
🍁 Happy Reading 🍁
Kini Dhea dan Dave sudah berada di dalam unit kamar Dave.
Layaknya tamu, begitulah Dave memperlakukan Dhea. Ia menutup pintu ruang tidurnya dan hanya menyuruh Dhea duduk di ruang tamu. Padahal kalau laki-laki tangguh lainnya, sudah pasti akan membuka lebar pintu ruang tidur dan langsung melempar pengantin wanita-nya ke atas ranjang.
"Ekhem.." Dave berdehem.
"Ekhem.." Dhea juga ikut berdehem.
Mereka berdua sama-sama gugup.
Maklum saja, ini pertama kalinya Dave mengajak wanita masuk ke dalam kamar yang sangat privasi miliknya itu. Dan Dhea, ini juga pertama kalinya berduaan dengan laki-laki di dalam kamar hotel.
"Mmm.. Tuan." Panggil Dhea dengan suara yang pelan.
"Iya, kenapa?" Balas Dave.
"Apa boleh saya meminjam toilet? Saya sudah tidak tahan ingin buang air kecil." Ucap Dhea.
"Tidak bisa! Aku tidak bisa meminjamkannya pada mu! Karena toiletnya tidak bisa di bawa keluar dari kamar mandi!" Jawab Dave.
Jawaban bodoh macam apa itu!!
Umpat Dhea dalam hati sambil mengernyitkan keningnya.
Dhea menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia mencoba mengisi tabung kesabarannya menghadapi laki-laki keras kepala yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Maksud saya meminjam itu, bukan berarti toiletnya di bawa keluar Tuan, tapi saya yang masuk ke dalam kamar mandi dan memakai toilet yang ada di kamar mandi itu." Ucap Dhea.
"Kamu pikir aku orang bodoh, tidak tahu artinya!" Dave malah tersinggung.
"Haish!!" Geram Dhea.
BRAAAK. Lalu menggebrak meja.
"Saya hanya ingin buang air kecil Tuan! Kenapa Anda mempersulit saya!! Anda hanya perlu menunjukkan dimana kamar mandi-nya, bukan malah menjawab berputar-putar!!" Bentak Dhea.
Mata Dave membulat lebar, mulutnya juga menganga melihat Dhea membentaknya.
"Saya mohon Tuan, saya sudah tidak tahan. Saya ingin buang air kecil." Jika tadi Dhea berteriak dengan suara lantang, sekarang Dhea merengek bagai anak kecil yang minta ikut Ibu-nya kepasar sambil melipat kedua kakinya untuk menahan air seni yang sudah di ujung tanduk.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Dave pun berdiri dari tempat duduknya lalu membuka lebar pintu geser penyekat ruang tidur dan ruang tamu.
"Disana ka-" belum juga selesai Dave bicara, Dhea sudah berlari menuju kamar mandi yang di tunjuk Dave.
Dave pun berjalan menuju ranjangnya sambil membuka jas-nya lalu duduk di tepi ranjang menunggu Dhea keluar dari dalam kamar mandi.
Tak sampai lima menit, Dhea pun keluar dari dalam kamar mandi.
Betapa kagetnya Dhea saat melihat Dave duduk di tepi ranjang dengan tatapan tajam padanya.
Apa Tuan Dave ingin meminta hak-nya sekarang? Makanya sekarang dia duduk di ranjang?
Gumam Dhea dalam hati.
__ADS_1
"Kamu tidak lupa menyiram-nya kan? Lalu pinggiran dudukan toiletnya sudah kamu gosok?" Tanya Dave masih dengan sorot mata yang mengintimidasi.
Haish!! Seperti aku membawa virus saja!
Geram Dhea dalam hati.
"Sudah Tuan." Jawab Dhea dengan sabar.
Dhea pun berjalan mendekati Dave.
"Ekhem.. Tuan.." ucap Dhea setelah dirinya berdiri tepat di depan Dave.
"Apalagi sekarang yang ingin kamu pinjam?" Tanya Dave.
"Bukan Tuan. Saya tidak ingin meminjam apa-apa lagi." Jawab Dhea.
"Mmm.. tapi saya ingin mengatakan.." Dhea nampak ragu mengatakannya.
"Apa? Cepat katakan! Jangan membuat ku penasaran!"
"Saya sedang datang bulan Tuan, jadi maaf hari ini dan sampai tiga atau empat hari kedepannya saya belum bisa memberikan hak Anda sebagai suami." Ucap Dhea dalam satu tarikan nafas seperti seorang rapper seraya menundukkan kepalanya. Dhea tidak berani menatap mata Dave saat mengatakan itu.
Apakah Dave kecewa? Jelas tidak. Ia malah sedikit lega karena dirinya juga belum siap untuk melakukan hubungan suami-istri dengan Dhea.
🍁🍁🍁
Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa FAV dan dukung novel terbaru Miss ini dengan memberikan LIKE, HADIAH dan VOTE....
...🙏🙏🙏...