khusus dari Dave, ya walaupun caranya agak sedikit kasar.
🍁🍁🍁
Makan siang pun selesai.
Mode sombong Dave diaktifkan.
Dave pun mengeluarkan kartu hitam-nya dari dalam dompet.
"Woaaah..." Teman-teman Dhea tercengang saat Dave mengeluarkan kartu hitam-nya.
__ADS_1
"Apalah dayaku yang hanya punya KTP, kartu BPJS dan kartu MRT." Celetuk Reyhan.
"Adapun kartu ATM, hanya waktu gajian saja baru terpakai, seminggu setelahnya hanya jadi pajangan saja di dompet." Timpal Adam.
Dan di balas dengan anggukkan kepala oleh teman-teman Dhea yang lain tanda kalau mereka sepakat dengan celetukan Reyhan dan Adam.
Kembali ke meja Dave dan Dhea.
"Ini, mulai sekarang peganglah kartu ini. Jadi kamu bisa setiap hari mentraktir teman-teman mu makan siang." Ucap Dave dengan suara yang sengaja ia sedikit kencangkan agar teman-teman Dhea mendengar.
Jelas saja mendengar itu teman-teman Dhea senyum-senyum kesenangan, karena setiap hari mereka akan makan siang gratis.
"Dan satu lagi, kalau perlu makan siang di restoran daging kualitas tinggi, jangan di restoran daging berkualitas rendah seperti ini." Kata Dave lagi.
"Tidak perlu Sayang, ini terlalu berlebihan." Ucap Dhea tak enak hati.
Bukan tidak enak hati, lebih tepatnya perasaan Dhea yang tidak enak karena Dave tiba-tiba bersikap baik padanya.
"Tidak pa-pa, pakai saja. Aku masih punya banyak kartu seperti itu dalam dompet ku." Balas Dave lalu kembali membuka dompetnya dan mengeluarkan dua kartu hitam dan kartu gold dari dua bank yang berbeda, satu bank dalam negri dan satu bank luar negri.
"Woaaaah..." Makin tercengang saja teman-teman Dhea. Jiwa miskin mereka meronta-ronta. Bahkan teman-teman Dhea yang perempuan jadi ingin mengganti profesi mereka menjadi pelakor gara-gara melihat kartu sakti yang keluar dari dompet Dave.
"Lihatlah, banyak kan." Kata Dave dengan sombongnya.
"Jadi bukan masalah besar untuk ku jika kamu memakai satu kartu hitam ku. Kalau perlu kamu habiskan saja limit bulanannya, aku tidak masalah. Karena selama ini aku bingung uang ku tidak pernah habis-habis." Kata Dave lagi.
Dhea tercengang dengan kata-kata Dave. Bukan tercengang dengan harta Dave tapi tercengang dengan kata-kata Dave yang sangat sombong.
Si gila ini, benar-benar tidak memikirkan perasaan rakyat jelata seperti kami kalau sedang bicara!
Gerutu Dhea dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung...